Antisipasi Keamanan atau Kekhawatiran Berlebihan? Fenomena Pagar Tinggi Mal Jakarta
![]() |
| khawatir keamanan? |
Belakangan ini, pemandangan beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta tampak berbeda. Sejumlah mal besar, salah satunya Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta Selatan, tiba-tiba memasang pagar besi pembatas yang cukup tinggi, berkisar antara 2,5 hingga 3 meter di perimeter luar mereka.
Fenomena ini mendadak viral dan memicu spekulasi liar di media sosial. Banyak netizen mempertanyakan apakah ada potensi gangguan keamanan yang sedang diantisipasi oleh pihak pengelola.
Sudut Pandang Pengusaha
Murni Langkah PreventifKetua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menduga bahwa langkah yang diambil para pemilik mal ini murni didasari oleh alasan keamanan dan kehati-hatian. Pagar tersebut dipasang sebagai batas perimeter untuk memastikan alur keluar-masuk pengunjung lebih tertib dan terkendali.
Respons Pemerintah: Jangan Fearmongering, Jakarta Aman!
Melihat kehebohan ini, pemerintah bergerak cepat untuk menenangkan publik. Istana Kepresidenan melalui Penasihat Khusus Presiden Hasan Nasbi, bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso, pasang badan menjamin situasi Ibu Kota tetap kondusif. Mereka mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terkooptasi oleh narasi ketakutan (fearmongering) yang beredar di ruang digital.
Gubernur Minta Pagar Dibongkar
Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai respons pihak mal cenderung berlebihan dan memberikan citra yang kurang baik bagi wajah kota.
"Berkaitan dengan pemasangan pagar, saya juga mengamati. Mungkin bagian dari kekhawatiran, tetapi nanti pada saatnya pasti saya akan minta untuk pagar-pagar itu dilepas kembali," ujar Pramono saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Pramono menegaskan bahwa rasa khawatir yang berlebihan justru bisa memicu kepanikan yang tidak perlu di masyarakat. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta memastikan akan terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, seperti TNI dan Polri, guna menjamin bahwa Jakarta tetap aman, nyaman, dan ramah bagi siapa saja.
sumber bacaan: kompas, cnbc-indonesia, metrotv-video
Fenomena ini mendadak viral dan memicu spekulasi liar di media sosial. Banyak netizen mempertanyakan apakah ada potensi gangguan keamanan yang sedang diantisipasi oleh pihak pengelola.
Sudut Pandang Pengusaha
Murni Langkah PreventifKetua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menduga bahwa langkah yang diambil para pemilik mal ini murni didasari oleh alasan keamanan dan kehati-hatian. Pagar tersebut dipasang sebagai batas perimeter untuk memastikan alur keluar-masuk pengunjung lebih tertib dan terkendali.
Respons Pemerintah: Jangan Fearmongering, Jakarta Aman!
Melihat kehebohan ini, pemerintah bergerak cepat untuk menenangkan publik. Istana Kepresidenan melalui Penasihat Khusus Presiden Hasan Nasbi, bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso, pasang badan menjamin situasi Ibu Kota tetap kondusif. Mereka mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terkooptasi oleh narasi ketakutan (fearmongering) yang beredar di ruang digital.
Gubernur Minta Pagar Dibongkar
Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai respons pihak mal cenderung berlebihan dan memberikan citra yang kurang baik bagi wajah kota.
"Berkaitan dengan pemasangan pagar, saya juga mengamati. Mungkin bagian dari kekhawatiran, tetapi nanti pada saatnya pasti saya akan minta untuk pagar-pagar itu dilepas kembali," ujar Pramono saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Pramono menegaskan bahwa rasa khawatir yang berlebihan justru bisa memicu kepanikan yang tidak perlu di masyarakat. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta memastikan akan terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, seperti TNI dan Polri, guna menjamin bahwa Jakarta tetap aman, nyaman, dan ramah bagi siapa saja.
sumber bacaan: kompas, cnbc-indonesia, metrotv-video

0 comments :
Post a Comment