Hasil Survei Semester II 2026: Menakar Persepsi Ahli Ekonomi Versus Realita
![]() |
| hasil survei pendapat ahli ekonomi |
Angka ini merupakan kristalisasi dari suara 33 ekonom dari total 63 responden yang dijaring lewat jajak pendapat daring sepanjang 21 September hingga 13 Oktober 2026. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) sengaja mengumpulkan para pemikir ini dari berbagai lini—mulai dari menara gading akademisi, peneliti think tank, pelaku sektor swasta, hingga analis institusi multinasional—untuk memotret ke mana arah angin ekonomi kita berembus.
Namun, di ruang-ruang diskusi, angka ini tentu harus dibaca dengan kepala dingin. Ini adalah potret persepsi dan kompas proyeksi kolektif pakar, bukan sebuah vonis mati yang memastikan roda ekonomi akan langsung karam di ujung tahun.
Jika dibedah lebih dalam, isi kepala para ekonom ini terbelah ke dalam beberapa spektrum kecemasan. Sebanyak 46 persen ahli dengan tegas menyebut kondisi kita "lebih buruk", dan 6 persen lainnya bahkan berani memberi label "jauh lebih buruk". Di zona abu-abu, ada 40 persen responden yang menilai ekonomi sekadar jalan di tempat alias stagnan. Sementara itu, optimisme menjadi barang langka; hanya 8 persen yang melihat ada tanda-tanda perbaikan, dan tak satu pun dari mereka yang berani mengklaim kondisi kita sedang "jauh lebih baik".
Mengapa ruang ramalan begitu sesak oleh pesimisme? Jawabannya ada pada dua hantu makroekonomi yang paling ditakuti pasar: inflasi yang mencekik dan sekaratnya lapangan kerja.
Di sektor moneter, 78 persen ahli bersepakat bahwa tekanan inflasi saat ini sudah masuk kategori tinggi hingga sangat tinggi. Ini adalah tamparan keras bagi daya beli kelas menengah bawah yang arlojinya terus berkejaran dengan harga barang pokok. Celakanya, badai ini merembet ke sektor riil. Sebanyak 73 persen ekonom menangkap potret buram ketenagakerjaan, di mana penciptaan lapangan kerja baru merosot tajam dibandingkan enam bulan lalu. Lesunya penyerapan tenaga kerja ini berkelindan erat dengan iklim bisnis yang kian anyep—56 persen ahli menyebut lingkungan usaha saat ini jauh dari kata kondusif.
Pada akhirnya, hasil survei LPEM FEB UI ini tidak boleh sekadar menjadi tumpukan kertas laporan di meja birokrat. Angka-angka ini adalah sebuah early warning system. Ia bertugas mengetuk pintu kesadaran para pengambil kebijakan di Lapangan Banteng dan Kebon Sirih agar segera meramu stimulus fiskal serta bauran moneter yang taktis. Sebelum persepsi buruk para arsitek ekonomi ini, benar-benar menjelma menjadi realita pahit yang harus ditanggung dompet rakyat.
sumber bacaan: republika, kontan, kontannews






