Rupiah Mau Jebol ke Rp22.000? Intip Curhat Orang 'Marketing' vs Kepala 'Pabrik' Ekonomi Kita
![]() |
| respon gubernur bi |
Mendengar ramalan seram itu, Bank Indonesia (BI) langsung pasang badan. Dengan nada tenang, BI menepis kepanikan tersebut. Menurut mereka, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih oke-oke saja. Tabungan negara (cadangan devisa) masih tebal, dan ekonomi kita tetap kokoh menghadapi badai.
Lho, kok bisa dua pihak ini sama-sama melihat data Indonesia tapi kesimpulannya bertolak belakang seperti bumi dan langit? Siapa yang benar?
Jawabannya: dua-duanya tidak ada yang salah. Mereka ibarat dua karyawan di perusahaan yang sama, tapi punya jabatan berbeda. Yang satu adalah orang Marketing (Pemasaran), dan yang satu lagi adalah Kepala Pabrik (Operasional).
Mari kita posisikan Hashim sebagai orang Marketing. Tugas orang marketing adalah menjaga etalase toko dan memastikan citra produk di mata pembeli (investor asing) selalu kinclong. Ketika melihat bursa saham kita mulai diisi oleh taktik curang saham gorengan dan toko kita terancam turun kasta, sang marketer tentu panik setengah mati. Ia tahu betul, kalau pembeli telanjur ilfeel dan kabur berjamaah, barang dagangan kita tidak akan laku dan modal asing akan ditarik massal. Ujung-ujungnya, nilai rupiah kita bisa runtuh ke angka Rp22.000. Peringatan keras Hashim ini sebenarnya adalah alarm agar kita segera berbenah sebelum terlambat.
Di seberang meja, ada Bank Indonesia yang bertindak sebagai Kepala Pabrik. Orang pabrik biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan gosip atau naik-turunnya harga saham harian di luar. Fokus mereka adalah isi dalam pabrik. Selama mesin-mesin masih memproduksi barang dengan lancar (pertumbuhan ekonomi bagus), harga barang di pasar tidak melonjak liar (inflasi terjaga), dan stok bahan baku di gudang masih melimpah, Kepala Pabrik akan bilang, "Tenang, kita aman." BI tahu bahwa dalam jangka pendek, kepanikan psikologis pembeli bisa membuat harga "saham" Indonesia drop. Namun, karena fondasi pabrik kita kuat, BI punya banyak alat dan strategi untuk menambal gejolak tersebut agar tidak sampai merusak dapur ekonomi masyarakat bawah.
Nah, dari perdebatan ini kita bisa belajar bahwa perbedaan pendapat ini sebenarnya sangat sehat. Tanpa adanya teguran dari orang Marketing seperti Hashim, pemerintah dan pengawas bursa mungkin akan cuek saja melihat etalase investasi kita dirusak tikus-tikus nakal. Sebaliknya, tanpa ketenangan dari Kepala Pabrik seperti BI, kepanikan di pasar saham bisa menular ke pasar tradisional dan membuat semua orang ikutan stres.
Jadi, tidak perlu panik berlebihan mendengarkan ramalan Rp22.000. Jadikan itu sebagai pengingat untuk bersih-bersih etalase bisnis negara, sembari tetap percaya bahwa pabrik ekonomi Indonesia masih punya pondasi yang kuat untuk bertahan.
sumber bacaan: kontan, cnbc-indonesia, info-bank






