Bekerja 1 Jam Seminggu Bukan Pengangguran: Selamat, Kita Semua Sudah 'Sukses' Menurut Standar ILO
![]() |
| angka pengangguran bps |
BPS menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena data ketenagakerjaan bersifat sangat dinamis. Seseorang yang terkena PHK tidak otomatis langsung terhitung sebagai pengangguran dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang digelar berkala. Ada kemungkinan korban PHK langsung mendapatkan pekerjaan baru, membuka usaha, atau beralih profesi.
Berdasarkan standar Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang diadopsi BPS, penduduk dikategorikan "bekerja" jika melakukan aktivitas ekonomi minimal satu jam dalam seminggu. Oleh karena itu, pekerja yang di-PHK namun bertahan hidup dengan cara membantu usaha keluarga atau berjualan daring dalam durasi singkat, tetap akan dicatat sebagai penduduk bekerja, bukan pengangguran.
Realita Semu di Balik Penurunan Angka
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai klaim penurunan pengangguran ini tampak semu jika tidak dibaca bersamaan dengan postur kualitas lapangan kerja yang tersedia. Dalam laporan bertajuk Daya Beli di Persimpangan: Antara Inflasi, Upah, dan Tekanan Rumah Tangga (Oktober 2026), INDEF menyoroti bahwa penurunan TPT tidak linear dengan peningkatan kesejahteraan.
Faktanya, mayoritas masyarakat yang bekerja justru terlempar ke sektor informal. Data menunjukkan hampir 6 dari 10 penduduk bekerja atau sekitar 59,30 persen (setara 85,35 juta orang) masih menggantungkan hidup di sektor informal yang minim kepastian pendapatan serta perlindungan sosial. Sebaliknya, porsi pekerja formal (buruh, karyawan, pegawai) justru belum pulih kuat dan hanya mencakup sekitar 40,70 persen. Artinya, penurunan pengangguran ini lebih banyak didorong oleh pergeseran korban PHK ke sektor informal demi bertahan hidup, bukan karena melimpahnya lapangan kerja berkualitas.
Tantangan Pengangguran Muda dan Langkah Mitigasi
Selain dominasi sektor informal, pekerjaan rumah terbesar ketenagakerjaan nasional berada pada kelompok generasi muda. Tingkat pengangguran muda saat ini masih sangat tinggi, mencapai 16,8 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 20,31 persen kaum muda masuk ke dalam kategori Not in Employment, Education, or Training (NEET)—artinya mereka sedang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak pula mengikuti pelatihan.
Merespons jepitan badai PHK, dominasi pekerja informal, dan pengangguran muda ini, pemerintah bersama pengusaha, asosiasi pekerja, dan ILO meluncurkan Decent Work Country Programme (DWCP) Indonesia 2026–2030. Program strategis lima tahun ini dirancang untuk mendongkrak kualitas kerja melalui dialog sosial, penciptaan lapangan kerja produktif yang inklusif, serta perluasan perlindungan sosial universal.
Melalui program ini, tenaga kerja nasional disiapkan agar lebih adaptif menghadapi tantangan masa depan, seperti adopsi kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, ekonomi hijau, hingga perubahan rantai pasok global. Di samping itu, program ini juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi perawatan (care economy) yang diproyeksikan mampu membuka hingga 10,4 juta lapangan kerja baru pada tahun 2035. Langkah mitigasi ini diharapkan mampu mengubah arah ketenagakerjaan Indonesia, agar pertumbuhan ekonomi tidak sekadar menurunkan angka pengangguran di atas kertas, tetapi juga benar-benar menghadirkan kepastian kerja dan kesejahteraan yang nyata bagi para pekerja.
sumber bacaan: cnbc-indonesia, idn-times, warta-ekonomi






