Drama Semifinal Piala Dunia 2026: Ego vs Skandal VAR
![]() |
| Jude Bellingham |
Bellingham, sang pahlawan yang mencetak brace dengan total akumulasi kualitas tembakan tepat sasaran (xGOT) mencapai 0,16, membalas tajam, "Yeah well, whatever," sambil menyindir sang pelatih tidak merasakan kerasnya laga di lapangan. Di tengah badai ego tersebut, kapten Harry Kane tampil sebagai penengah. Kane membela Tuchel dengan menyatakan bahwa kritik tersebut ditujukan agar tim meningkatkan agresivitas saat status bola sedang "in contest" (perebutan bola bebas tanpa penguasaan kedua tim), yang menyita porsi signifikan dari waktu bersih permainan akibat dominasi fisik Norwegia.
Sementara itu, calon lawan Inggris, Argentina, melaju ke semifinal setelah melewati duel penuh skandal melawan Swiss yang berakhir 3-1 melalui babak extra-time. Laga tersebut pecah saat penyerang Swiss, Breel Embolo, menerima kartu merah kontroversial pada menit ke-72 akibat simulasi (diving) berdasarkan aturan baru VAR. Sebelum insiden itu, Swiss tampil sangat menyulitkan dengan membatasi Argentina hingga hanya menghasilkan total 2,00 xG, sementara Swiss membalas dengan 0,53 xG sepanjang 120 menit pertandingan.
Pelatih Swiss, Murat Yakin, mengamuk pascalaga dan mengecam intervensi teknologi yang dinilai kejam merusak keadilan sepak bola. Unggul jumlah pemain membuat Argentina mendominasi 59% penguasaan bola secara total. Striker Argentina, Julián Álvarez, yang mencetak gol indah penentu di babak tambahan, memuji kegigihan 10 pemain Swiss. Akibat spartan-nya tekanan Swiss, tercatat 28% dari total waktu bersih permainan dihabiskan dalam status "in contest" (perebutan bola) sebelum Argentina benar-benar bisa mengendalikan tempo. "Kami harus menderita," aku Álvarez, sebelum fokus beralih ke laga semifinal klasik melawan Inggris.
sumber bacaan: yahoo, the-guardian, detik, kompas






