Proyeksi Ekonomi Indonesia di mata Bank Dunia, IMF dan S&P
![]() |
| hasil hitung masa depan |
Pada awal tahun ini, pemerintah Indonesia menargetkan ekonomi Indonesia bisa tumbuh mencapai 5,4-5,6%.
Dalam laporan East Asia and Pacific (EAP) Economic Update April 2026 yang disampaikan 9 April 2026, World Bank atau Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026, lebih rendah dari proyeksi yang disampaikan Oktober 2025 lalu di level 4,8%.
Bank Dunia: Karena hambatan dari lonjakan hanya minyak dan sentimen risk-off dari pendapatan berbasis komoditas, serta insiatif investasi yang dipimpin pemerintah. Masalah di Indonesia: Segi pendidikan, masih banyak anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan membaca dan berhitung cukup rendah. Di sektor perdagangan, posisi Indonesia disebut termaginalkan dari rantai pasok manufaktur global, akibat adanya hambatan non-tarif. Dari sektor energi, Bank Dunia menyebut posisi Indonesia cukup rentan karena hanya memiliki kecukupan pasokan sekitar 1-2 bulan. Sementara, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah mencapai sekitar 4%.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen pada tahun 2026, sedikit di bawah estimasi sebelumnya sebesar 5,1 persen dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2026.
IMF : Negara berkembang dan negara pengimpor komoditas menghadapi risiko lebih berat, dengan depresiasi mata uang yang memperburuk dampak kenaikan harga energi dan pangan.
S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan tekanan fiskal Indonesia. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan profil kredit dan peringkat ke depan. S&P masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat Indonesia di level BBB namun masih ada resiko penurunan peringkat.
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings : menyoroti rasio pembayaran bunga Indonesia yang dinilai perlu dijaga agar tidak membebani fiskal ke depan. S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan tekanan fiskal Indonesia.
sumber data: idnfinancials, kumparan, tempo, kompas-bunga, kompas-fiskal, video-Inews
Dalam laporan East Asia and Pacific (EAP) Economic Update April 2026 yang disampaikan 9 April 2026, World Bank atau Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026, lebih rendah dari proyeksi yang disampaikan Oktober 2025 lalu di level 4,8%.
Bank Dunia: Karena hambatan dari lonjakan hanya minyak dan sentimen risk-off dari pendapatan berbasis komoditas, serta insiatif investasi yang dipimpin pemerintah. Masalah di Indonesia: Segi pendidikan, masih banyak anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan membaca dan berhitung cukup rendah. Di sektor perdagangan, posisi Indonesia disebut termaginalkan dari rantai pasok manufaktur global, akibat adanya hambatan non-tarif. Dari sektor energi, Bank Dunia menyebut posisi Indonesia cukup rentan karena hanya memiliki kecukupan pasokan sekitar 1-2 bulan. Sementara, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang telah mencapai sekitar 4%.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen pada tahun 2026, sedikit di bawah estimasi sebelumnya sebesar 5,1 persen dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2026.
IMF : Negara berkembang dan negara pengimpor komoditas menghadapi risiko lebih berat, dengan depresiasi mata uang yang memperburuk dampak kenaikan harga energi dan pangan.
S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan tekanan fiskal Indonesia. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan profil kredit dan peringkat ke depan. S&P masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat Indonesia di level BBB namun masih ada resiko penurunan peringkat.
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings : menyoroti rasio pembayaran bunga Indonesia yang dinilai perlu dijaga agar tidak membebani fiskal ke depan. S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan tekanan fiskal Indonesia.
sumber data: idnfinancials, kumparan, tempo, kompas-bunga, kompas-fiskal, video-Inews

0 comments :
Post a Comment