Ketika Ulama Dari 50 Negara Berkumpul di Turki
![]() |
Ulama Berkumpul |
Gaza adalah wilayah kecil di pesisir Laut Tengah yang dihuni sekitar 2,3 juta jiwa, menjadikannya salah satu daerah terpadat di dunia. Sejak 2007, Gaza berada di bawah blokade ketat Israel dan Mesir, yang membatasi pergerakan orang dan barang, serta menyebabkan krisis kemanusiaan akut. Lebih dari 80% penduduknya bergantung pada bantuan kemanusiaan, dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang sangat tinggi.
Konflik bersenjata yang berulang, terutama sejak 2008, telah menyebabkan ribuan korban jiwa, mayoritas warga sipil, serta kehancuran infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah. Dalam setahun terakhir, serangan militer Israel ke Gaza menewaskan lebih dari 41.000 orang dan melukai hampir 100.000 lainnya. Banyak pihak, termasuk PBB dan organisasi hak asasi manusia, menilai tindakan ini sebagai bentuk genosida atau kejahatan terhadap kemanusiaan.
Konferensi di Turki
Konferensi ulama dunia ini berlangsung di Istanbul, Turki, dari 22 hingga 29 Agustus 2025. Acara ini dihadiri lebih dari 150 ulama, pemimpin asosiasi, dan perwakilan lembaga keulamaan dari lebih 50 negara. Beberapa tokoh penting yang hadir antara lain Ali Erbaş (Kepala Diyanet Turki), Ali Muhyiddin al-Qaradaghi (Presiden International Union of Muslim Scholars/IUMS), dan Eymen Zeydan (Kepala International Jerusalem Institution cabang Turki).
Agenda Utama
Konferensi ini mengangkat tema besar “Tanggung Jawab Islam dan Kemanusiaan: Gaza”. Para ulama menyoroti pentingnya persatuan umat Islam untuk menghentikan agresi Israel, membuka koridor kemanusiaan, dan memastikan bantuan sampai ke rakyat Gaza. Mereka juga menekankan perlunya membentuk aliansi Islam global untuk mencegah terulangnya genosida dan kejahatan kemanusiaan di masa depan.
Deklarasi Istanbul
Konferensi ini akan ditutup dengan “Deklarasi Istanbul” yang berisi langkah konkret untuk aksi politik, kemanusiaan, dan hukum dalam mendukung rakyat Palestina. Beberapa poin utama yang disuarakan para ulama antara lain:
Ali Erbaş menegaskan bahwa isu Palestina bukan sekadar masalah politik, melainkan juga masalah iman, moral, dan nurani umat manusia. Sementara itu, Ali Muhyiddin al-Qaradaghi memperingatkan bahwa proyek ekspansionis Israel mengancam stabilitas seluruh kawasan, dan penderitaan Gaza adalah penderitaan seluruh umat Islam.
Isu Genosida
Istilah “genosida” bukan sekadar retorika. Banyak organisasi internasional, termasuk PBB dan pengamat independen, menilai bahwa pola serangan, blokade, dan penghancuran sistematis di Gaza memenuhi unsur genosida: pembunuhan massal, pemusnahan kelompok etnis, dan upaya menghapus identitas budaya Palestina.
Bagi para ulama, membela Gaza adalah bagian dari tanggung jawab keislaman dan kemanusiaan. Mereka menekankan bahwa Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan menentang kezaliman. Konferensi ini juga menyoroti pentingnya solidaritas lintas negara, mazhab, dan organisasi Islam untuk menghadapi tantangan global seperti genosida di Gaza.
Konsisten Membela Palestina
Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, selalu berada di garis depan membela Palestina. Pemerintah Indonesia secara tegas mengutuk serangan Israel, termasuk pengeboman Rumah Sakit Indonesia di Gaza.
Indonesia juga aktif di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mengirim bantuan medis, dan bahkan menawarkan untuk menampung korban luka dan anak-anak Palestina yang membutuhkan perawatan. Dukungan masyarakat Indonesia pun sangat besar, terlihat dari aksi solidaritas, penggalangan dana, dan kampanye di media sosial.
bahan bacaan: detik, islamtoday, republika
Konflik bersenjata yang berulang, terutama sejak 2008, telah menyebabkan ribuan korban jiwa, mayoritas warga sipil, serta kehancuran infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah. Dalam setahun terakhir, serangan militer Israel ke Gaza menewaskan lebih dari 41.000 orang dan melukai hampir 100.000 lainnya. Banyak pihak, termasuk PBB dan organisasi hak asasi manusia, menilai tindakan ini sebagai bentuk genosida atau kejahatan terhadap kemanusiaan.
Konferensi di Turki
Konferensi ulama dunia ini berlangsung di Istanbul, Turki, dari 22 hingga 29 Agustus 2025. Acara ini dihadiri lebih dari 150 ulama, pemimpin asosiasi, dan perwakilan lembaga keulamaan dari lebih 50 negara. Beberapa tokoh penting yang hadir antara lain Ali Erbaş (Kepala Diyanet Turki), Ali Muhyiddin al-Qaradaghi (Presiden International Union of Muslim Scholars/IUMS), dan Eymen Zeydan (Kepala International Jerusalem Institution cabang Turki).
Agenda Utama
Konferensi ini mengangkat tema besar “Tanggung Jawab Islam dan Kemanusiaan: Gaza”. Para ulama menyoroti pentingnya persatuan umat Islam untuk menghentikan agresi Israel, membuka koridor kemanusiaan, dan memastikan bantuan sampai ke rakyat Gaza. Mereka juga menekankan perlunya membentuk aliansi Islam global untuk mencegah terulangnya genosida dan kejahatan kemanusiaan di masa depan.
Deklarasi Istanbul
Konferensi ini akan ditutup dengan “Deklarasi Istanbul” yang berisi langkah konkret untuk aksi politik, kemanusiaan, dan hukum dalam mendukung rakyat Palestina. Beberapa poin utama yang disuarakan para ulama antara lain:
- Mengutuk keras serangan Israel ke Gaza yang dinilai sebagai genosida dan pelanggaran berat hukum internasional.
- Menuntut gencatan senjata segera dan tanpa syarat, serta akses kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.
- Mengajak negara-negara Muslim dan komunitas internasional untuk bersatu dalam tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Israel.
- Mendorong rekonstruksi infrastruktur pendidikan, budaya, dan keagamaan di Gaza sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang.
Ali Erbaş menegaskan bahwa isu Palestina bukan sekadar masalah politik, melainkan juga masalah iman, moral, dan nurani umat manusia. Sementara itu, Ali Muhyiddin al-Qaradaghi memperingatkan bahwa proyek ekspansionis Israel mengancam stabilitas seluruh kawasan, dan penderitaan Gaza adalah penderitaan seluruh umat Islam.
Isu Genosida
Istilah “genosida” bukan sekadar retorika. Banyak organisasi internasional, termasuk PBB dan pengamat independen, menilai bahwa pola serangan, blokade, dan penghancuran sistematis di Gaza memenuhi unsur genosida: pembunuhan massal, pemusnahan kelompok etnis, dan upaya menghapus identitas budaya Palestina.
Bagi para ulama, membela Gaza adalah bagian dari tanggung jawab keislaman dan kemanusiaan. Mereka menekankan bahwa Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan menentang kezaliman. Konferensi ini juga menyoroti pentingnya solidaritas lintas negara, mazhab, dan organisasi Islam untuk menghadapi tantangan global seperti genosida di Gaza.
Konsisten Membela Palestina
Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, selalu berada di garis depan membela Palestina. Pemerintah Indonesia secara tegas mengutuk serangan Israel, termasuk pengeboman Rumah Sakit Indonesia di Gaza.
Indonesia juga aktif di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mengirim bantuan medis, dan bahkan menawarkan untuk menampung korban luka dan anak-anak Palestina yang membutuhkan perawatan. Dukungan masyarakat Indonesia pun sangat besar, terlihat dari aksi solidaritas, penggalangan dana, dan kampanye di media sosial.
bahan bacaan: detik, islamtoday, republika
0 comments :
Post a Comment