Petaka Sebelas Jam SPPG Sidoarjo
![]() |
| bupati sidoarjo |
Lorong-lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R.T. Notopuro dan RSI Siti Hajar Sidoarjo mendadak sesak pada Selasa malam, 1 September 2026. Sirene puluhan ambulans meraung memecah keheningan Kecamatan Tanggulangin. Di dalamnya, tubuh-tubuh lemas ratusan santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam tergolek menahan mual, pusing, dan dehidrasi akut.
Hingga Rabu sore, angka korban melonjak drastis menyentuh 566 jiwa. Investigasi awal menunjukkan racun tidak hanya menyusup ke dapur pesantren, melainkan merembet ke bangku sekolah dasar di SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2. Benang merah dari petaka massal ini mengarah pada satu titik: omreng aluminium berisi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pasokan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.
Jeda Sebelas Jam di Meja Dapur
Di sebuah dapur umum di kawasan Kalitengah, aktivitas memasak dimulai saat jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB. Di bawah todokan tenggat waktu, para pekerja mengolah menu hari itu: nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis, tempe bumbu bali, dan buah apel.
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, mengklaim seluruh prosedur telah dijalankan seperti biasa. "Mohon maaf ya, saya menyesal," ujarnya dengan nada bergetar saat ditemui awak media di Sidoarjo, Rabu kemarin.
Namun, penelusuran garis waktu menunjukkan adanya celah krusial pada manajemen rantai pasok makanan. Hidangan yang selesai dimasak sejak tengah malam itu baru dikirim ke tangan santri sekitar pukul 11.00 WIB—terdapat jeda waktu hingga sebelas jam sebelum makanan berpindah wadah ke omreng-omreng pembagian. Rentang waktu yang panjang dalam suhu ruang disinyalir menjadi inkubator empuk bagi perkembangbiakan bakteri patogen. Ditambah lagi, pihak pesantren menyebut ini kali pertama makanan didistribusikan menggunakan wadah omreng, dari yang biasanya menggunakan baskom.
"Titipan" Otoritas Pusat yang Buta Peta
Tragedi ini sekaligus menelanjangi rapuhnya koordinasi horizontal program andalan pemerintah pusat tersebut. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mendadak gagap saat mendapati wilayahnya diterjang keracunan massal.
Bupati Sidoarjo, Subandi, blak-blakan menyebut daerahnya kebobolan. Usai melakukan inspeksi mendadak ke dapur Kalitengah bersama perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Subandi mendapati fakta bahwa operator di lapangan bukanlah warga lokal.
"Itu miliknya orang Malang," kata Subandi dengan nada gusar saat berbicara dalam siaran on-air Radio Suara Surabaya, Rabu sore.
Menurut Subandi, Pemkab Sidoarjo selama ini berada dalam posisi 'buta' terkait operasional program di wilayah sendiri. BGN berjalan sendiri tanpa melibatkan pemerintah daerah secara langsung, baik dalam proses verifikasi, penunjukan titik koordinat SPPG, hingga rekam jejak para pengelolanya. Walhasil, fungsi pengawasan higienitas dari Dinas Kesehatan setempat pun luput dari hulu produksi.
Sanksi di Tengah Sorotan
Di Surabaya, riak dari Tanggulangin memicu tensi tinggi di Gedung DPRD Jawa Timur. Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, Adhy Karyono, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Usai menggelar rapat konsolidasi darurat bersama Wakil Gubernur Emil Dardak yang memimpin Satgas MBG Jatim, Pemprov bersiap mengambil langkah ekstrem.
"Sebagai pemerintah, kejadian yang kesekian kalinya ini tentu membuat kami sangat prihatin," tutur Adhy. Pemprov Jatim menilai SPPG Kalitengah telah melakukan kelalaian fatal dalam manajemen risiko pangan dan mendesak BGN menjatuhkan sanksi administratif hingga operasional yang berat.
Gayung bersambut, Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, langsung mengeluarkan surat suspend berat selama 30 hari untuk menghentikan total pasokan dari dapur Kalitengah. Sementara itu, sampel sisa bumbu bali dan telur orak-arik kini tertahan di laboratorium Dinas Kesehatan Sidoarjo. Uji laboratorium dipastikan menjadi pembuktian ilmiah: apakah petaka ini murni kelalaian dapur, atau potret buruk dari tata kelola program yang dipaksakan berjalan tanpa kendali mutu yang ketat.
sumber bacaan: detik-pemprov, detik-sppg, suara-surabaya






