Ohh.. Rupiah

04 June 2026

Ohh.. Rupiah


 

asi
mata uang asia

Data Refinitiv per pukul 09.35 WIB 2 Juni 2026, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang mengalami depresiasi terhadap dolar AS, dua mata uang menguat, dan satu mata uang stagnan. Sehingga dapat dikatakan bahwa mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari itu. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan paling dalam. Mata uang Garuda melemah 0,39% ke posisi Rp17.900/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali menembus level psikologis serta level all time low baru.

Ringgit Malaysia melemah 0,28% ke posisi MYR 3,974/US$, disusul dong Vietnam yang turun 0,25% ke posisi VND 26.432/US$. Baht Thailand juga terkoreksi 0,09% ke posisi THB 32,67/US$, peso Filipina melemah 0,08% ke posisi PHP 61,677/US$, yuan China turun 0,06% ke posisi CNY 6,766/US$, sementara won Korea Selatan melemah tipis 0,03%. Dolar Taiwan masih mampu menguat 0,06%, sementara yen Jepang naik tipis 0,03% ke posisi JPY159,83/US$. Adapun dolar Singapura stagnan di posisi SGD 1,279/US$.

Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana mengatakan kebijakan BI Rate belum berpengaruh karena permasalahannya berada pada kepercayaan pasar mengenai kondisi fiskal Indonesia. Pasar melihat BI Rate naik, seharusnya imbal hasil SBN juga naik. Namun, kondisinya justru sebaliknya. BI Rate naik, tetapi imbal hasilnya tidak naik.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan kenaikan BI Rate dan intervensi BI tetap penting, tetapi tidak bisa sendirian menguatkan rupiah. BI sudah memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi spot, DNDF, NDF luar negeri, penguatan SRBI, pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian valas tanpa transaksi dasar, serta pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan pembelian dolar yang tinggi.

Beberapa bulan belakangan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dari Singapura dan Malaysia menyerbu ke Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. bertambah. Kawasan ini terbilang dekat untuk kunjungan wisata dari kedua negara.

Ketua Afiliasi Penukaran Valuta Asing (APVA), Amat Tantoso, yang juga pengusaha money changer di Batam:
Coba saja cek ke Pasar Penuin, BCS Mall, Grand Mall, dan kawasan Thamrin Nagoya (catatan: wisatawan Singapura dan Malaysia memang banyak datang ke Batam). Kenaikan itu membuat harga-harga di Singapura dan Malaysia otomatis lebih mahal, sehingga mereka memilih ke Batam untuk belanja sambil liburan

sumber: 

0 comments :

Post a Comment