February 2026

01 February 2026

Nasib Atlet Kita


 

asn
atlet kita di olimpiade

Lifter angkat besi kelas berat yang telah malang melintang di panggung Olimpiade ini baru saja resmi dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Aceh. Prestasi gemilang Nurul Akmal yang membuatnya layak disebut legenda hidup angkat besi putri Indonesia: Hat-trick Emas PON: Meraih medali emas tiga kali berturut-turut pada PON Jawa Barat 2016, PON Papua 2021, dan PON Aceh-Sumut 2024 serta pemecah rekor nasional. Tampil di dua edisi Olimpiade (Tokyo 2020 dan Paris 2024), Peringkat ke-6 Asian Games 2018 serta Medali Perak Islamic Solidarity Games 2017 di Baku, Azerbaijan.

Publik lantas membandingkan nasib Amel dengan rekannya, Rizki Juliansyah. Rizki, yang juga lifter andalan Indonesia, mendapatkan apresiasi berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari institusi TNI. 

Denny Thios barangkali tak setenar para atlet sepak bola atau bulu tangkis Indonesia. Namun, di era 1990-an, ia adalah sosok yang disegani di kancah olahraga angkat besi dunia. Prestasinya mengibarkan bendera Merah Putih di berbagai kejuaraan internasional. Sayangnya, nasibnya di hari tua justru menggambarkan realitas pahit yang kerap dialami oleh banyak mantan atlet Indonesia: terlupakan dan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Denny tercatat sebagai peserta kejuaraan dunia sebanyak empat kali. Pada tahun 1990, ia berhasil meraih medali perunggu di kategori 56 kg dalam kejuaraan dunia yang berlangsung di Hague, Belanda. Meski sempat mengalami diskualifikasi di Orebro, Swedia, pada tahun yang sama, Denny bangkit dan mengukir sejarah dengan meraih dua medali emas berturut-turut di Birmingham, Inggris (1991), dan Jonkoping, Swedia (1992). Setelah pensiun sebagai atlet, Denny Thios dihadapkan pada kenyataan pahit. Kini, meneruskan usaha bengkel las milik keluarganya di Makassar.

Leni Haini telah mempersembahkan medali emas bersama timnya lewat SEA Games 1997 dan 1999 serta The World Dragon Boat Racing Championship 1997 di Hongkong. Namun, rupanya semua prestasinya itu tidak menjamin kesejahteraan Leni Haeni setelah pensiun. Mantan atlet dayung nasional asal Jambi ini sempat bekerja menjadi buruh cuci, sesekali melatih dayung, hingga kini mengelola bank sampah di komunitas peduli Danau Sipin. 

sumber: jawaposriautribunhaibunda