24 December 2015

Pengemis, Wajah Kemiskinan Kota


 

pen
Kemiskinan Kota

Kemiskinan di kota besar telah menjadi pemandangan yang sulit dihindari, terutama dengan hadirnya para pengemis di jalanan. Para pengemis sering kali dianggap sebagai cerminan nyata dari ketimpangan sosial yang terjadi di kota. Di satu sisi, mereka adalah simbol kemiskinan yang membutuhkan perhatian, namun di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan perkotaan. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa pengemis menjadi wajah kemiskinan kota, tantangan yang ada, serta upaya pengentasan yang layak diperjuangkan.  

Fenomena Pengemis di Kota
Kemiskinan di kota sangat kompleks, di mana pengemis menjadi salah satu wajah yang paling sering terlihat. Sebagai contoh, kasus yang dilaporkan oleh Antara News menunjukkan bahwa seorang kakek pengemis bisa memperoleh penghasilan hingga Rp3 juta per bulan dari aktivitasnya di jalanan. Angka ini menimbulkan kontroversi, karena menunjukkan bahwa tidak semua pengemis benar-benar berasal dari keluarga miskin. Bahkan, ada anggapan bahwa pengemis di kota besar sering kali menjadikan aktivitas mengemis sebagai profesi.  Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa kemiskinan tetap menjadi akar masalahnya. Banyak dari mereka yang terpaksa mengemis karena tidak memiliki akses ke pekerjaan yang layak atau fasilitas sosial yang memadai. Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan Kamil, saat menerima penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial, salah satu cara mengurangi kemiskinan adalah dengan menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan pelatihan keterampilan bagi masyarakat miskin. Sayangnya, hal ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat urban yang terus bertambah.  

Mengatasi Pengemis  
Ada beberapa tantangan besar dalam mengatasi fenomena pengemis di kota:  

1. Ketimpangan Sosial yang Terus Meningkat
Kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya kerap menjadi magnet bagi masyarakat desa yang mencari peluang hidup lebih baik. Namun, tidak semua dari mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, sehingga akhirnya terjebak dalam kemiskinan dan memilih jalan pintas seperti mengemis.  

2. Eksploitasi Pengemis oleh Oknum
Fenomena pengemis tidak selalu murni sebagai akibat kemiskinan. Dalam beberapa kasus, pengemis dikelola oleh oknum tertentu yang memaksa mereka bekerja dan mengambil sebagian besar penghasilannya. Hal ini menjadikan pengemis sebagai korban eksploitasi, bukan hanya masalah sosial.  

3. Kurangnya Akses Pendidikan dan Keterampilan
Kemiskinan di kota sering kali dihubungkan dengan rendahnya tingkat pendidikan. Tanpa pendidikan atau keterampilan khusus, masyarakat miskin sulit bersaing di pasar kerja kota yang menuntut tenaga kerja terampil. Akibatnya, mereka tidak punya pilihan lain selain bekerja di sektor informal, termasuk mengemis.  

Pengemis di Kota  
Beberapa langkah konkret perlu dilakukan untuk mengatasi masalah pengemis sebagai wajah kemiskinan kota:  

1. Pemberdayaan Masyarakat Miskin
Pemerintah harus aktif memberikan pelatihan keterampilan kerja kepada masyarakat miskin agar mereka memiliki kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Program seperti pemberian modal usaha kecil juga dapat membantu mereka memulai usaha mandiri.  

2. Penegakan Hukum terhadap Eksploitasi Pengemis  
Eksploitasi pengemis oleh oknum tertentu harus ditangani dengan tegas. Pemerintah bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk membongkar jaringan eksploitasi ini dan memberikan perlindungan kepada para pengemis yang menjadi korban.  

3. Pembangunan Infrastruktur Sosial  
Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan Kamil, pembangunan infrastruktur sosial seperti rumah susun, fasilitas pendidikan gratis, dan layanan kesehatan masyarakat sangat penting untuk mengurangi beban hidup masyarakat miskin di kota. Dengan akses yang lebih baik, masyarakat miskin memiliki peluang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.  


Pengemis adalah wajah nyata dari kemiskinan kota yang tidak bisa diabaikan. Di balik fenomena ini, terdapat masalah ketimpangan sosial, eksploitasi, hingga kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga sosial. Dengan pemberdayaan, penegakan hukum, dan pembangunan infrastruktur sosial, kita bisa berharap bahwa fenomena pengemis tidak lagi menjadi wajah utama kemiskinan di kota. Sebaliknya, kota besar bisa menjadi tempat di mana setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk hidup lebih baik.
 
sumber berita: detikbbcantaranews

14 July 2014

Detik-detik Akhir Pilpres 2014


pil
Persaingan Pilpres










Pemilihan presiden (pilpres) tahun ini memang beda dibandingkan pilpres-pilpres sebelumnya. Sedikitnya jumlah yang bertarung, hanya dua pasang, membuat kompetisi berlangsung sengit. Masyarakat pun langsung terpecah ke dalam dua kubu: pendukung Prabowo-Hatta dan pendukung Jokowi-JK.

30 August 2013

Pusat Kemiskinan di Desa


 

mis
Kemiskinan

Kemiskinan di desa masih menjadi persoalan yang kompleks di Indonesia. Meskipun data menunjukkan adanya penurunan jumlah penduduk miskin secara nasional, seperti yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2013 dengan penurunan sebesar 0,52 juta orang, kenyataannya desa masih menjadi pusat konsentrasi kemiskinan. Banyak desa di Indonesia menghadapi tantangan besar, termasuk keterbatasan akses ke pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lapangan pekerjaan. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang akar masalah kemiskinan di desa dan langkah-langkah pengentasan yang perlu dilakukan.  

Kemiskinan di Desa
Sebagian besar masyarakat desa masih hidup dengan keterbatasan sumber daya. Seperti yang diungkapkan dalam laporan Mongabay, masyarakat sekitar tambang Newmont adalah salah satu contoh nyata bagaimana desa bisa terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Kehilangan hutan akibat aktivitas tambang menyebabkan masyarakat desa kehilangan sumber penghidupan utama mereka. Hutan yang selama ini menjadi tempat mencari kayu bakar, hasil hutan, hingga lahan pertanian, kini berubah menjadi kawasan tambang yang tidak memberikan manfaat langsung kepada warga setempat. Akibatnya, banyak warga yang tidak hanya kehilangan sumber ekonomi, tetapi juga identitas mereka sebagai masyarakat agraris.  Kemiskinan di desa juga tampak nyata di wilayah seperti Banguntapan, Yogyakarta, yang menjadi salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Sebanyak 1.058 Kepala Keluarga (KK) di daerah tersebut masuk dalam prioritas program pengentasan kemiskinan. Ini menunjukkan bahwa meskipun desa memiliki potensi besar, seperti sumber daya alam dan budaya lokal, tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tersebut sering kali tidak mampu mengangkat masyarakat dari kemiskinan.  

Akar Masalah Kemiskinan di Desa
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan desa menjadi pusat kemiskinan:  
1. Keterbatasan Infrastruktur: Banyak desa yang masih terpencil dan sulit dijangkau, sehingga akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi menjadi sangat terbatas.  
2. Ketergantungan pada Sumber Daya Alam: Desa sering kali bergantung pada sektor agraris atau sumber daya alam lainnya. Ketika sektor ini terganggu, seperti akibat tambang atau bencana alam, ekonomi desa langsung terpukul.  
3. Kurangnya Peluang Kerja: Lapangan pekerjaan di desa sangat terbatas, terutama bagi generasi muda. Hal ini sering kali memicu urbanisasi, di mana generasi muda pindah ke kota untuk mencari pekerjaan, meninggalkan desa tanpa tenaga kerja produktif.  

Langkah-Langkah Pengentasan Kemiskinan
Pengentasan kemiskinan di desa membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:  
1. Pengembangan Infrastruktur: Pemerintah perlu memprioritaskan pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik, dan internet di desa untuk membuka akses ke pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi baru.  
2. Diversifikasi Ekonomi Desa: Masyarakat desa perlu didorong untuk tidak hanya bergantung pada sektor agraris, tetapi juga mengembangkan usaha kecil, pariwisata lokal, dan industri kreatif.  
3. Pendampingan dan Pelatihan: Program pelatihan keterampilan, seperti pengolahan hasil tani atau kerajinan tangan, dapat membantu masyarakat desa meningkatkan nilai tambah dari produk mereka.  

Kesimpulan
Kemiskinan di desa adalah tantangan yang perlu diselesaikan dengan pendekatan menyeluruh. Desa memiliki potensi besar untuk berkembang, tetapi tanpa perhatian yang serius dari pemerintah dan masyarakat luas, potensi ini akan terus terpendam. Dengan pembangunan infrastruktur, diversifikasi ekonomi, dan pelatihan keterampilan, desa dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang tidak hanya mengentaskan kemiskinan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Pengentasan kemiskinan di desa bukan hanya soal angka, tetapi soal memberikan harapan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia. 
 
berita:

08 November 2012

Gairah Anak Muda dalam Pembuatan Film Indonesia


 

ana
Film Anak Muda

Industri film Indonesia kini sedang mengalami gelombang baru yang dipicu oleh gairah dan kreativitas anak muda. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton setia bioskop, tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai aspek pembuatan film, mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, hingga produksi film. Tren ini membuktikan bahwa anak muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menciptakan karya-karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan mendalam untuk masyarakat.  

Generasi Kreatif dengan Semangat Baru
Munculnya nama-nama seperti Lisabona Lintang, seorang tokoh yang dikenal lewat film-film dokumenter dengan pendekatan unik, membuktikan bahwa anak muda memiliki keberanian untuk mengeksplorasi tema-tema yang berbeda. Dalam wawancaranya dengan BBC Indonesia, Lisabona menuturkan pentingnya perspektif segar dalam sebuah karya film. Perspektif ini sering kali datang dari generasi muda yang memiliki cara pandang baru terhadap isu-isu sosial, budaya, hingga politik.  Contoh lain adalah film "5 cm" yang dirilis pada tahun 2012. Film ini menjadi simbol semangat muda karena menyampaikan pesan nasionalisme yang dibalut dalam kisah petualangan dan persahabatan yang relevan dengan generasi milenial. Fedi Nuril, salah satu pemeran utamanya, menekankan bahwa film ini sarat dengan pesan tentang kepercayaan diri dan keberanian untuk bermimpi, nilai-nilai yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda.  

Eksplorasi Tema yang Menggugah dan Menyentuh  
Gairah anak muda juga terlihat dalam keberanian mereka untuk mengeksplorasi tema-tema yang lebih kompleks, termasuk isu-isu yang sering kali diabaikan oleh generasi sebelumnya. Sutradara seperti Nayato Fio Nuala, yang dikenal lewat karya-karyanya yang kerap menyasar segmen remaja, menunjukkan bahwa pasar film Indonesia memiliki ruang besar bagi cerita-cerita yang menyoroti dinamika kehidupan anak muda. Melalui karya-karyanya, Nayato mampu menangkap emosi, konflik, dan impian generasi muda dengan cara yang relatable dan menggugah.   Film-film ini mencerminkan bagaimana generasi muda tidak hanya ingin menciptakan karya yang menghibur, tetapi juga yang memiliki kedalaman makna. Mereka ingin berbicara tentang isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti persahabatan, cinta, perjuangan, hingga identitas diri, dengan cara yang jujur dan otentik.  

Masa Depan Industri Film di Tangan Kreator Muda
Melihat antusiasme dan kreativitas ini, masa depan industri film Indonesia tampak sangat cerah. Anak muda tidak hanya menjadi penggerak utama dalam produksi film, tetapi juga menjadi konsumen kritis yang mendorong kualitas cerita dan eksekusi visual yang lebih baik. Teknologi yang semakin maju, seperti kamera digital berbiaya rendah dan platform streaming online, juga memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk berkarya tanpa batasan yang sebelumnya membelenggu industri film konvensional.  

Namun, untuk mendukung gairah ini, dibutuhkan ekosistem yang sehat, termasuk akses pendidikan film yang lebih terjangkau, pendanaan bagi proyek-proyek independen, hingga dukungan pemerintah dalam promosi film lokal. Dengan dukungan ini, anak muda Indonesia dapat terus berkembang dan membawa industri film ke tingkat yang lebih tinggi, baik di kancah nasional maupun internasional. Gairah anak muda dalam pembuatan film Indonesia adalah energi baru yang sangat menjanjikan. Dengan semangat, kreativitas, dan keberanian mereka, anak muda tidak hanya merevolusi cara kita melihat film, tetapi juga cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bangsa. Dari eksplorasi tema yang berani hingga inovasi teknis, generasi muda adalah motor utama yang akan membawa industri film Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang. 
 
sumber: bbcbisnisviva

01 May 2011

YLKI : Kebiasaan Baca Label Anti-Nyamuk (pestisida rumah tangga)


nyk
Obat Nyamuk
















1 Mei 2011

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gita Pertiwi (2007) yang melakukan penelitian (tahun 2007 di 7 kabupaten/kotamadya; yaitu Wonogiri, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Surakarta, Klaten dan Ngawi dengan metode kuisioner dan wawancara), YLKI Indonesia mengingatkan bahan kimia dalam anti-nyamuk (pestisida rumah tangga) termasuk memiliki daya racun yang dapat menimbulkan efek terhadap kesehatan manusia (WHO). Oleh sebab itu menjadi penting untuk memperhatikan keberadaan pestisida rumah tangga di sekitar kita.
Dari pengumpulan data, sebagian besar responden (59%) menyatakan tidak membaca tulisan pada kemasan, sedangkan 41% konsumen menyatakan membaca tulisan dalam kemasan ketika membeli/menggunakan pestisida rumah tangga. Hal mana menjelaskan bagaimana kebiasaan atau perilaku masyarakat luas membaca tulisan dalam kemasan produk (anti-nyamuk) pestisida . Padahal ini sangat diperlukan, karena keterangan pada kemasan mengandung informasi penting terhadap produk yang akan dipakai, termasuk kandungan berbahaya didalamnya, cara penyimpanan dan keamanan.

23 December 2010

Bus TransJakarta : Lamanya Waktu Tunggu Bus


bus
Tunggu Bus


23 Desember 2010
Sebuah survey yang dilakukan Yayasan lembaga Konsumen (YLKI) Indonesia terhadap 3.000 responden pengguna Transjakarta pada Maret 2010, terungkap bahwa konsumen menuntut prioritas perbaikan waktu tunggu bus. Hasilnya : 41,58 persen responden mengatakan waktu tunggu di koridor I (yang merupakan koridor unggulan) adalah selama 10-15 menit. 15 persen responden mengaku waktu tunggu di koridor 1 mencapai 15-20 menit. 10 persen bahkan mengatakan lebih dari 20 menit. sepertiga koresponden pengguna Transjakarta koridor 2 (Pulogadung-Harmoni) dan 7 (Kampung Rambutan-Kampung Melayu) mengatakan mereka rata-rata menunggu kedatangan bus lebih dari 20 menit. Pengalaman negatif responden selama menggunakan Transjakarta : Lamanya waktu antrian di loket dan halte untuk menunggu bus menempati peringkat pertama (41,5 persen). Berturut-turut setelah itu adalah overkapasitas (26,9 persen), terlambat sampai tujuan (12,26 persen), dan sisanya adalah AC mati, tersesat, Satgas tidak membantu, kecopetan, kecelakaan, sampai pelecehan seksual. 

Walaupun keluhan banyak ditujukan untuk Transjakarta, 50,4 persen koresponden menilai pelayanan Transjakarta secara keseluruhan masih dinilai baik, sementara 1,6 menilai sangat baik, 39 persen menilai cukup, 8,4 persen menilai buruk dan 0,48 sangat buruk.

27 September 2010

BPS 2010 : Indikator Kemiskinan BPS


bps
Indikator Kemiskinan

27 September 2010

Hasil perhitungan Survey Maret 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indikator kemiskinan Indonesia sebenarnya sudah setara US$ 1,7 per hari. World Bank sendiri menerapkan 2 indikator( 1 dolar untuk yang benar-benar miskin atau sipir dan US$ 2). Menurut BPS, US$ 2 di setiap negara itu memiliki nilai yang berbeda-beda sehingga tidak patut jika disamaratakan. Kalau US$ 1,7 itu dibandingkan negara-negara lain nggak terlalu jelek. Di India, China bahkan di bawah US$ 1. Itu berdasarkan daya beli (misalkan, US$1.7 itu cukup untuk makan di warung tegal).