Bertahan di Tengah Badai Ekonomi: Kisah Warga Menjaga Arus Kas Tetap Aman
![]() |
| bertahan hidup |
Fenomena ini bukan sekadar angka statistik makroekonomi, melainkan realitas pahit yang dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah. Dwiki Corniju (36), seorang warga Solo, Jawa Tengah, mengaku harus mengambil langkah ekstrem dengan memangkas habis hobi memancing dan agenda nongkrongnya. Langkah ini terpaksa diambil demi menjaga agar pengeluaran rumah tangganya tidak melebihi pendapatan.
Sebagai pemilik toko optik, Dwiki mengeluhkan omzet penjualan kacamatanya yang merosot tajam hingga 50 persen akibat lesunya daya beli. Penurunan pendapatan yang drastis ini membuat kondisi finansial keluarganya berada dalam tekanan yang jauh lebih berat dari biasanya.
Nasib serupa juga menggelayuti Paijan (48), seorang pedagang bakso dan mi ayam di wilayah yang sama. Ia kini terjepit fenomena scissors effect: di satu sisi harga bahan baku utama seperti daging dan kemasan plastik melonjak naik, namun di sisi lain volume penjualannya justru anjlok setengahnya.
Akibat ketimpangan ini, Paijan mengaku harus nombok hingga Rp2 juta dalam seminggu hanya untuk mempertahankan operasional usahanya. Guna menyiasati kondisi tersebut, ia merombak total kebiasaan makannya demi menekan pengeluaran. "Sekarang saya hindari pemborosan. Tadinya kalau makan bisa beli soto atau ayam goreng di luar, sekarang makan dagangan sendiri saja," ujar Paijan, getir namun diiringi tawa pasrah.
Panduan Finansial Taktis dari Kementerian Keuangan
Menghadapi kondisi ekonomi global dan nasional yang terus fluktuatif, masyarakat—terutama para pekerja berpenghasilan tetap—dituntut untuk merombak total strategi finansial mereka. Menentukan skala prioritas secara bijak adalah kunci utama agar tidak terjebak dalam krisis keuangan yang lebih dalam.
Sebagai langkah mitigasi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan 5 tips taktis untuk mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu:
- Pastikan Dana Darurat Aman: Likuiditas adalah raja di masa krisis. Pastikan ketersediaan dana cair yang cukup untuk mengantisipasi risiko kehilangan pendapatan atau kebutuhan mendesak yang datang tiba-tiba.
- Jaga Kesehatan dan Optimalkan Asuransi: Jaga kesehatan fisik dan pastikan diri serta keluarga terlindungi oleh asuransi dasar (seperti BPJS Kesehatan) agar aset tabungan tidak habis tergerus biaya pengobatan rumah sakit.
- Hindari Menambah Utang Baru: Jangan pernah menggunakan utang konsumtif, seperti pinjaman online (pinjol) atau paylater, untuk menutup celah pengeluaran harian. Hal ini hanya akan memperburuk struktur arus kas di bulan berikutnya.
- Cek Kembali Biaya Langganan Bulanan: Lakukan audit pengeluaran minor secara berkala. Matikan biaya langganan aplikasi streaming, musik, atau platform digital lainnya yang sudah jarang digunakan.
- Tingkatkan Tabungan dan Pilih Investasi Aman: Alihkan sebagian dana ke instrumen investasi yang aman, minim risiko, dan mudah dicairkan, seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau Reksa Dana Pasar Uang (RDPU).
Di tengah situasi yang serba tidak pasti, disiplin keuangan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup. Melalui pemangkasan ego kelompok sekunder dan penentuan prioritas yang ketat, pengeluaran rutin bulanan diharapkan tetap terjaga, sekaligus memastikan target finansial jangka panjang tidak kandas di tengah jalan.
sumber bacaan: bbc, cnnindonesia-video, kemenkeu






