Apa yang akan Terjadi setelah Rupiah Tembus Rp18.000?
![]() |
| melemah ke rp18.000 |
Berdasarkan data Investing, pada Kamis 4 Juni 2026 pukul 06.45 WIB, dollar hari ini tercatat berada di level Rp 18.015 per dollar AS. Data Google Finance menunjukkan kurs dolar ke rupiah sempat menyentuh Rp 18.022 per dollar AS pada malam sebelumnya. Data Bloomberg, pada Kamis 4 Juni 2026 pukul 09.30 WIB, kurs USD IDR berada di level Rp 18.028 per dollar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Chief Economist Bank Tabungan Negara Myrdal Gunarto menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sejumlah kondisi di dalam negeri. Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah 4 Juni 2026 berasal dari kombinasi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, berkurangnya pasokan valuta asing (valas) domestik, hingga meningkatnya ketidakpastian global.
Salah satu faktor utama yang menekan harga dolar 4 Juni 2026 terhadap rupiah adalah perpindahan dana investor global dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market).
Di sisi lain, mengutip RTI Infokom, IHSG lebih dahulu melemah 254,36 poin atau minus 4,11 persen ke level 5.941 pada penutupan 3 Juni 2026 sore. Bahkan, IHSG sempat anjlok hampir 5 persen, tepatnya 4,94 persen atau 305,9 poin ke level 5.889 pada penutupan sesi I. Pelemahan IHSG berbarengan dengan rupiah terhadap dolar AS disinyalir adanya pengaruh faktor eksternal, yakni meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Apakah ekonomi Indonesia sudah tak menarik di mata investor? Atau hal ini murni karena faktor eksternal saja?
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai ekonomi Indonesia belum kehilangan seluruh daya tarik di mata investor, tetapi pasar sedang meminta kompensasi risiko yang jauh lebih besar. Menurut Syafruddin, investor masih melihat Indonesia sebagai pasar besar dengan konsumsi domestik kuat, kelas menengah potensial, dan peluang investasi jangka panjang. Meski begitu, ia mengungkapkan masalahnya, yakni daya tarik investor cenderung melemah ketika rupiah terus tertekan, IHSG terkoreksi tajam, dan indeks kepercayaan pasar Indonesia berada pada level rendah.
Syafruddin Karimi:
Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P menegaskan yang perlu diwaspadai bukan hanya soal pelemahan rupiah atau IHSG, melainkan apabila pelemahan tersebut berkembang menjadi krisis kepercayaan (confidence crisis). Ia menyebut dalam ekonomi, sentimen sering kali sama pentingnya dengan data fundamental.
sumber berita: kompas, cnn-indonesia
Chief Economist Bank Tabungan Negara Myrdal Gunarto menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sejumlah kondisi di dalam negeri. Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah 4 Juni 2026 berasal dari kombinasi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, berkurangnya pasokan valuta asing (valas) domestik, hingga meningkatnya ketidakpastian global.
Salah satu faktor utama yang menekan harga dolar 4 Juni 2026 terhadap rupiah adalah perpindahan dana investor global dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market).
Di sisi lain, mengutip RTI Infokom, IHSG lebih dahulu melemah 254,36 poin atau minus 4,11 persen ke level 5.941 pada penutupan 3 Juni 2026 sore. Bahkan, IHSG sempat anjlok hampir 5 persen, tepatnya 4,94 persen atau 305,9 poin ke level 5.889 pada penutupan sesi I. Pelemahan IHSG berbarengan dengan rupiah terhadap dolar AS disinyalir adanya pengaruh faktor eksternal, yakni meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Apakah ekonomi Indonesia sudah tak menarik di mata investor? Atau hal ini murni karena faktor eksternal saja?
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai ekonomi Indonesia belum kehilangan seluruh daya tarik di mata investor, tetapi pasar sedang meminta kompensasi risiko yang jauh lebih besar. Menurut Syafruddin, investor masih melihat Indonesia sebagai pasar besar dengan konsumsi domestik kuat, kelas menengah potensial, dan peluang investasi jangka panjang. Meski begitu, ia mengungkapkan masalahnya, yakni daya tarik investor cenderung melemah ketika rupiah terus tertekan, IHSG terkoreksi tajam, dan indeks kepercayaan pasar Indonesia berada pada level rendah.
Syafruddin Karimi:
Pelemahan ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Yield US Treasury yang masih tinggi, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, harga energi, dan ketegangan geopolitik memang menekan aset negara berkembang. Jadi, Indonesia masih menarik secara potensi, tetapi kurang meyakinkan secara risiko. Investor tidak meninggalkan Indonesia karena peluangnya hilang, mereka menahan diri karena harga risiko Indonesia naik
Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P menegaskan yang perlu diwaspadai bukan hanya soal pelemahan rupiah atau IHSG, melainkan apabila pelemahan tersebut berkembang menjadi krisis kepercayaan (confidence crisis). Ia menyebut dalam ekonomi, sentimen sering kali sama pentingnya dengan data fundamental.
sumber berita: kompas, cnn-indonesia

0 comments :
Post a Comment