Selat Malaka Setelah Selat Hormuz
![]() |
| di muka singapore |
Selat Malaka di Asia Tenggara kembali menjadi sorotan setelah pejabat Indonesia mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat telah mengajukan proposal untuk mendapatkan izin militer menyeluruh melintasi wilayah udara Indonesia. Ini menyusul penandatanganan kesepakatan pertahanan pada 30 April 2026 lalu. Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa keputusan terkait usulan tersebut masih dalam proses.
Hal ini menjadi perhatian global di tengah proses blokade Selat Hormuz antara Iran-AS, kini mata mulai tertuju pada selat penting lainnya bagi perdagangan internasional.
Mengapa Selat Malaka penting secara global?
Merupakan jalur pelayaran terpendek dan paling efisien yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, sehingga menjadikannya rute yang tak tergantikan bagi perdagangan antara Timur Tengah, Eropa, dan Asia Timur. Selat ini terhubung langsung dengan Laut China Selatan, yang dilalui sekitar sepertiga dari total perdagangan global. Sebanyak 23,2 juta barel minyak per hari melintasi Selat Malaka pada paruh pertama 2025—setara dengan sekitar 29% dari total perdagangan minyak global melalui laut. Pada periode ini, jalur perairan ini juga menangani sekitar 260 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari. Sekitar 25% perdagangan mobil dunia melintas melalui selat ini. Kargo curah kering, seperti gandum dan kedelai, juga melewati Selat Malaka. Selat Hormuz memang sangat penting bagi perdagangan global, namun tidak berperan sebesar Selat Malaka sebagai pusat trans-shipment.
Seiring dengan penutupan Selat Hormuz dalam beberapa minggu terakhir, ketegangan telah meningkat di Asia Tenggara. Singapura sangat menentang negosiasi dengan Iran untuk membayar tarif di Selat Hormuz, Malaysia membela pembicaraannya dengan Iran, dan Presiden Prabowo Subianto menekankan kedekatan geografis Indonesia dengan Selat Malaka sebagai sumber kekuatan geopolitik sambil memperdalam kerja sama militer dengan AS.
sumber: bbc, kumparan
Hal ini menjadi perhatian global di tengah proses blokade Selat Hormuz antara Iran-AS, kini mata mulai tertuju pada selat penting lainnya bagi perdagangan internasional.
Mengapa Selat Malaka penting secara global?
Merupakan jalur pelayaran terpendek dan paling efisien yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, sehingga menjadikannya rute yang tak tergantikan bagi perdagangan antara Timur Tengah, Eropa, dan Asia Timur. Selat ini terhubung langsung dengan Laut China Selatan, yang dilalui sekitar sepertiga dari total perdagangan global. Sebanyak 23,2 juta barel minyak per hari melintasi Selat Malaka pada paruh pertama 2025—setara dengan sekitar 29% dari total perdagangan minyak global melalui laut. Pada periode ini, jalur perairan ini juga menangani sekitar 260 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari. Sekitar 25% perdagangan mobil dunia melintas melalui selat ini. Kargo curah kering, seperti gandum dan kedelai, juga melewati Selat Malaka. Selat Hormuz memang sangat penting bagi perdagangan global, namun tidak berperan sebesar Selat Malaka sebagai pusat trans-shipment.
Seiring dengan penutupan Selat Hormuz dalam beberapa minggu terakhir, ketegangan telah meningkat di Asia Tenggara. Singapura sangat menentang negosiasi dengan Iran untuk membayar tarif di Selat Hormuz, Malaysia membela pembicaraannya dengan Iran, dan Presiden Prabowo Subianto menekankan kedekatan geografis Indonesia dengan Selat Malaka sebagai sumber kekuatan geopolitik sambil memperdalam kerja sama militer dengan AS.
sumber: bbc, kumparan

0 comments :
Post a Comment