10 October 2026

Uji Coba MBG: Dari Kotak ke Prasmanan


 

mBG
mbg prasmanan

Sebuah tradisi baru sedang diuji di ruang-ruang kelas. Badan Gizi Nasional (BGN) mulai mengubah haluan dalam mendistribusikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wadah makanan siap saji yang jamak memicu persoalan kini mulai digantikan oleh deretan wadah prasmanan di atas meja sekolah. Bukan tanpa alasan, manuver ini adalah instruksi langsung dari BGN demi memotong risiko keracunan makanan yang belakangan menghantui. Lewat sistem ini, makanan dipastikan tiba dan disantap dalam kondisi hangat di bawah pelototan ahli gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Di SMP Krista Gracia Klaten Tengah, Jawa Tengah, misalnya, suasana makan siang berubah menjadi laboratorium mini kedisiplinan. Sebelum siswa diperbolehkan mengambil nasi, petugas SPPG Tonggalan lebih dulu menyorotkan termometer untuk mengecek suhu makanan. Siswa yang mendapat giliran piket tampak sibuk melayani rekan-rekannya dengan perlengkapan standar: celemek, penutup kepala, dan masker. Pola serupa juga menjalar ke Jawa Barat, tepatnya di MTs Negeri 4 Garut yang disuplai oleh SPPG Cibunar 1. Di sana, para siswa mengacungkan jempol karena hidangan terasa jauh lebih segar.

Bergeser ke Kulon Progo, Yogyakarta, Kamis pekan lalu, giliran para murid di SD Muhammadiyah Bantar Sentolo yang mencicipi skema baru ini. Didampingi SPPG Polda DIY Sentolo, anak-anak sekolah dasar ini dilatih mengantre dan melayani sesama teman. Targetnya ganda: menguji efektivitas suhu makanan sekaligus memangkas sisa makanan (food waste) yang terbuang sia-sia. Sementara itu di Kota Bogor, uji coba serupa menyasar 110 siswa kelas 5 dan 6 di SDN Cibalagung 05 guna memastikan aspek rasa dan keamanan pangan tidak kedodoran.

Bagi sekolah, sistem ini membawa angin segar yang melampaui urusan perut. Karena siswa dibebaskan mengambil takaran sendiri, piring-piring makanan kini kembali dalam keadaan bersih tanpa sisa makanan yang mubazir. Lebih dari itu, ruang kelas mendadak bertransformasi menjadi ruang simulasi karakter—tempat di mana anak-anak belajar mengantre, menjaga kebersihan, dan berbagi peran sejak dini.

sumber bacaan: kompastv, antara-jogya, antara-bogor

09 October 2026

Warga Usia 15 Tahun ke Atas RI 11,35% Tak Punya Ijazah


 

tid
tanpa ijazah

Badan Pusat Statistik (BPS) RI merilis laporan Statistik Kesejahteraan Rakyat 2026 pada Senin, 5 Oktober 2026 lalu.. Publikasi tahunan yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026 ini memotret kondisi sosial dan ekonomi masyarakat melalui lima indikator utama, yaitu kependudukan, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, serta taraf hidup dan perumahan.

Salah satu sorotan tajam dalam indikator pendidikan adalah aspek jenjang pendidikan terakhir. Data menunjukkan bahwa masih ada 11,35% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang tidak memiliki ijazah pendidikan formal apa pun.

Kesenjangan Lebar Antarwilayah
Angka ini menyembunyikan ketimpangan yang sangat tajam antar-provinsi. Wilayah luar Pulau Jawa, khususnya Pulau Papua, mendominasi persentase penduduk tanpa ijazah tertinggi. Tiga posisi teratas ditempati; Papua Pegunungan: 52,37%, Papua Tengah: 36,48% dan Papua Selatan: 20,86%. Kondisi ini sangat kontras dengan DKI Jakarta yang mencatatkan persentase terkecil secara nasional, yaitu hanya sebesar 2,76%.

Prestasi Siswa Papua
Kesenjangan ekstrem antara DKI Jakarta (teratas) dan wilayah Papua (terbawah) dipicu oleh tantangan struktural yang belum merata, bukan karena perbedaan potensi intelektual anak daerah. Kenyataannya, jika diberi pembinaan yang tepat, talenta muda Papua terbukti mampu bersaing di panggung global. Banyak pelajar asal sekolah Papua berhasil mewakili Indonesia dan menyabet medali emas di berbagai ajang bergengsi, mulai dari Olimpiade Fisika Internasional, Olimpiade Koding Dunia di Korea Selatan, hingga kompetisi matematika dan sains tingkat dunia lainnya.

Di bumi Papua didukung oleh kehadiran industri strategis skala besar—seperti sektor pertambangan PT Freeport Indonesia di Mimika maupun industri migas di Teluk Bintuni—yang secara nyata membangun wilayah kerja eksklusif dengan fasilitas pendidikan kelas dunia. Keberadaan sekolah-sekolah intercultural modern seperti Mt. Zaagkam School dan sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) di Tembagapura dan Kuala Kencana menjadi bukti bahwa standar pendidikan tertinggi di Indonesia sebenarnya eksis di tanah Papua. Selain itu, jika dibandingkan dengan rata-rata keluarga di Pulau Jawa, keluarga di Papua secara reguler disokong oleh instrumen anggaran pendidikan (juga kesehatan) yang relatip lebih besar melalui Otsus. 

sumber berita dan data: detik, databoks, goodstats, seputar-papua, inews, iss, kpu, antara

08 October 2026

Perpres Ojol: Babak Baru Perlindungan atau Kemitraan Semu?


 

pre
pengemudi ojol

Ikhtiar panjang para pengemudi ojek online (ojol) untuk mendapatkan payung hukum akhirnya menemui titik terang. Kamis, 8 Oktober lalu, bertempat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pemerintah bersama DPR resmi menggelar karpet merah bagi lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Berbasis Platform Digital. Regulasi anyar ini digadang-gadang menjadi benteng baru yang mengatur karut-marut tarif hingga jaminan sosial ketenagakerjaan bagi jutaan pekerja berbasis aplikasi di tanah air.

“Hari ini secara resmi pemerintah merilis Perpres Nomor 27 Tahun 2026. Di dalamnya termasuk pengaturan untuk UMKM dan jaminan sosial ketenagakerjaan,” kata Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko, saat ditemui di koridor parlemen.

Lahirnya aturan ini diklaim sebagai buah dari proses kompromi yang panjang. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut, beleid ini merupakan hasil sinkronisasi dan harmonisasi yang menguras energi demi menjembatani aspirasi para pengemudi yang kerap menggelar unjuk rasa di jalanan. Bedanya, aturan kali ini tak lagi sekadar menyoroti urusan antar-jemput penumpang, melainkan turut mencengkeram gurita bisnis pengantaran barang dan makanan yang perputarannya kian raksasa.

Wewenang Tiga Kementerian
Agar implementasi di lapangan tidak berjalan tumpang tindih, Perpres ini membagi habis jatah wewenang ke dalam tiga kementerian teknis. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) didapuk sebagai pengampu utama yang memegang kendali atas legalitas serta ruang perjanjian kemitraan antara pengemudi dan raksasa aplikator.

Sementara itu, urusan teknis moda transportasi umum roda dua beserta urusan tarif penumpang tetap menjadi kaplingan Kementerian Perhubungan. Adapun urusan transparansi algoritma, akuntabilitas digital, hingga penentuan tarif batas bawah untuk jasa pengantaran barang dan logistik makanan diserahkan ke meja Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Pangkas Setoran Platform
Satu poin yang paling sensitif sekaligus menjadi substansi utama yang dinanti para driver adalah urusan "sunatan" pendapatan dari perusahaan aplikator. Lewat aturan baru ini, pemerintah resmi mematok biaya platform maksimal 8 persen. Kebijakan ini sekaligus memperkuat Keputusan Menteri Perhubungan yang sebetulnya sudah diuji coba sejak awal Juli lalu.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan, langkah ini adalah jawaban atas janji politik Kepala Negara untuk menaikkan taraf hidup pekerja informal. "Pengaturan biaya platform 8 persen itu kami tuangkan di dalam Keputusan Menteri Perhubungan dan dipertegas dalam Perpres ini, sehingga memberikan kepastian hukum bagi rekan-rekan pengemudi," katanya di Senayan, Kamis lalu.

Bagi jutaan pengemudi di jalanan, Perpres 27/2026 jelas menjadi angin segar di tengah himpitan ekonomi. Namun, bagi industri platform digital, batasan setoran komisi ini bakal menguji seberapa lentur skema bisnis mereka bertahan dalam ekosistem digital Indonesia yang kian ketat diatur negara.

sumber data dan berita: kompas, kumparan, detik

07 October 2026

Jalan Berliku Dana Cadangan dan Ganjal Baru Pemecatan Buruh


 

sul
kala bisnis buram

Karpet merah bagi korporasi untuk mendepak pekerja tampaknya mulai digulung. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengendus adanya pengetatan signifikan dalam Undang-Undang Pelindungan Ketenagakerjaan yang baru saja ketok palu di parlemen, Selasa pekan lalu. Beleid anyar ini dirancang untuk memotong jalan pintas perusahaan yang gemar melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak. Alasan klasik seperti "efisiensi" kini tak lagi bisa menjadi mantra sakti korporasi.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengamini perubahan radikal ini. Salah satu poin paling krusial adalah dihapusnya formula pengali pesangon 0,5 kali—warisan era Omnibus Law yang kerap diprotes kaum buruh. Lewat aturan baru, kompensasi bagi pekerja yang dirumahkan dipatok minimal satu kali pengali ketentuan masa kerja.

"Pesangon pengalinya 0,5 itu tentu sudah tidak ada lagi. Minimal satu kali," kata Yassierli saat ditemui Tempo di Kompleks Parlemen, Senayan. Kendati demikian, sang menteri masih menutup rapat detail mekanisme dan benteng hukum persidangan PHK tersebut. Publik diminta bersabar menanti naskah final yang tengah bersolek di tahap sinkronisasi.

Sekoci Dana Cadangan
Bukan sekadar memperumit pemecatan, undang-undang ini juga menelurkan terobosan anyar: dana cadangan pesangon. Pemerintah rupanya gerah melihat fenomena usang korporasi yang mendadak "tiarap" dan mengaku cekak setiap kali kewajiban membayar pesangon tiba. Dana cadangan ini diposisikan sebagai sekoci penyelamat hak finansial buruh. Sayangnya, formulasinya masih buram dan diserahkan pada Peraturan Pemerintah (PP) yang akan datang.

Menggugat di Pusaran Pailit
Taring baru buruh juga merambah hingga ke ranah kepailitan. Said Iqbal, Presiden KSPI yang kini mengemban takhta Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, menyebutkan bahwa pekerja tak lagi sekadar menjadi penonton saat perusahaan bangkrut. Aturan main baru memayungi buruh untuk melakukan intervensi langsung di hadapan majelis hakim pengadilan niaga.

Selama ini, kurator memegang kuasa absolut atas remah-remah aset tersisa. Kini, buruh punya hak istimewa untuk menyalip antrean piutang. "Dalam undang-undang baru ini, buruh bisa intervensi pihak terkait untuk meminta hakim agar hak buruh dibayarkan terlebih dahulu sebelum aset diserahkan ke kurator," ujar Said.

sumber : kontan, detik, cnn-indonesia

06 October 2026

Bos OpenAI: Minta Dunia Terima Risiko AI


 

ter
bos openai

CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa dunia harus menerima sebagian dampak buruk kecerdasan buatan (AI) demi mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar. Dalam wawancara eksklusif di program Decoded milik POLITICO, Altman menyebutkan bahwa konsekuensi negatif seperti peretasan, penipuan, dan penyalahgunaan siber merupakan hal yang tidak realistis untuk dihapus sepenuhnya.

Dilansir dari The Guardian dan The Verge, Altman menegaskan posisi OpenAI yang berbeda dari kelompok atau kompetitor yang mendorong standar keselamatan AI secara ekstrem. "Menurut saya, terdapat perbedaan pandangan yang sangat lebar," ujarnya saat membandingkan OpenAI dengan pesaing terdekatnya, Anthropic. Meski sebelumnya kedua perusahaan tampak sejalan dalam menyerukan regulasi AI tingkat lanjut, OpenAI kini memosisikan diri sebagai penengah di antara pendekatan Anthropic yang sangat ketat dan perusahaan lain yang menolak regulasi sama sekali.

Altman menilai masyarakat harus beradaptasi dan membangun ketahanan terhadap risiko skala kecil agar teknologi ini tetap bisa diakses secara luas. Ia mengkhawatirkan adanya risiko regulatory capture, di mana aturan yang terlalu mengekang justru mengunci teknologi di tangan segelintir elite. "Jika kita terlalu membatasi teknologi ini demi keselamatan, dan pada akhirnya sejumlah kecil perusahaan, individu, atau mungkin satu negara memegang terlalu banyak kendali, itu juga menjadi salah satu cara yang dapat mengacaukan segalanya," tegas Altman.

Oleh karena itu, OpenAI menolak pertukaran sederhana yang menuntut keamanan absolut dengan mengorbankan akses publik. Altman dengan tegas menyatakan tidak akan mengambil kesepakatan yang menjanjikan AI bebas total dari kejahatan siber, karena ia percaya potensi positif teknologi ini akan jauh melampaui kerugiannnya. "Orang-orang akan melakukan jauh lebih banyak hal baik, bahkan beberapa kali lipat dibandingkan hal buruk dengan teknologi ini," pungkasnya.

sumber bacaan: jawapos, detik, medcom

05 October 2026

Tangan Dingin Herdman dan Kuasa Jemari Audero


 

tim
juara fifa asean cup 2026

Malam di Senayan bergulir amat lambat, penuh peluh dan kecemasan yang berkarat. Di bawah lampu sorot Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin, 5 Oktober lalu, Tim Nasional Indonesia tidak hanya sedang berhadapan dengan sebelas pemain Thailand. Mereka sedang menantang hantu masa lalu: sebuah catatan kelam delapan pertandingan tanpa pernah menang selama satu dekade penuh dari sang rival bebuyutan. Namun, sejarah selalu menyediakan celah bagi mereka yang menolak menyerah. Lewat laga melelahkan sepanjang 120 menit yang berakhir imbang 2-2, kepastian itu akhirnya datang juga dari titik putih.

Laman resmi FIFA memotret drama ini dengan takzim melalui tajuk utamanya: Indonesia Juara Piala ASEAN FIFA. Ketika kapten Thailand, Sarach Yooyen, gagal menyarangkan bola pada eksekusi ketiga, ketegangan di tribun penonton mencapai puncaknya. Beruntung Indonesia memiliki Emil Audero. Kiper Skuad Garuda itu melesat bak anak panah, mementahkan sepakan Nattapong Sayriya. Tepukan tangan Audero malam itu tidak hanya menepis bola, tetapi menyudahi perlawanan sepuluh pemain Gajah Perang yang tampil Spartan, sekaligus menyegel trofi edisi perdana turnamen se-Asia Tenggara ini dengan skor adu penalti 4-2.

Di tribun kehormatan, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden FIFA Gianni Infantino menyaksikan klimaks melelahkan tersebut dengan napas lega. Bagi Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, kemenangan dramatis ini adalah cermin besar. "Kita harus akui Thailand tim yang sangat bagus," kata Erick sesaat setelah pertandingan usai. Baginya, trofi ini bukanlah ujung perjalanan, melainkan fondasi awal menuju impian yang lebih besar: Piala Dunia. "Ini pelajaran bagus buat pemain dan pelatih. Kalau kita mau masuk Piala Dunia, persiapannya harus serius karena tantangannya berat. Ada kelemahan yang mesti ditambal sebelum kita melangkah ke Piala Asia nanti."

Di balik gemuruh perayaan, ruang ganti Indonesia menyimpan cerita tentang kebersamaan yang senyap. Elkan Baggott, palang pintu lini belakang Indonesia, menolak memonopoli pujian. Ia justru menunjuk bangku cadangan dan lorong-lorong stadion sebagai hulu dari mata air kemenangan ini. Di sana ada John Herdman, sang arsitek asal Inggris, bersama barisan staf pelatih yang tak henti memeras keringat di balik layar.

Bagi Baggott, bermain dalam turnamen yang mematok jadwal kejam—bertanding setiap tiga hari sekali—adalah siksaan fisik dan mental. "Tidak mungkin kami memenangkan pertandingan ini tanpa pelatih," ujar Baggott dengan nada emosional. Ia mengingatkan publik bahwa piala yang kini berkilau di Jakarta adalah buah dari kerja kolektif yang tak kasat mata. "Ini bukan hanya kemenangan kami yang berlari di lapangan. Ini adalah kemenangan seluruh tim dan semua staf di belakang layar," pungkasnya, menutup malam di mana sepak bola Indonesia kembali menemukan fajar barunya.

sumber bacaan: fifa, kemenpora, viva

Ikhtiar Membendung Kebocoran Bansos


 

boc
mensos di makasar

Pemerintah memacu digitalisasi jaminan sosial melalui sistem Perlinsos Digital. Menargetkan setengah populasi Indonesia masuk radar data pada akhir 2026, proyek ambisius ini bertumpu pada keandalan integrasi data lintas kementerian dan kesiapan di tingkat daerah.

Ruang pertemuan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 4 Oktober lalu, menjadi panggung bagi Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk melempar maklumat penting. Di hadapan hadirin peluncuran Program Gerakan Peduli Tetangga, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menegaskan target besar kementeriannya: mengunci data 50 persen penduduk Indonesia ke dalam sistem digital Perlindungan Sosial (Perlinsos) sebelum lonceng akhir Desember 2026 berbunyi.

Bagi Kementerian Sosial, migrasi ke Perlinsos Digital bukan sekadar proyek kosmetik digitalisasi kementerian. Ini adalah ikhtiar besar mendesain ulang penyaluran bantuan sosial (bansos) yang selama bertahun-tahun diwarnai polemik salah sasaran—problem klasik seputar inclusion dan exclusion error.

"Penggunaan teknologi harus mampu menghadirkan keadilan, bukan sekadar mempercepat proses administrasi," kata Gus Ipul. Isyaratnya tegas: akurasi data dan pelibatan aktif publik adalah harga mati agar fulus negara jatuh ke tangan yang tepat.

Demi menyisir data yang lebih presisi, pemerintah kini mulai menjahit berbagai basis data yang selama ini terfragmentasi ego sektoral. Data kependudukan milik Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dikawinkan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pasokan Badan Pusat Statistik (BPS). Tak berhenti di sana, pelacakan berlapis dilakukan dengan menyisir data pelanggan PLN, catatan Kepolisian, kepemilikan tanah di Kementerian ATR/BPN, hingga data di Kementerian Hukum.

Ikhtiar menyumbat celah manipulasi juga dilakukan di hilir sistem. Perlinsos Digital dirancang membawa fitur biometrik pemindai wajah untuk memverifikasi penerima manfaat di lapangan, lengkap dengan tombol "usul dan sanggah" agar publik bisa saling mengoreksi kelayakan tetangga mereka.

Tulang Punggung Interoperabilitas
Di Jakarta, urusan dapur teknologi sistem ini dikomandoi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Mesin utamanya adalah Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP), infrastruktur yang bertugas melumasi macetnya pertukaran data antarinstansi pemerintah.

Bukan lagi sekadar cetak biru di atas kertas, keandalan SPLP diklaim telah melewati uji coba lapangan. Dalam rapat tingkat menteri di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Rabu, 30 September lalu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid membeberkan rapor fase piloting perlinsos.

Hingga 28 September 2026, sistem ini mencatatkan lebih dari 19,8 juta transaksi data yang melayani sekitar 5,4 juta kepala keluarga (KK). "Ini menjadi bekal untuk langkah-langkah kami berikutnya dalam persiapan menuju rollout (penyebaran nasional)," ujar Meutya.

Ganjalan di Tingkat Tapak
Kendati arsitektur digital di pusat tampak megah, ujian sesungguhnya berada di tingkat tapak: bagaimana sistem ini merespons realitas sosiologis masyarakat di daerah. Di Kota Batam, Kepulauan Riau, misalnya, birokrasi lokal harus berkejaran dengan waktu demi menyukseskan tenggat nasional tersebut.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Batam, Zulkifli Aman, mengungkapkan bahwa proses pendataan di wilayahnya masih terseok di angka 22 persen. Dari total sekitar 508 ribu kartu keluarga (KK) yang tercatat di Batam, baru sekitar 110 ribu KK yang berhasil masuk ke dalam database Perlinsos.

Sadar bahwa kendala literasi digital dan kepemilikan gawai pintar kerap menjadi batu sandungan bagi warga miskin, Dinsos PM Batam mengerahkan "pasukan infantri" di lapangan. Lebih dari 3.000 agen Perlinsos diterjunkan ke gang-gang pemukiman warga. Tugas mereka berat namun krusial: menjadi jembatan hidup bagi warga yang gagap teknologi agar hak jaminan sosial mereka tidak menguap begitu saja karena problem registrasi.

sumber bacaan: antara, batam-pos, banjarnegara-kab