Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 : Peringatan Bank Dunia Untuk Rupiah

12 June 2026

Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 : Peringatan Bank Dunia Untuk Rupiah


ban
laporan bank dunia juni 2026

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia mencatat rupiah sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026, seiring keluarnya arus modal asing dan meningkatnya ketidakpastian global. Lembaga multilateral tersebut menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah terjadi setelah Indonesia menghadapi dua guncangan beruntun pada awal tahun.

Guncangan pertama berasal dari pasar keuangan domestik ketika MSCI mengumumkan peninjauan terhadap status sejumlah saham Indonesia dalam indeks pasar berkembang akibat kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan dan rendahnya porsi saham beredar bebas (free float). Gangguan kedua yaitu berkelanjutannya tekanan dari pasokan minyak dunia dan jalur pelayaran internasional ikut memperbesar tekanan terhadap inflasi, meningkatkan biaya subsidi energi, menekan rupiah hingga mempersempit ruang fiskal.

Disebut juga dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan defisit fiskal mencapai 2,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan tetap bertahan pada level yang sama pada 2027 sebelum turun tipis menjadi 2,7% pada 2028. Bank Dunia Ingatkan Tekanan Fiskal Indonesia belum mereda hingga 2028.

Dalam laporannya yang dirilis pada Kamis (11 Juni 2026), Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini juga menghadapi tekanan akibat arus keluar modal yang besar. Kondisi tersebut turut menekan nilai tukar rupiah ke level terendah sepanjang sejarah dan memicu pelemahan pasar saham di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana belanja pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5% pada 2026 seiring meningkatnya tekanan terhadap kondisi fiskal akibat program belanja pemerintah yang ambisius dan membengkaknya biaya subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang berada pada kisaran 5,4% hingga 6%.

sumber: kontan-rupiahkontan-fiskalidnfinancials

 

0 comments :

Post a Comment