Pendapat Pengamat tentang WFH
![]() |
| secara adil |
Pemerintah perlu memastikan kesiapan sistem secara umum sebelum menerapkan kebijakan WFH. Beberapa pengamat memberikan komentarnya terhadap kebijakan WFH.
Ekonom Senior INDEF, Aviliani menilai kebijakan WFH hanya bersifat sementara dan tidak signifikan dalam menekan konsumsi energi. Kebijakan ini bisa berdampak pada kualitas layanan publik jika tidak disiapkan dengan baik. Pemerintah perlu memastikan kesiapan sistem sebelum menerapkan kebijakan tersebut.
Kepala Laboratorium LAB 45, Jaleswari Pramodhawardani:
Komunikasi yang tidak terbuka (ataupun kurang jelas) justru dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian di tengah masyarakat. Berpotensi menimbulkan masalah baru.
Sosiolog dari UMM, Prof. Vina Salviana Darvina Soedarwo: bahwa WFH di tengah tekanan energi saat ini bisa menjadi solusi semu. Hal ini disampaikan seperti dilansir dari Surabaya. Menurut Vina, tanpa dukungan langkah struktural seperti diversifikasi energi atau insentif bagi pekerja, WFH belum dapat dikatakan sebagai transformasi budaya kerja berkelanjutan. Walaupun masyarakat sudah beradaptasi dengan konsep rumah sebagai ruang kerja sejak pandemi. Namun, risiko baru timbul dari praktik di lapangan yang berpotensi menyimpang dari tujuan penghematan energi. Ia sangat mengkhawatirkan adanya pergeseran dari WFH menjadi Work From Anywhere (WFA). Misalnya, ASN memilih bekerja di kafe atau tempat publik lainnya, mereka tetap menggunakan kendaraan bermotor. Akibatnya, tujuan utama untuk mengurangi konsumsi bahan bakar menjadi tidak tercapai. WFH berpotensi memicu kecemburuan sosial. Kelompok pekerja lapangan tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah.
sumber berita: kompastv, umm
Ekonom Senior INDEF, Aviliani menilai kebijakan WFH hanya bersifat sementara dan tidak signifikan dalam menekan konsumsi energi. Kebijakan ini bisa berdampak pada kualitas layanan publik jika tidak disiapkan dengan baik. Pemerintah perlu memastikan kesiapan sistem sebelum menerapkan kebijakan tersebut.
Kepala Laboratorium LAB 45, Jaleswari Pramodhawardani:
Ini bukan bicara soal informasi yang harus diterima masyarakat, tapi ini bicara soal kepercayaan. Jangan sampai rakyat itu merabah-rabah apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Komunikasi yang tidak terbuka (ataupun kurang jelas) justru dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian di tengah masyarakat. Berpotensi menimbulkan masalah baru.
Sosiolog dari UMM, Prof. Vina Salviana Darvina Soedarwo: bahwa WFH di tengah tekanan energi saat ini bisa menjadi solusi semu. Hal ini disampaikan seperti dilansir dari Surabaya. Menurut Vina, tanpa dukungan langkah struktural seperti diversifikasi energi atau insentif bagi pekerja, WFH belum dapat dikatakan sebagai transformasi budaya kerja berkelanjutan. Walaupun masyarakat sudah beradaptasi dengan konsep rumah sebagai ruang kerja sejak pandemi. Namun, risiko baru timbul dari praktik di lapangan yang berpotensi menyimpang dari tujuan penghematan energi. Ia sangat mengkhawatirkan adanya pergeseran dari WFH menjadi Work From Anywhere (WFA). Misalnya, ASN memilih bekerja di kafe atau tempat publik lainnya, mereka tetap menggunakan kendaraan bermotor. Akibatnya, tujuan utama untuk mengurangi konsumsi bahan bakar menjadi tidak tercapai. WFH berpotensi memicu kecemburuan sosial. Kelompok pekerja lapangan tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah.
sumber berita: kompastv, umm

0 comments :
Post a Comment