October 05, 2026
TAMAtop
 |
| mensos di makasar |
Pemerintah memacu digitalisasi jaminan sosial melalui sistem Perlinsos Digital. Menargetkan setengah populasi Indonesia masuk radar data pada akhir 2026, proyek ambisius ini bertumpu pada keandalan integrasi data lintas kementerian dan kesiapan di tingkat daerah.
Ruang pertemuan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 4 Oktober lalu, menjadi panggung bagi Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk melempar maklumat penting. Di hadapan hadirin peluncuran Program Gerakan Peduli Tetangga, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menegaskan target besar kementeriannya: mengunci data 50 persen penduduk Indonesia ke dalam sistem digital Perlindungan Sosial (Perlinsos) sebelum lonceng akhir Desember 2026 berbunyi.
Bagi Kementerian Sosial, migrasi ke Perlinsos Digital bukan sekadar proyek kosmetik digitalisasi kementerian. Ini adalah ikhtiar besar mendesain ulang penyaluran bantuan sosial (bansos) yang selama bertahun-tahun diwarnai polemik salah sasaran—problem klasik seputar inclusion dan exclusion error.
"Penggunaan teknologi harus mampu menghadirkan keadilan, bukan sekadar mempercepat proses administrasi," kata Gus Ipul. Isyaratnya tegas: akurasi data dan pelibatan aktif publik adalah harga mati agar fulus negara jatuh ke tangan yang tepat.
Demi menyisir data yang lebih presisi, pemerintah kini mulai menjahit berbagai basis data yang selama ini terfragmentasi ego sektoral. Data kependudukan milik Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dikawinkan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pasokan Badan Pusat Statistik (BPS). Tak berhenti di sana, pelacakan berlapis dilakukan dengan menyisir data pelanggan PLN, catatan Kepolisian, kepemilikan tanah di Kementerian ATR/BPN, hingga data di Kementerian Hukum.
Ikhtiar menyumbat celah manipulasi juga dilakukan di hilir sistem. Perlinsos Digital dirancang membawa fitur biometrik pemindai wajah untuk memverifikasi penerima manfaat di lapangan, lengkap dengan tombol "usul dan sanggah" agar publik bisa saling mengoreksi kelayakan tetangga mereka.
Tulang Punggung Interoperabilitas
Di Jakarta, urusan dapur teknologi sistem ini dikomandoi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Mesin utamanya adalah Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP), infrastruktur yang bertugas melumasi macetnya pertukaran data antarinstansi pemerintah.
Bukan lagi sekadar cetak biru di atas kertas, keandalan SPLP diklaim telah melewati uji coba lapangan. Dalam rapat tingkat menteri di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Rabu, 30 September lalu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid membeberkan rapor fase piloting perlinsos.
Hingga 28 September 2026, sistem ini mencatatkan lebih dari 19,8 juta transaksi data yang melayani sekitar 5,4 juta kepala keluarga (KK). "Ini menjadi bekal untuk langkah-langkah kami berikutnya dalam persiapan menuju rollout (penyebaran nasional)," ujar Meutya.
Ganjalan di Tingkat Tapak
Kendati arsitektur digital di pusat tampak megah, ujian sesungguhnya berada di tingkat tapak: bagaimana sistem ini merespons realitas sosiologis masyarakat di daerah. Di Kota Batam, Kepulauan Riau, misalnya, birokrasi lokal harus berkejaran dengan waktu demi menyukseskan tenggat nasional tersebut.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Batam, Zulkifli Aman, mengungkapkan bahwa proses pendataan di wilayahnya masih terseok di angka 22 persen. Dari total sekitar 508 ribu kartu keluarga (KK) yang tercatat di Batam, baru sekitar 110 ribu KK yang berhasil masuk ke dalam database Perlinsos.
Sadar bahwa kendala literasi digital dan kepemilikan gawai pintar kerap menjadi batu sandungan bagi warga miskin, Dinsos PM Batam mengerahkan "pasukan infantri" di lapangan. Lebih dari 3.000 agen Perlinsos diterjunkan ke gang-gang pemukiman warga. Tugas mereka berat namun krusial: menjadi jembatan hidup bagi warga yang gagap teknologi agar hak jaminan sosial mereka tidak menguap begitu saja karena problem registrasi.
sumber bacaan: antara, batam-pos, banjarnegara-kab