September 2026

30 September 2026

Cibiran Kepada Timnas Indonesia


 

tim
timnas indonesia

Langkah Timnas Indonesia di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 mulai mendapat sorotan tajam. Setelah ditahan imbang tanpa gol oleh Malaysia pada Senin (28/9/2026), skuad Garuda kini panen cibiran dari publik sepak bola Asia Tenggara.

Media asal Vietnam, Tuoi Tre, melaporkan bahwa hasil imbang di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tersebut memicu berbagai komentar miring. Salah satu sentilan datang dari Buriram Prankster, halaman penggemar sepak bola asal Thailand, yang menyebut Malaysia tampil lebih baik daripada para pemain Eropa milik Indonesia.

Namun, jika dibedah lebih dalam, cibiran ini sebenarnya adalah awalan yang bagus untuk mengalahkan lawan. Saat ini, seluruh ekosistem sepak bola di Asia Tenggara sedang diselimuti rasa penasaran tinggi dan berambisi besar untuk menumbangkan Timnas Indonesia yang bertabur bintang.

Menariknya, di balik segala kritik yang ada, negara-negara tetangga justru dibuat terbelalak. Pada laga melawan Malaysia tersebut, Timnas Indonesia sukses memperagakan organisasi pertahanan kokoh yang sama sekali tidak terpikirkan oleh ekosistem sepak bola Asia Tenggara.

Malaysia, yang unggul jumlah pemain sejak Thom Haye dikartu merah pada menit ke-37, terbukti gagal total memanfaatkan situasi dan tidak mampu mengalahkan 10 pemain Indonesia selama hampir satu jam laga berjalan. Kegagalan Malaysia ini menjadi gambaran nyata betapa mengerikannya mentalitas dan kedalaman skuad Garuda. Jika dengan 10 pemain saja musuh bebuyutan dibuat frustrasi, ini adalah sinyal bahaya bagi lawan berikutnya.

Kini, saatnya pembuktian di laga pamungkas melawan Bangladesh, Kamis (1/10/2026) malam. Setelah memamerkan seni bertahan yang solid, pelatih John Herdman dipastikan akan mengubah pendekatan permainan menjadi sangat ofensif demi mengejar target banjir gol.

Jika kemarin Asia Tenggara disuguhi tembok kokoh pertahanan Indonesia, maka kini saatnya Bangladesh yang harus mencicipi ramuan gelombang tsunami serangan Timnas Indonesia yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Instruksi Herdman sangat jelas: pangkas jarak ke gawang lawan, lakukan rotasi sayap yang cepat, dan serang tanpa henti sejak peluit pertama dibunyikan.

Menanggapi riuh rendahnya tekanan eksternal, bek andalan Garuda, Justin Hubner, tampil tenang namun tegas untuk membakar semangat tim.

“Kami belum kiamat. Jangan putus asa, jangan menyerah sebelum peluit akhir turnamen berbunyi. Semua masih bisa diatur, dan kami akan membuktikannya langsung di lapangan,” ujar Hubner dengan keyakinan penuh.


sumber bacaan: suara, timnasional-news, kaltimku, rctiplus

Di Balik Tembok Lapas Cibinong


 

cib
lapas cibinong

Temuan Ombudsman Republik Indonesia mengenai eksistensi hunian premium di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kembali mengusik diskursus mendasar dalam sistem peradilan pidana kita: sejauh mana asas kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law) benar-benar diimplementasikan di dalam ruang isolasi jeruji besi?

Sumbu persoalan ini bukan sekadar komodifikasi fasilitas fisik yang menyerupai apartemen mewah. Lebih dari itu, perkara ini menyentuh aspek elementer dari keadilan distributif hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, sistem ini dibangun di atas fondasi kemanusiaan dan nondiskriminasi. Regulasi secara ketat melarang adanya privilese atau deferensiasi perlakuan yang diakibatkan oleh stratifikasi sosial, kapasitas ekonomi, maupun afiliasi politik warga binaan.

Anomali tata kelola ini terkuak menyusul inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Ombudsman pada 23 September 2026. Di dalam kawasan yang semestinya steril dari keistimewaan, tim pengawas mendapati deretan bangunan yang dilengkapi sofa, televisi, lemari pendingin, hingga meja makan. Di samping potensi distorsi keamanan, terdapat resistensi birokrasi saat tim pengawas hendak melakukan verifikasi lapangan.

Ketidakberesan tata kelola ini kian benderang dalam ruang dengar pendapat antara parlemen dan otoritas pemasyarakatan. Mantan Kepala Lapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto—yang kini telah dinonaktifkan—sempat menyatakan tidak ada sistem kamera pengintai (CCTV) di area tersebut. Namun, kesaksian itu dimentahkan oleh Anggota Ombudsman RI, Syafrida R. Rasahan. Otoritas pengawas memastikan adanya fisik kamera di salah satu bangunan, meski efektivitas fungsinya masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Sengkarut ini memicu respons cepat dari otoritas legislatif. Komisi XIII DPR RI, dipimpin Wakil Ketua Dewi Asmara bersama Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi, melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Rabu (30/9/2026). Di sana, bukti-bukti pelanggaran—termasuk keberadaan minuman beralkohol di dalam kamar hunian—masih ditemukan dalam kondisi utuh.

Sebagai langkah korektif, disepakati eksekusi pembongkaran terhadap 10 dari 13 bangunan mewah yang terbukti ilegal dan tidak terdaftar sebagai Barang Milik Negara (BMN). Kendati dilakukan secara responsif, prosedur hukum tetap di kedepankan. Anggota Komisi XIII, Rieke Diah Pitaloka, menegaskan bahwa seluruh material di dalam bangunan harus melalui proses inventarisasi dan penyegelan yang rigid sebelum peruntuhan dilakukan.

Langkah pembersihan yang tengah berlangsung di Pondok Rajeg ini semestinya tidak berhenti pada aspek seremonial pembongkaran fisik. Ini adalah momentum krusial bagi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk melakukan reformasi struktural, guna memastikan bahwa integritas hukum tidak dapat dinegosiasikan oleh kapital.

sumber bacaan: antara, cnn-indonesia, detik

28 September 2026

Timnas Kendor Lagi di Laga Kedua, Tahan Malaysia 0-0 Pakai 10 Pemain


 

NOL
duel panas di gbk

Duel panas bertajuk Derby Nusantara berakhir tanpa pemenang. Timnas Indonesia harus puas bermain imbang 0-0 melawan Malaysia dalam laga fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (28/9) malam WIB.

Laga berjalan penuh tensi tinggi sejak menit awal. Harimau Malaya langsung menggebrak lewat ancaman Faisal Halim dan Nooa Laine, namun beruntung bola masih melenceng tipis dari gawang Indonesia.

Petaka bagi Skuad Garuda datang di menit ke-37. Gelandang andalan Indonesia, Thom Haye, diganjar kartu merah langsung oleh wasit setelah peninjauan VAR akibat melanggar Arif Aiman. Bermain dengan 10 orang, Indonesia dipaksa bertahan total digempur habis-habisan oleh Malaysia. Aksi heroik Maarten Paes di bawah mistar gawang sukses menyelamatkan muka Indonesia dari kekalahan.

Dipuji Pelatih Malaysia
Ketangguhan benteng pertahanan Indonesia bentukan John Herdman malam itu sampai membuat pelatih Malaysia, Tan Cheng Hoe, geleng-geleng kepala. Meski anak asuhnya melepaskan 18 tembakan dengan 8 tepat sasaran, mereka frustrasi membongkar pertahanan Garuda.

"Kita tahu Indonesia punya pertahanan kuat. Di babak kedua, mereka bertahan dengan kedisiplinan tinggi. Pertahanan mereka sangat sulit dihancurkan oleh kami," aku Tan Cheng Hoe usai laga.

Erick Thohir: Fokus Lawan Bangladesh!
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, langsung pasang badan dan mengapresiasi daya juang para pemain yang jatuh bangun menahan Malaysia selama 70 menit. Namun, Erick meminta para pemain tidak larut dalam kekecewaan dan langsung mengalihkan fokus ke laga penentu.

"Fokus ke pertandingan selanjutnya melawan Bangladesh. Kesempatan masih ada," tegas Erick Thohir.

Ada Apa dengan Taktik John Herdman?
Meski menuai satu poin, hasil imbang ini memicu alarm bahaya. Netizen dan pencinta sepak bola tanah air mulai menyoroti performa Timnas Indonesia yang mendadak kendor di laga kedua. Tren negatif ini mirip dengan apa yang terjadi di Piala AFF lalu: perkasa di laga pembuka, melempem di laga berikutnya.

Publik pun mulai mempertanyakan ramuan taktik John Herdman. Apakah strategi Timnas Indonesia kini terlalu gampang dibaca oleh lawan setelah laga pertama? Atau justru coach Herdman yang sebetulnya belum mengenal betul karakter dan potensi terdalam dari anak asuhnya? Inkonsistensi ini jelas jadi PR besar yang harus segera dibenahi.

Skenario Lolos ke Final
Saat ini, Indonesia tertahan di peringkat kedua klasemen Grup A dengan 4 poin, kalah selisih gol dari Malaysia di puncak. Mengingat hanya juara grup yang berhak lolos ke partai puncak, laga hari Kamis (1/10) melawan Bangladesh menjadi harga mati.

Indonesia wajib menang besar demi menjaga asa lolos, sambil berharap Malaysia terpeleset dalam laga Causeway Derby melawan Singapura.

sumber bacaan: fifa, cnn-indonesia, kompas

Defisit BPJS Kesehatan dan Taruhan Mutu Layanan


 

def
bpjs kesehatan tekor

Ketahanan dana program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kembali menghadapi tantangan serius. Hingga September 2026, BPJS Kesehatan mencatat ketimpangan arus kas (cash flow gap) atau defisit sebesar Rp 14 triliun. Guna menjaga keberlanjutan pelayanan, Pemerintah menyetujui alokasi dana tambahan sebesar Rp 20 triliun.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito seusai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/9/2026), menjelaskan, realisasi penerimaan iuran hingga September 2026 baru mencapai Rp 118 triliun. Di sisi lain, akumulasi pembayaran manfaat pelayanan kesehatan kepada fasilitas kesehatan telah membengkak hingga Rp 132 triliun.

"Kondisi ini menimbulkan celah arus kas yang harus segera diatasi agar kami tetap dapat memenuhi kewajiban pembayaran pelayanan kesehatan kepada rekan-rekan di fasilitas kesehatan," ujar Prihati.

Akar Masalah Sistemik
Menurut Prihati, ketimpangan keuangan ini dipicu oleh empat faktor sistemik yang saling bertautan:
Rendahnya Keaktifan Peserta: Saat ini terdapat sekitar 52 juta peserta berstatus nonaktif karena menunggak iuran. Jika puluhan juta peserta ini kembali aktif membayar dengan besaran minimal setara Kelas 3, terdapat potensi tambahan pemasukan sebesar Rp 2 triliun per bulan atau Rp 24 triliun per tahun.
Stagnasi Regulasi Tarif: Prosedur penyesuaian tarif iuran belum dapat dieksekusi, meski usulan perubahan tersebut telah diajukan sejak enam tahun lalu.
Tekanan Demografi dan Medis: Adanya pengaruh inflasi biaya medis, pertumbuhan penduduk, pergeseran pola penyakit, serta peningkatan utilisasi layanan.
Tata Kelola Klaim Fasilitas Kesehatan: Penerapan sistem pembayaran berbasis volume (volume-based) memicu kecenderungan faskes mengejar kuantitas tindakan demi memperbesar klaim. Ke depan, BPJS Kesehatan akan menggeser orientasi ini menjadi berbasis nilai (value-based care) serta memperketat pengawasan terhadap potensi kecurangan (fraud).

Komitmen Mutu Layanan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, suntikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini harus diikuti dengan perbaikan mutu pelayanan di hilir. Pemerintah meminta jajaran manajemen BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan mitra untuk membenahi aspek operasional demi kenyamanan pasien.

"Presiden meminta agar dipastikan kualitas pelayanan JKN ditingkatkan. Waktu antrean harus dipersingkat. Ketika pasien datang, mereka harus dilayani dengan baik. Rumah sakit juga tidak boleh membeda-bedakan perlakuan antara pasien BPJS Kesehatan dan pasien umum," kata Budi.

Akselerasi Layanan Primer
Kondisi ini mendapat perhatian mendalam dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengingatkan bahwa selain tingginya beban pembiayaan penyakit katastrofik, tingginya angka peserta nonaktif menjadi risiko laten bagi stabilitas Dana Jaminan Kesehatan Nasional (DJN).

Oleh karena itu, Komisi IX DPR mendorong BPJS Kesehatan segera merumuskan langkah terobosan. Fokus utama harus diarahkan pada akselerasi reaktivasi kepesertaan, perluasan basis kepesertaan aktif, serta penguatan upaya promotif dan preventif secara masif di tingkat pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas dan klinik. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan beban biaya kuratif di masa depan.

sumber bacaan: detik, cnbc-indonesia, dpr_ri and netty_heryawan

27 September 2026

Angka Pasar vs Ujian Nyata Lapangan: Mengapa Indonesia vs Malaysia Kali Ini Berbeda?


 

tim
timnas di fifa asean 2026

Pertandingan antara Tim Nasional Indonesia melawan Malaysia pada matchday kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) bukan sekadar laga perebutan tiga poin. Lebih dari itu, bentrokan bertajuk Derbi Serumpun ini merupakan cerminan sempurna dari rivalitas terbesar dan paling emosional dalam sejarah sepak bola Asia Tenggara. Namun, ada hal baru yang membuat edisi 2026 ini berbeda dari sejarah pertemuan sebelumnya: kontrasnya angka nilai pasar industri modern dan ujian taktis yang sangat spesifik di atas lapangan hijau.

Rivalitas panjang ini memang memiliki akar sejarah geopolitik yang kuat sejak dekade 1950-an. Atmosfer magis dan tekanan mental di SUGBK selalu menjadi ujian terberat bagi siapa pun yang bertandang ke Jakarta. Namun, pada tahun 2026 ini, beban tersebut bertambah karena adanya motif emosional yang dibawa oleh kedua tim. Baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama menjadikan laga ini sebagai panggung "cuci dosa" atas prahara internal yang mereka alami sebelumnya. Kedua federasi sedang memikul beban psikologis yang berat untuk mengembalikan kepercayaan publik sepak bola di negara masing-masing.

Di kubu tuan rumah, Skuad Garuda mengusung misi penebusan setelah hasil mengecewakan pada turnamen regional sebelumnya. Kegagalan tersebut memicu gelombang evaluasi besar-besaran, yang berujung pada penunjukan pelatih baru John Herdman serta integrasi beberapa pemain keturunan baru. Di sisi lain, Malaysia datang ke Jakarta dengan membawa beban emosional yang tidak kalah berat. Sepak bola mereka baru saja diguncang skandal besar terkait pemalsuan dokumen pemain naturalisasi yang berujung pada sanksi berat dari FIFA. Badai kritik memaksa Harimau Malaya melakukan pembersihan skuad dan kembali bertumpu pada talenta lokal terbaik serta naturalisasi yang sah.

Di sinilah perbedaan mencolok edisi kali ini mulai terlihat, di mana dinamika emosional di luar lapangan langsung berbenturan dengan angka pasar industri sepak bola. Menilik data dari Transfermarkt via Tribunnews, Indonesia saat ini mendominasi secara finansial sebagai skuad termahal di turnamen dengan nilai total mencapai Rp379,53 miliar. Nilai fantastis ini unggul jauh dari Malaysia yang bernilai Rp126,02 miliar. Kehadiran pemain kelas Eropa seperti Kevin Diks, yang memegang rekor nilai pasar tertinggi sebesar Rp86,91 miliar, menyuntikkan kemewahan kualitas individu yang belum pernah dimiliki Skuad Garuda di edisi-edisi rivalitas sebelumnya. Sementara Malaysia sendiri masih bertumpu pada pemain berpengalaman seperti Dion Cools dengan nilai pasar Rp12,17 miliar.

Namun, esensi utama dari laga ini adalah bagaimana kemewahan "angka pasar" tersebut wajib diuji lewat "realitas lapangan" yang sesungguhnya. Realitas ini sudah terlihat dari tingkat kesulitan berbeda yang dihadapi kedua tim pada pertandingan pertama. Keberhasilan Indonesia menundukkan tim kuat Singapura dengan skor 2-0 mencerminkan kematangan taktis yang solid dan ketahanan mental di bawah tekanan tinggi. Ujian nyata bagi John Herdman malam ini adalah membuktikan apakah stabilitas taktis tersebut dapat dipertahankan secara konsisten di hadapan pendukung sendiri.

Sebaliknya, meskipun Malaysia datang dengan modal kemenangan telak 3-0, hasil tersebut didapat dari Bangladesh yang secara kualitas berada di bawah tingkat kompetitif grup. Fleksibilitas taktik Malaysia yang baru terbentuk pasca-skandal ini belum benar-benar teruji oleh intensitas permainan papan atas. Hal ini membuat laga di SUGBK menjadi pembuktian krusial bagi Harimau Malaya: apakah kemenangan perdana mereka merupakan cerminan kekuatan kolektif yang asli, atau sekadar efek menghadapi lawan yang kurang kuat.

Pada akhirnya, edisi Derbi Serumpun kali ini menjadi sangat berbeda karena menyajikan tesis sepak bola modern yang menarik. Pertandingan ini bukan lagi sekadar adu gengsi tradisional atau adu strategi 90 menit. Ini adalah panggung pembuktian apakah investasi mahal materi pemain Garuda mampu diterjemahkan menjadi dominasi nyata di lapangan, ataukah angka-angka pasar tersebut justru melahirkan tekanan baru yang mampu dimanfaatkan oleh kolektivitas taktis Malaysia. Gemuruh SUGBK malam ini yang akan menjadi saksi siapa penguasa sejati yang mampu menjawab ujian nyata lapangan tersebut.

sumber bacaan: detik, tirto, tribunnews

Asal Bapak Senang di Lahan Kering


 

ker
4 pejabat dicopot

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mencopot empat pejabatnya setelah memergoki laporan irigasi bodong. Di lapangan, sawah-sawah retak memendam ancaman bagi target swasembada.

Di atas meja kerja Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, data-data irigasi nasional itu bersolek begitu molek. Sebuah dashboard digital menampilkan peta Indonesia dengan indikator serba hijau—tanpa noktah merah sedikit pun. Di bawahnya, tertera klaim mentereng dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA): pasokan air telah sukses mengalir ke 73.000 hektare lahan, menyelamatkan padi-padi petani dari petaka gagal panen alias puso.

Namun, kabar dari jagat maya dan media massa justru menyalakkan nada sebaliknya: kekeringan mencekik di mana-mana.

Didorong rasa penasaran, Dody memutuskan melompati birokrasi meja kerjanya. Sabtu, 26 September lalu, ia turun langsung ke jantung lumbung pangan Jawa Barat. Benar saja, saat kakinya menginjak tanah kering di Desa Karangharja (Bekasi), Desa Sukatani (Karawang), hingga Desa Kedongdong (Cirebon), ia tak menemukan air. Yang ada hanya hamparan tanah retak-retak yang meranggas sejauh mata memandang.

"Di data dashboard, demi Allah tidak ada yang merah," kata Dody dengan nada getir saat ditemui Tempo di Cirebon, Minggu, 27 September kemarin. Nyatanya, ribuan hektare sawah di sana sekarat tanpa pasokan air. Padahal, solusi teknisnya sepele: air sungai mengalir melimpah hanya berjarak dua kilometer dari sana, tinggal ditarik dengan pompa elektrik dan pipa paralon.

Dody meradang. Ia sadar telah disuapi laporan "Asal Bapak Senang" alias PHP (pemberi harapan palsu) yang diduga telah berlangsung selama hampir dua tahun terakhir. "Mereka pikir coverage dari Sabang sampai Merauke ini terlalu besar, jadi Menteri tidak akan ngecek satu-satu," ujarnya ketus.

Hari itu juga, palu gada sanksi dijatuhkan. Empat pejabat di teras Ditjen SDA langsung digulung dari posisinya. Mulai dari Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan (BOP) SDA, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Pejabat Pembuat Komitmen, hingga Kepala Satuan Kerja. Surat keputusan pencopotan mereka diteken Senin, 28 September 2026, dan resmi berlaku efektif dalam 48 jam ke depan.

Cemas Andalan di Ujung Musim
Di balik drama bersih-bersih birokrasi Kementerian PU, bayang-bayang kelam kini menggelayuti meja makan masyarakat. Krisis manipulasi data irigasi ini membuka tabir rapuhnya fondasi swasembada pangan yang digadang-gadang pemerintah tercapai tahun ini.

Dody Hanggodo boleh saja memasang wajah optimistis. "Insya Allah tetap tercapai," ucapnya berulang kali seolah menepis kecemasan. Namun, angka-angka riil di lapangan berbisik lain.

Badan Pusat Statistik (BPS) merekam lampu kuning pada sisa kuartal tahun ini. Sepanjang Januari hingga September 2026, produksi beras untuk konsumsi nasional diperkirakan mandek di angka 28,71 juta ton—hanya merangkak tipis 0,01 persen dari tahun lalu. Lebih mengkhawatirkan lagi, performa panen pada periode Juli–September justru merosot 0,88 persen menjadi 9,36 juta ton. Cuaca ekstrem, keterlambatan musim tanam, hingga kepungan hama menjadi biang kerok yang terus menggerus proyeksi di atas kertas.

Kementerian Pertanian mencoba menebar angin segar dengan target produksi setahun penuh sebesar 34,77 juta ton. Di atas kalkulator pemerintah, angka itu diyakini bakal menyisakan surplus 3,67 juta ton setelah dikurangi kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton.

Namun, berkaca dari skandal laporan irigasi bodong di Bekasi dan Karawang, publik kini patut bertanya-tanya: sejauh mana angka-angka surplus di atas meja itu benar-benar mewujud jadi tumpukan beras di dalam gudang, dan bukan sekadar hijau di atas kertas?

sumber bacaan: inilah, kompas, voi

26 September 2026

Amanat Besi Rahmat Erwin


 

ke2
medali emas kedua asian games 2026

Nagoya City Trade and Industry Center mendadak senyap pada Sabtu sore, 26 September lalu. Di atas panggung beton berlampu benderang, Rahmat Erwin Abdullah berdiri tegak, menatap batangan besi seberat 206 kilogram yang diam membisu di lantai. Beban itu bukan sekadar angka kering di atas kertas; ia adalah pertaruhan nasib kontingen Indonesia yang sejak pagi terpuruk di peringkat ke-19 klasemen Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Dengan satu tarikan napas yang berat, lifter asal Makassar ini menyentak beban dalam teknik cleadengan satun and jerk. Besi terangkat, otot-ototnya menegang ekstrem, dan seketika gemuruh pecah di Nagoya. Total angkatan 366 kilogram—gabungan dari snatch 160 kilogram yang kokoh—tidak hanya menumbangkan rekor dunia, tetapi juga meruntuhkan ambisi perwakilan Thailand, Weeraphon Wichuma, yang harus puas mengekor di posisi perak dengan selisih tipis satu kilogram. Di tempat ketiga, lifter Korea Utara Ri Chong Song mengintip pasrah dengan jarak angka yang terlampang jauh.

Emas kedua untuk Indonesia pun sah dipeluk. Bagi olahraga tanah air, angkat besi adalah ruang sunyi yang konsisten merawat tradisi kejayaan. Jauh sebelum hiruk-piruk di Jepang berkumandang, cabor ini telah menancapkan 16 medali di panggung Olimpiade sejak fajar Sydney 2000, yang puncaknya ditandai oleh sejarah emas Rizki Juniansyah di Paris 2024. Di level regional Asia, lembaran sejarah mereka tidak kalah tebal: 24 medali telah dikemas hingga ketukan palu di Hangzhou 2022. Rahmat, lewat dingin tangannya, meneruskan estafet takdir dari para legenda terdahulu.

Pencapaian Rahmat sekaligus menjadi penawar dahaga bagi proyeksi realistis yang sempat dipatok Jakarta. Dua pekan sebelumnya, di bawah langit Jakarta pada 10 September, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir melempar target moderat: empat medali emas dari bilu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan wushu. Angka yang lebih rendah dari edisi Hangzhou ini lahir bukan tanpa alasan. Hilangnya nomor-nomor lumbung tradisi seperti perahu naga memaksa Indonesia melangkah dengan kalkulasi yang lebih rigid di turnamen yang bergulir hingga 4 Oktober mendatang.

Namun, di olahraga, matematika seringkali tunduk pada keajaiban di lapangan. Tambahan satu emas dari Rahmat langsung memicu efek domino di papan klasemen. Dalam hitungan jam sesudah upacara penghormatan pemenang, posisi Indonesia melesat lima tangga, bertengger di peringkat ke-14 dengan total koleksi 23 medali (2 emas, 4 perak, dan 17 perunggu).

Garuda kini mengintai Malaysia yang berada dua setrip di atasnya pada peringkat ke-12. Sementara di puncak tertinggi langit Aichi-Nagoya, raksasa olahraga China masih tak tersentuh dengan 105 emas, dibayangi ketat oleh Korea Selatan di urutan kedua (14 emas) dan sang tuan rumah Jepang di posisi ketiga yang meraup 31 emas. Bagi Indonesia, kompetisi belum usai, namun dari dinginnya besi di Nagoya, asa itu kembali membara.

sumber bacaan: kemenpora, bbc, cnn-indonesia

25 September 2026

Saat Pidato di PBB, Netanyahu Ditinggal Separuh Dunia


 

rua
ruang sidang pbb

Gelombang penolakan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terjadi secara serentak, baik di dalam maupun di luar Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Kamis (24/9/2026). Penolakan tersebut diwarnai aksi meninggalkan ruangan (walkout) oleh puluhan delegasi negara—termasuk Indonesia—serta demonstrasi di jalanan Manhattan yang berujung pada penangkapan aktris pemenang Oscar, Susan Sarandon.

Aksi boikot diplomatik terjadi saat Netanyahu berjalan menuju podium untuk menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum ke-81 PBB. Delegasi dari hampir 70 negara secara serentak bangkit dari kursi mereka dan keluar dari aula sidang.

Sejumlah negara, seperti Spanyol, Turki, Arab Saudi, Malaysia, Mesir, Yordania, Qatar, dan Iran, mengosongkan barisan kursi mereka atau hanya menyisakan satu diplomat junior. Langkah serupa juga diambil oleh delegasi Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela menyampaikan, aksi walkout tersebut merupakan sikap tegas dan bentuk solidaritas nyata Indonesia terhadap rakyat Palestina. Langkah ini sekaligus menjadi pesan kecaman atas pelanggaran hukum internasional dan kejahatan kemanusiaan yang terus berlangsung di wilayah pendudukan Palestina.

Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa kekerasan terhadap Palestina dan pelanggaran hukum internasional tidak dapat dinormalisasi.

Aksi di Luar Gedung
Tekanan di ruang sidang seirama dengan unjuk rasa di sekitar kompleks PBB oleh kelompok aktivis yang menuntut penghentian pasokan senjata dan genosida. Aksi yang memblokir jalanan Manhattan tersebut berujung pada penangkapan sekitar 30 demonstran oleh Kepolisian New York karena dianggap mengabaikan perintah pembubaran. Di antara mereka yang ditangkap terdapat figur publik Hollywood, yakni aktris Susan Sarandon dan Hannah Einbinder.

sumber bacaan: antara, detik, cnbc-indonesia, video

24 September 2026

Dari Taufik ke Ubed: Estafet Mental Juara Bulutangkis Beregu Putra Indonesia


 

asi
sang legenda taufik

Dari bangku penonton Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Aichi, ketegangan itu mengental. Indonesia sempat di ambang karam, tertinggal dua angka lebih dulu dari Tiongkok. Namun, malam itu, Kamis, 24 September, takdir berkata lain. Lewat sebuah comeback yang menguras saraf, tim bulu tangkis beregu putra Indonesia membalikkan ramalan. Di partai penentu, pundak muda Moh Zaki Ubaidillah—yang akrab disapa Ubed—berhasil memikul beban sejarah dengan menundukkan Weng Hongyang. Skor akhir 3-2. Medali emas pertama untuk Merah Putih di Asian Games 2026 akhirnya pecah telur.

Kemenangan dramatis ini langsung mengubah peta di papan klasemen. Seperti roket, posisi Indonesia yang semula terbenam di urutan ke-23 langsung melesat ke peringkat 16 pada penutupan hari Kamis. Kontingen kebanggaan Tanah Air kini mengantongi satu emas, empat perak, dan 15 perunggu—sebuah napas baru setelah lima hari berdarah-darah tanpa satu pun logam mulia di tangan.

Kabar gembira ini menjalar cepat melintasi batas negara, mengetuk pintu Istana. Lewat sambungan telepon video yang diunggah ke jagat maya, Presiden Prabowo Subianto tak mampu menyembunyikan rasa sukacitanya. "Malam ini saya menerima sambungan telepon dan mendapatkan kabar gembira dari para atlet Indonesia," tulis sang Presiden di Instagram.

Di sudut lain, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut kemenangan ini bukan sekadar perkara naik podium. Ini adalah pembuktian harga diri. "Kemenangan ini sangat istimewa karena setelah 28 tahun, Indonesia kembali meraih emas beregu putra bulu tangkis di Asian Games. Terakhir kali kita mendapatkan emas dari nomor ini adalah pada 1998," ujar Erick. Bagi Erick, malam di Aichi adalah bukti sahih bahwa jika dipersiapkan dengan matang, Indonesia tak pernah inferior di hadapan raksasa Asia.

Namun, drama di Ichinomiya malam itu tak hanya milik para jawara muda. Di pinggir lapangan, ada bayang-bayang masa lalu yang ikut bertanding: Taufik Hidayat. Sang legenda, yang kini mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, hadir menyaksikan langsung bagaimana lentera kejayaannya di masa lalu kini resmi diestafetkan kepada Ubed dan kawan-kawan.

Bicara Asian Games adalah membaca kembali riwayat Taufik. Ia adalah anomali—tunggal putra pertama sekaligus terakhir dari Indonesia yang mampu menggenggam emas secara beruntun (back-to-back).

Hikayatnya dimulai pada Asian Games 1998 di Bangkok. Dalam usia yang baru menginjak 17 tahun, Taufik tampil layaknya gladiator senior. Ia menjadi penentu kemenangan telak 4-0 atas Tiongkok setelah menekuk Luo Yigang di partai krusial nomor beregu. Empat tahun berselang, di Busan 2002, keangkuhannya di lapangan menjinakkan wakil tuan rumah Lee Hyun-il lewat permainan dua gim langsung. Puncaknya membekas di Doha 2006, ketika ia membungkus emas perorangan kedua setelah membungkam rival abadi, Lin Dan, 21-15 dan 22-20.

Malam itu di Ichinomiya, Taufik barangkali tidak lagi memegang raket. Namun, dari tatapan matanya, bara api Bangkok itu seperti telah berpindah sepenuhnya, membakar dada Ubed sebagai penerus takhta mental juara yang menolak menyerah di bawah kepungan Tiongkok.

Baku Kunci Dua Raksasa Dunia


 

as
enggan mundur

Landasan Joint Base Andrews sore itu mendadak menjadi panggung teatrikal yang mahal. Di atas karpet merah yang membentang, Donald Trump dan Melania berdiri tegak, menyongsong Xi Jinping dan Peng Liyuan yang baru saja menuruni tangga pesawat. Sebuah pemandangan langka sejak 1962—ketika seorang presiden Amerika Serikat sudi menjemput tamu negara langsung di pinggir landasan pangkalan militer. Sambutan tiga hari ini dipersiapkan dengan megah, seolah ingin menegaskan bahwa yang datang bukanlah sekadar tamu biasa, melainkan rival terberat dalam ring geopolitik abad ini.

Namun, kemegahan protokoler itu segera menguap begitu pintu ruang perundingan ditutup. Di balik senyum jabat tangan, Washington dan Beijing sebenarnya sedang mempertontonkan sebuah kebuntuan yang elegan. Trump datang dengan kalkulasi politik domestiknya; Xi datang membawa kecemasan ekonomi domestiknya yang mulai gerah. Berbagai isu berat, mulai dari algoritma kecerdasan buatan (AI), perang tarif perdagangan, hingga garis merah di Selat Taiwan, dihamparkan di atas meja. Ini adalah laga penuh taruhan tinggi bagi kedua pemimpin sejak Trump memulai masa jabatan keduanya.

Hasil perundingan pertama langsung dibacakan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent: sebuah napas buatan berupa perpanjangan gencatan senjata dagang selama dua bulan. Bagi pelaku pasar yang berharap ada keajaiban kontrak satu tahun, keputusan ini bagaikan guyuran air es. Analis dari UBS menyebut kompromi pendek ini setidaknya mampu menahan hubungan agar tidak pecah, meski pasar telanjur membaca ada keraguan besar di balik meja perundingan.

Kelesuan itu langsung menjalar ke lantai bursa. Keesokan harinya, Kamis, 24 September 2026, bursa saham China rontok. Indeks blue-chip CSI300 terjerembab hingga 1,7% dan Shanghai Composite melemah 1,2%—catatan penurunan harian terdalam dalam sebulan terakhir. Ketegangan pasar makin pekat karena Beijing gagal memboyong delegasi pengusaha papan atas mereka ke Washington. Pertemuan bisnis yang dirancang untuk melunakkan Trump batal terlaksana, menyisakan ruang kosong di ruang delegasi.

Bagi para pengamat, riak kecil di Washington ini adalah cerminan dari kejenuhan geopolitik global. "Xi sebenarnya tidak membutuhkan terobosan di Washington. Ia membutuhkan lebih banyak waktu. Begitu pula Washington," ujar Mikko Huotari, Direktur MERICS, sebuah lembaga kajian China yang berbasis di Berlin. Menurut Huotari, asumsi di Beijing sudah jelas: kedua negara akan terus saling mengunci dan membatasi gerak satu sama lain dalam jangka waktu yang lama. Ini bukan diplomasi untuk mencari solusi, melainkan seni mengelola kebuntuan strategis (strategic impasse).

Celakanya, ketika dua raksasa ini saling mengunci, belahan dunia lain ikut sesak napas. Di Brussels, Uni Eropa menatap kecemasan baru. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, pekan lalu berpidato lantang tentang datangnya gelombang kedua China Shock—banjiran teknologi hijau, baterai, dan mobil listrik murah dari Negeri Tirai Bambu yang pelan-pelan melumpuhkan kawasan industri utama Eropa.

Di saat yang sama, Eropa juga harus menahan hantaman dari sekutu lamanya sendiri. Trump, dengan watak proteksionisnya yang tak pernah pudar, terus mengancam Uni Eropa dengan tarif baru yang agresif sembari menggoyang pilar pertahanan NATO. Bahkan ketika Uni Eropa mencoba melirik Kanada dengan menawarkan status "anggota asosiasi," Trump langsung meradang dan menyebut gagasan itu "konyol." Sebuah gertakan sanksi langsung dilemparkan dari Washington ke Ottawa.

Di Washington, karpet merah mungkin sudah digulung kembali. Namun di atas papan catur global, Trump dan Xi Jinping masih berada di posisi yang sama: dua raksasa yang saling cengkeram, tidak bisa maju, namun enggan untuk mundur.
 
sumber bacaan: bbc, detik, kontan
 

23 September 2026

Membakar Asa di Ichinomiya


 

AG6
tim bulutangkis indonesia di asian games 2026

Cabang olahraga bulu tangkis secara historis selalu menempati kasta tertinggi dalam struktur tradisi juara Indonesia. Sejak resmi dipertandingkan pada Asian Games 1962 di Jakarta, cabang ini hampir tak pernah alpa mengibarkan bendera Merah Putih di podium tertinggi, baik dalam lingkup regional SEA Games, kontinental Asian Games, hingga panggung tertinggi Olimpiade.

Secara kumulatif, Indonesia telah mengamankan 99 medali di pentas Asia—terdiri dari 28 emas, 27 perak, dan 44 perunggu. Statistik impresif ini menempatkan Indonesia sebagai kekuatan raksasa kedua di bawah China, yang memimpin dengan torehan 47 medali emas.

Namun, sejarah tidak selalu berjalan linier. Dominasi Indonesia sempat goyah pada edisi 1970, 1986, dan 1990. Puncaknya terjadi pada Asian Games 2022, saat tim bulu tangkis Indonesia terpuruk tanpa membawa pulang satu pun medali emas—sebuah anomali yang sempat mengguncang rasa percaya diri publik pencinta tepok bulu Tanah Air.

Kini, ujian konsistensi sekaligus momentum pembalikan arah sejarah itu hadir di depan mata. Tim beregu putra Indonesia dijadwalkan menantang dominasi sang petahana, China, dalam partai final ideal Asian Games 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang, Kamis (24/9/2026) pukul 14.00 WIB.

Di atas kertas, laga ini mempertemukan dua poros kekuatan utama. Indonesia menempati posisi unggulan pertama, sementara China menguntit tepat sebagai unggulan kedua. Kendati demikian, kedua kubu membawa modal psikologis yang kontras. Saat China melangkah dengan keyakinan penuh berkat konsistensi mereka di berbagai turnamen mayor, termasuk Piala Thomas, Indonesia justru tengah merajut kembali serpihan kejayaan yang sempat hilang.

Partai final beregu putra ini bukan sekadar perebutan sekeping logam mulia, melainkan panggung pembuktian martabat. Seluruh harapan kini dititipkan di pundak para kesatria lapangan untuk menuntaskan dahaga emas dan menegaskan kembali posisi Indonesia di peta bulu tangkis Asia.

sumber bacaan: tirto, tribunnews, suara-merdeka

22 September 2026

Musim Hujan 2026 yang Terlambat dan Bertahap


 

bmk
hujan telat dan bertahap

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar kurang sedap: awal musim hujan periode 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia dipastikan molor. Penyebabnya adalah duet maut fenomena iklim: El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif. Kombinasi ini memperpanjang napas musim kemarau ekstrem, melampaui siklus normalnya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopahuluwakan, menyebutkan bahwa hingga September ini Indonesia sebenarnya masih mencengkeram puncak kemarau. Imbasnya, kepungan awan hujan tidak akan turun serentak, melainkan menyusup perlahan secara bertahap dari utara ke selatan.

Lanskap kedatangan hujan dipetakan bergelombang. Aceh, Sumatra Utara, dan Riau menjadi wilayah pembuka yang mencicipi hujan pada September. Memasuki Oktober, giliran Riau bagian selatan, Jambi, serta kawasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah bagian selatan yang mulai basah.

Gelombang besar baru tercipta pada November. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mencatat ada 185 zona musim (ZOM) yang akan serentak memasuki musim hujan pada bulan tersebut—meliputi Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, hingga sebagian besar Sulawesi. Sisanya, sebanyak 266 zona musim baru akan menyusul di bulan Desember.

Meski datang terlambat dan durasinya menjadi lebih pendek, volume air yang tumpah diprediksi tidak berkurang alias tetap normal. Di sinilah letak bahayanya. Artinya, volume air yang melimpah akan tercurah dalam durasi waktu yang jauh lebih singkat dan instan.

BMKG pun membunyikan alarm tanda bahaya untuk periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Perubahan drastis dari tanah yang kering kerontang ke guyuran air intensitas tinggi dalam waktu singkat adalah resep sempurna bagi lahirnya bencana hidrometeorologi. Publik diminta bersiap menghadapi ancaman banjir bandang dan tanah longsor yang mengintai di akhir tahun.

sumber bacaan: video-kompas, metrotv, video-detik

21 September 2026

Dahaga Juara di Sisa Umur


 

umu
legenda sepak bola

Kurniawan Dwi Yulianto tak bisa menyembunyikan gurat kerinduan di wajahnya. Berdiri di tengah riuhnya acara Trophy Tour FIFA ASEAN Cup 2026 di Jakarta, Minggu pekan lalu, penyerang legendaris Tim Nasional Indonesia era 1995–2005 itu melontarkan kalimat yang sarat beban emosional. "Saya berharap di sisa umur saya ini bisa menonton adik-adik kita mengangkat trofi juara," ujarnya.

Bagi Kurniawan, turnamen se-Asia Tenggara adalah cerita tentang rasa penasaran yang belum tuntas. Sedekade berseragam Merah Putih, ia bolak-balik merasakan atmosfer sengit di lapangan hijau, namun podium tertinggi selalu luput dari genggaman. Kini, di usianya yang tak lagi muda, dahaga gelar itu ia titipkan kepada generasi baru.

Harapan Kurniawan bukanlah angan-angan kosong. Rekan seangkatannya, Ponaryo Astaman, melihat ada angin perubahan yang berembus di tubuh Skuad Garuda saat ini. Di bawah asuhan arsitek taktik John Herdman, timnas kini dihuni oleh kombinasi pemain lokal yang matang serta barisan legiun diaspora yang mengecap kerasnya kompetisi Eropa. "Kita semua berharap para pemain memberikan kemampuan terbaiknya," kata Ponaryo, optimistis.

Sinyal tancap gas juga ditiupkan dari kursi federasi. Ketua Umum PSSI Erick Thohir terang-terangan memasang target tertinggi: juara. Tak ada pilihan lain, apalagi Indonesia memegang status sebagai tuan rumah edisi perdana turnamen yang kini berada di bawah naungan FIFA ini.

Di atas lapangan, aura optimistis itu menjalar ke benteng pertahanan terakhir Indonesia. Maarten Paes, kiper andalan Garuda, langsung melempar undangan terbuka kepada para suporter untuk membakar semangat tim. "Mari kita ciptakan atmosfer yang luar biasa bersama. Kami termotivasi menunjukkan level terbaik dan merayakan trofi ini bersama-sama," tutur Paes.

Ujian pertama Rizky Ridho dan kolega akan tersaji dalam hitungan hari. Tergabung di Grup A, Indonesia harus melewati adangan Singapura dalam laga pembuka pada 25 September di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta—yang dipastikan akan berubah menjadi lautan merah. Setelah itu, rivalitas klasik melawan Malaysia sudah menanti pada 28 September, sebelum ditutup dengan duel kontra Bangladesh pada 1 Oktober.

Sementara itu, laga di Grup B akan dihelat di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Turnamen yang akan bergulir hingga 8 Oktober ini bakal menjadi panggung pembuktian: apakah target juara PSSI adalah peta jalan yang realistis, atau sekadar ambisi di atas kertas. Bagi Kurniawan dan jutaan pencinta sepak bola di tanah air, jawabannya harus tersaji di lapangan.

sumber bacaan: antara, cnn-indonesia, detik

20 September 2026

Dugaan Pungli, Pegawai Disdik dan Kepala Sekolah Banyuasin Terjaring OTT


 

kep
polda sumsel lakukan ott

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sumatera Selatan melakukan operasi tangkap tangan di salah satu hotel di Kota Palembang, Kamis (17/9/2026). Operasi tersebut menyasar dugaan penyalahgunaan wewenang dan praktik pungutan liar di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin.

Kegiatan penindakan ini berlangsung di tengah acara bimbingan teknis yang sedang diikuti oleh sejumlah kepala sekolah. Dalam operasi tersebut, penyidik Subdit III Tipidkor mengamankan 23 orang untuk menjalani pemeriksaan intensif di Markas Polda Sumsel.

Dari total 23 orang yang diperiksa hingga Kamis malam, polisi menetapkan dua pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu bidang kelembagaan dan sarana prasarana Disdik Banyuasin, berinisial RB (30) dan RD (30), sebagai tersangka. Keduanya diduga memotong dana Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang bersumber dari APBN 2026. Sementara itu, 12 kepala sekolah dasar (SD) dan beberapa pihak penyedia barang yang sempat diamankan kini berstatus sebagai saksi.

Direktur Ditreskrimsus Polda Sumsel Komisaris Besar Donny Satriya Sembiring membenarkan adanya operasi tangkap tangan tersebut. Terkait detail konstruksi perkara dan hasil penyidikan lebih lanjut, Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Komisaris Besar Nandang Mu'min Wijaya menyatakan bahwa pihak kepolisian akan segera menggelar konferensi pers resmi untuk menyampaikan keterangan lengkap kepada publik.

sumber bacaan: jpnn, kompas, sumselupdate

18 September 2026

Kelanjutan Utang ”Whoosh” di Tangan Menkeu Baru


 

pur
mantan menkeu

Proses transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan dipastikan tidak akan mengganggu kelanjutan rencana penataan ulang beban fiskal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Kementerian Keuangan kini tengah memfinalisasi skema pengalihan kewajiban utang agar tidak memberikan tekanan langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebelumnya, momentum pergantian jabatan di Lapangan Banteng sempat memicu perhatian publik. Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, seusai upacara serah terima jabatan kepada Menteri Keuangan yang baru, Suahasil Nazara, di Jakarta, Selasa (15/9/2026), secara terbuka menyatakan rasa leganya karena tidak lagi memikul tanggung jawab atas beban keuangan megaproyek tersebut.

"Kan gue bukan Menteri Keuangannya. Alhamdulillah selamat gue," seloroh Purbaya saat merespons pertanyaan awak media mengenai kelanjutan tanggung jawab pengelolaan utang Whoosh. Ia menambahkan bahwa seluruh implementasi dari rencana mitigasi risiko fiskal yang telah dirancangnya kini sepenuhnya beralih ke kepemimpinan menteri yang baru.

Sebelum diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden Prabowo Subianto, Purbaya bersama tim Kemenkeu telah menyusun skema restrukturisasi utang Whoosh. Melalui negosiasi ulang tersebut, masa pengembalian utang (tenor) berhasil diperpanjang hingga 80 tahun dengan estimasi pembayaran cicilan sekitar Rp1 triliun per tahun. Rencana tersebut dirancang dengan mengalihkan beban pembayaran dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Kemenkeu melalui akuisisi saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI)—konsorsium BUMN Indonesia yang memegang kepemilikan di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Kepastian Keberlanjutan
Meskipun nakhoda bendahara negara berganti, pemerintah bergerak cepat untuk memastikan kepastian hukum dan finansial dari aksi korporasi ini. Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu, Evita Manthovani, menegaskan bahwa skema pengalihan aset strategis tersebut telah ditetapkan secara detail guna mengisolasi risiko agar tidak membebani kas negara.

Dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta pada Jumat (18/9/2026), Evita menyampaikan bahwa finalisasi pengalihan saham PT PSBI ke pemerintah melalui Kemenkeu terus berjalan tanpa melibatkan APBN secara langsung. Sebagai wujud prinsip kehati-hatian (prudent), Kemenkeu menggelar uji tuntas dan evaluasi nilai wajar saham yang mencakup analisis finansial, proyeksi jangka panjang, hingga kepatuhan hukum. Langkah ini disempurnakan melalui penyusunan Rancangan Peraturan Presiden serta koordinasi lintas lembaga dengan Badan Pengelola BUMN dan BPI Danantara.

sumber bacaan: cnbc-indonesia, detik, bisnis

11 September 2026

Mengenang 9/11 Tanpa Dendam


 

dam
25 tahun lalu

Dua puluh lima tahun sejak tragedi 11 September 2001 merenggut ribuan nyawa, sebuah pesan kuat menggema dari Ground Zero: duka mendalam dan kehilangan terbesar sekalipun tidak boleh menjadi pembenaran untuk melahirkan siklus kekerasan baru di atas bumi. Peringatan seperempat abad salah satu serangan teror paling kelam dalam sejarah modern ini menjadi momen penting untuk merawat ingatan, bukan untuk merawat dendam, melainkan untuk meneguhkan komitmen global terhadap perdamaian dunia.

Refleksi Seperempat Abad: Mengubah Luka Menjadi Harapan
Peringatan yang digelar secara khidmat pada Jumat (11/9/2026) di New York, Washington, dan Pennsylvania memanggil kembali memori kelam ketika 19 pembajak al-Qaeda merampas empat pesawat komersial. Dua pesawat menghancurkan Menara Kembar WTC, satu pesawat menghantam Pentagon, dan pesawat keempat jatuh di Shanksville setelah perlawanan berani dari awak dan penumpangnya.

Hampir 3.000 jiwa tewas dalam hitungan jam pada hari Selasa Kelabu tersebut. Namun, alih-alih membiarkan sejarah mencatat peristiwa ini sebagai pemantik permusuhan abadi, peringatan 25 tahun ini meletakkan fokusnya pada pemulihan, rasa empati, dan rekonsiliasi. Di Pentagon, memorial 184 bangku baja tahan karat tegak berdiri menghadap lokasi hantaman pesawat—menjadi pengingat abadi bahwa setiap nyawa yang hilang adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah kebencian.

Aksi Nyata Keluarga Korban: Suara Lantang untuk Damai
Manifestasi nyata dari tajuk "tanpa dendam" ini dipelopori langsung oleh mereka yang paling terluka—para keluarga korban serangan. Dalam sebuah aksi damai yang mengharukan, mereka melakukan longmarch dari Union Square menuju Ground Zero dengan membawa pesan refleksi yang mendalam. Bagi mereka, mengenang kepergian orang-orang tercinta adalah tentang berjalan maju mencari dunia yang lebih aman, bukan menuntut aksi balas dendam yang hanya akan melahirkan korban-korban baru.

Melalui seruan hak asasi manusia dan penghentian kekerasan universal, kelompok keluarga korban ini membuktikan bahwa cara terbaik untuk menghormati memori para korban adalah dengan memutus mata rantai kebencian. Dua puluh lima tahun telah berlalu, dan dunia kini belajar dari Ground Zero bahwa benteng terkuat melawan terorisme bukanlah senjata ataupun perang susulan, melainkan keteguhan hati untuk tetap memilih jalan damai.

sumber bacaan: wikipedia,media-indonesia, metrotv-video

10 September 2026

AHY Klarifikasi Pidato Politik, Prabowo Legawa


 

pol
pidato politik

Di bawah atap Indonesia Arena, Jakarta, Rabu malam, 9 September 2026, ketegangan politik yang sempat memantik kasak-kusuk di lingkar koalisi mendadak mencair. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memilih panggung puncak perayaan HUT ke-25 partainya untuk meredam riuh interpretasi liar yang menggelinding dalam beberapa hari terakhir.

Semua bermula dari pidato politik AHY pada Sabtu, 5 September 2026. Kalimatnya lugas namun tajam: "Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya, kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu.". Ia juga mengingatkan agar hak politik rakyat tidak dihalang-halangi dan menegaskan esensi checks and balances dalam demokrasi. Bagi sejumlah partai pro-pemerintah, kalimat itu bukan sekadar refleksi, melainkan sinyal awal manuver AHY menuju Pilpres 2029.

Sadar bahwa pernyataannya memicu multitafsir di barisan pendukung pemerintah, AHY segera melempar jangkar klarifikasi. "Maksudnya sederhana, kami ingin menyemangati kader, kami ingin menegaskan kembali nilai-nilai dan jati diri perjuangan Partai Demokrat," kata AHY di podium. Di bawah tatapan langsung Prabowo, sang menteri menegaskan bahwa pidato tersebut murni refleksi internal untuk para kadernya, sekaligus mengunci komitmen bahwa Demokrat tetap berdiri kokoh mengawal jalannya pemerintahan saat ini.

Mendengar pembelaan itu, Prabowo Subianto memilih merespons dengan gaya legawa yang tak terduga. Alih-alih tersinggung oleh diksi "batas kekuasaan", sang Presiden justru menyambutnya sebagai vitamin bagi alam demokrasi. “Bangsa yang besar, yang sudah memilih jalan demokrasi, harus berterima kasih atas kritik dan koreksi,” ujar Prabowo disambut riuh tepuk tangan. Bagi Prabowo, riak kecil ini selesai ketika AHY secara tegas menggarisbawahi itikad Demokrat untuk tetap bekerja total bersama pemerintah demi rakyat.

Di luar panggung retorika, para analis membaca ada strategi PR politik yang sedang dimainkan. Analis politik dan militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai wajar jika publik menangkap adanya aroma kontestasi 2029 dalam pidato tersebut. Dengan posisi ganda yang strategis—sebagai nakhoda partai sekaligus menteri di kabinet Prabowo—setiap narasi kritis yang dilemparkan AHY secara otomatis menaikkan visibilitas politiknya di papan catur menuju pemilu mendatang.

Namun malam itu di Indonesia Arena menjadi bukti: untuk saat ini, riak di internal koalisi berhasil diredam. AHY telah menuntaskan klarifikasinya, dan Prabowo menyambutnya dengan kelapangan dada seorang mentor politik.


sumber data & bacaan: kompas, tirto, suara

07 September 2026

Statistik Semu di Balik Dompet Pensiun yang Kosong


pen
pensiun dipersiapkan sejak muda

Pada mulanya adalah angka yang menenangkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan di republik ini tinggal 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta jiwa. Sebuah torehan yang jamak dipakai para birokrat untuk menepuk dada, mengklaim bahwa kesejahteraan telah merembes ke bawah. Namun, kenyamanan itu mendadak buyar ketika Bank Dunia melempar laporan Macro Poverty Outlook. Menggunakan standar negara berpendapatan menengah-atas (upper-middle income), lembaga donor itu menyodorkan potret yang kelam: 64,2 persen penduduk Indonesia nyatanya hidup di bawah garis kemiskinan.

Dua angka yang saling bertolak belakang ini bukanlah anomali matematika, melainkan cermin dari sebuah realitas yang jamak diabaikan: kemiskinan terselubung.

BPS mengukur kemiskinan dengan pendekatan kebutuhan dasar kalori dan fisik yang sangat minimalis (sekitar Rp669 ribu per kapita sebulan). Siapa pun yang memegang uang Rp700 ribu per bulan secara resmi dicatat sebagai "tidak miskin". Padahal, di dunia nyata, dengan uang segitu di dompet, jangankan memikirkan masa depan, untuk bertahan hidup dari kepungan inflasi harian saja sudah seperti senam jantung.

Hidup Pas-pasan, Pensiun Lontang-lantung
Di sinilah benang merah itu berkelindan dengan masa depan angkatan kerja kita. Sebanyak 64,2 persen populasi yang disebut Bank Dunia berada di zona rentan itu adalah mereka yang kerap kita sebut "kelas menengah ngehe" atau aspiring middle class. Mereka tidak kelaparan, mampu membeli kopi susu kekinian, dan sanggup mencicil sepeda motor. Namun, fondasi ekonomi mereka rapuh. Mereka hanya berjarak satu kali pemutusan hubungan kerja (PHK) atau satu kali tagihan rumah sakit dari jurang kemiskinan absolut.

Bagaimana mungkin kita bisa berkhotbah tentang pentingnya menyisihkan iuran dana pensiun kepada kelompok ini?

Ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluhkan indeks literasi dana pensiun yang hanya 22 persen, mereka mungkin lupa melihat isi dompet struktural masyarakat. Rendahnya kepesertaan dana pensiun—yang berbanding terbalik dengan total dana kelolaan industri yang mencapai Rp1.669 triliun—bukanlah semata-mata karena pekerja kita bebal atau doyan berfoya-foya. Ini adalah akibat logis dari pendapatan yang habis tak bersisa untuk menyambung hidup dari bulan ke bulan.

Bom Waktu Sektor Informal
Kondisi ini kian runyam jika kita menengok struktur angkatan kerja kita yang 60 persennya didominasi sektor informal. Jutaan pengemudi ojek daring, pekerja lepas, dan pedagang mandiri bergerak tanpa jaring pengaman. Mereka adalah aktor utama dari persentase kemiskinan versi Bank Dunia tersebut: mandiri secara ekonomi hari ini, namun buta total terhadap jaminan hari tua.

Ketika Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan ancaman penuaan penduduk (aging population), sejatinya ia sedang menunjuk pada sebuah tragedi yang sedang mengintip. Tanpa reformasi radikal pada sistem jaminan sosial, ratusan juta pekerja rentan yang hari ini dianggap "aman" oleh statistik domestik, kelak akan bertransformasi menjadi jutaan lansia miskin yang terlantar.

Pemerintah tak bisa lagi sekadar bersembunyi di balik angka kemiskinan satu digit versi BPS untuk menjustifikasi bahwa semua baik-baik saja. Menatap angka 64,2 persen dari Bank Dunia harusnya menjadi alarm keras. Jaminan pensiun tidak akan pernah bisa diakses oleh mayoritas angkatan kerja selama definisi "sejahtera" di negeri ini masih dipatok pada batas batas bawah bertahan hidup. Kita sedang mempertaruhkan masa tua sebuah generasi di atas fondasi statistik yang semu.

sumber bacaan: kontan, antara, waspada

 

06 September 2026

Kasus Dugaan Keracunan Massal, BGN Serahkan Proses Hukum ke Kepolisian


 

mbg
menko pangan

Hampir 2.000 orang—sebagian besar anak-anak—diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Selasa (1/9) hingga Kamis (3/9). Lokasi kejadian tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur), Kabupaten Rembang (Jawa Tengah), Kabupaten Agam (Sumatera Barat), hingga Tana Toraja (Sulawesi Selatan).

Merespons gelombang kasus ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyatakan bahwa sejumlah titik dapur MBG yang bermasalah kini tengah diselidiki pihak kepolisian. Beberapa kasus bahkan sudah dinaikkan ke tahap penyidikan. Namun, BGN menyerahkan sepenuhnya penentuan unsur pidana dan penetapan tersangka kepada aparat penegak hukum. "Sejauh ini, laporan yang kami terima dari kepolisian, beberapa titik dapur yang kemudian menyebabkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan itu dilakukan penyelidikan dan ada yang sudah naik penyidikan," ujar Sudaryono usai rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), meluruskan bahwa khusus untuk klaster insiden keracunan yang menimpa 748 santri dan pelajar di Sidoarjo, hal tersebut murni disebabkan oleh kelalaian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam proses distribusi, bukan karena kualitas dapurnya. Zulhas menyoroti masalah kedisiplinan dan budaya kerja, seperti keterlambatan pengiriman serta penempatan makanan yang sembarangan. “Dapur bagus, semua bagus, tapi budaya ya. Misalnya masak harusnya dikirim jam 6, mungkin bangunnya kesiangan, dikirimnya jam 11 siang. Itu menimbulkan keracunan kalau masak jam 6, makannya jam 11,” tegas Zulhas di Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).

sumber bacaan: bbc, kompas, rmol

02 September 2026

Petaka Sebelas Jam SPPG Sidoarjo


 

sid
bupati sidoarjo

Ratusan santri bertumbangan akibat menu Makan Bergizi Gratis yang mengendap belasan jam di suhu ruang. Menelanjangi karut-marut koordinasi Badan Gizi Nasional yang berjalan sendiri tanpa memedulikan pemerintah daerah.

Lorong-lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R.T. Notopuro dan RSI Siti Hajar Sidoarjo mendadak sesak pada Selasa malam, 1 September 2026. Sirene puluhan ambulans meraung memecah keheningan Kecamatan Tanggulangin. Di dalamnya, tubuh-tubuh lemas ratusan santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam tergolek menahan mual, pusing, dan dehidrasi akut.

Hingga Rabu sore, angka korban melonjak drastis menyentuh 566 jiwa. Investigasi awal menunjukkan racun tidak hanya menyusup ke dapur pesantren, melainkan merembet ke bangku sekolah dasar di SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2. Benang merah dari petaka massal ini mengarah pada satu titik: omreng aluminium berisi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pasokan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.

Jeda Sebelas Jam di Meja Dapur

Di sebuah dapur umum di kawasan Kalitengah, aktivitas memasak dimulai saat jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB. Di bawah todokan tenggat waktu, para pekerja mengolah menu hari itu: nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis, tempe bumbu bali, dan buah apel.

Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, mengklaim seluruh prosedur telah dijalankan seperti biasa. "Mohon maaf ya, saya menyesal," ujarnya dengan nada bergetar saat ditemui awak media di Sidoarjo, Rabu kemarin.

Namun, penelusuran garis waktu menunjukkan adanya celah krusial pada manajemen rantai pasok makanan. Hidangan yang selesai dimasak sejak tengah malam itu baru dikirim ke tangan santri sekitar pukul 11.00 WIB—terdapat jeda waktu hingga sebelas jam sebelum makanan berpindah wadah ke omreng-omreng pembagian. Rentang waktu yang panjang dalam suhu ruang disinyalir menjadi inkubator empuk bagi perkembangbiakan bakteri patogen. Ditambah lagi, pihak pesantren menyebut ini kali pertama makanan didistribusikan menggunakan wadah omreng, dari yang biasanya menggunakan baskom.

"Titipan" Otoritas Pusat yang Buta Peta
Tragedi ini sekaligus menelanjangi rapuhnya koordinasi horizontal program andalan pemerintah pusat tersebut. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mendadak gagap saat mendapati wilayahnya diterjang keracunan massal.

Bupati Sidoarjo, Subandi, blak-blakan menyebut daerahnya kebobolan. Usai melakukan inspeksi mendadak ke dapur Kalitengah bersama perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Subandi mendapati fakta bahwa operator di lapangan bukanlah warga lokal.

"Itu miliknya orang Malang," kata Subandi dengan nada gusar saat berbicara dalam siaran on-air Radio Suara Surabaya, Rabu sore.

Menurut Subandi, Pemkab Sidoarjo selama ini berada dalam posisi 'buta' terkait operasional program di wilayah sendiri. BGN berjalan sendiri tanpa melibatkan pemerintah daerah secara langsung, baik dalam proses verifikasi, penunjukan titik koordinat SPPG, hingga rekam jejak para pengelolanya. Walhasil, fungsi pengawasan higienitas dari Dinas Kesehatan setempat pun luput dari hulu produksi.

Sanksi di Tengah Sorotan
Di Surabaya, riak dari Tanggulangin memicu tensi tinggi di Gedung DPRD Jawa Timur. Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, Adhy Karyono, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Usai menggelar rapat konsolidasi darurat bersama Wakil Gubernur Emil Dardak yang memimpin Satgas MBG Jatim, Pemprov bersiap mengambil langkah ekstrem.

"Sebagai pemerintah, kejadian yang kesekian kalinya ini tentu membuat kami sangat prihatin," tutur Adhy. Pemprov Jatim menilai SPPG Kalitengah telah melakukan kelalaian fatal dalam manajemen risiko pangan dan mendesak BGN menjatuhkan sanksi administratif hingga operasional yang berat.

Gayung bersambut, Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, langsung mengeluarkan surat suspend berat selama 30 hari untuk menghentikan total pasokan dari dapur Kalitengah. Sementara itu, sampel sisa bumbu bali dan telur orak-arik kini tertahan di laboratorium Dinas Kesehatan Sidoarjo. Uji laboratorium dipastikan menjadi pembuktian ilmiah: apakah petaka ini murni kelalaian dapur, atau potret buruk dari tata kelola program yang dipaksakan berjalan tanpa kendali mutu yang ketat.

sumber bacaan: detik-pemprov, detik-sppg, suara-surabaya

Ketika Dinding Himalaya Jebol Tanpa Hujan


 

tib
di perbatasan nepal-tibet

Langit di atas perbatasan Nepal-Tibet mendadak runtuh ketika jutaan kubik gletser purba ambrol dari ketinggian 5.200 meter dan menyapu desa-desa di hilir tanpa ada tanda-tanda hujan ekstrem. Horor iklim baru akibat jebolnya bendungan alami Sungai Lhende Khola ini tidak hanya menelan ribuan korban jiwa, tetapi juga memicu ketegangan geopolitik antara Beijing dan Kathmandu. 

Tudingan miring itu buru-buru ditepis Beijing. Kementerian Luar Negeri China membantah keras anggapan bahwa proyek pembangkit listrik tenaga air (hydropower) raksasa milik mereka di Tibet menjadi biang keladi banjir bandang yang meluluhlantakkan perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu, 26 Agustus lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengklaim investigasi bersama para ahli dari kedua negara menunjuk satu tertuduh: alam. Bencana itu, kata Guo, murni dipicu runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal yang memicu longsoran berantai. “Tuduhan terhadap proyek China sama sekali tak berdasar,” ujarnya dalam konferensi pers di Beijing, Senin, 31 Agustus lalu.

Sebagai gantinya, Beijing memamerkan diplomasi uluran tangan. Guo menyebutkan 50 ton bantuan gelombang pertama telah diterbangkan ke Kathmandu, lengkap dengan kiriman tim ahli penyelamat terowongan. China juga membuka akses data satelit, citra hidrologi, serta sistem peringatan dini danau penghalang di hulu untuk menyokong Nepal.

Banjir bah di pengujung Agustus ini memang ganjil. Lembah Himalaya diterjang gelombang es, lumpur, dan batu tanpa didahului hujan ekstrem. Di sinilah para ilmuwan bekerja dengan penuh kehati-hatian. Alih-alih langsung menunjuk hidung perubahan iklim sebagai kambing hitam instant, para peneliti mulai membedah anomali ini bak detektif forensik.

Mata satelit mulanya menangkap keanehan: bagian bawah gletser di ketinggian 5.200 meter di atas permukaan laut mendadak amblas, merosot sejauh satu kilometer ke dasar lembah. Penelusuran lebih jeli dilakukan oleh para ahli di Institut Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV). Dengan cermat, mereka memeriksa ulang grafik gelombang yang semula dikira gempa tektonik biasa. Hasilnya mengejutkan: getaran itu rupanya sinyal seismik dari gesekan masif runtuhan dinding es hulu.

Para ilmuwan menyimpulkan material es dan batu itu sempat menyumbat aliran Sungai Lhende Khola secara senyap. Ketika bendungan alami ini tak lagi kuat menahan volume air bawah tanah yang menghangat akibat pemanasan global, jutaan kubik material jebol seketika. Bagi para peneliti, tragedi Nepal adalah cetak biru baru yang menuntut kehati-hatian tinggi dalam memetakan bahaya laten pemanasan global—ia tak lagi datang lewat hujan, melainkan runtuhnya fondasi bumi yang paling dingin.

Di Jakarta, Kementerian Luar Negeri RI bergerak cepat memetakan posisi warga negara Indonesia (WNI). Direktur Pelindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, memastikan seluruh WNI di Nepal dalam kondisi aman. Per Senin, 31 Agustus lalu, tercatat ada 45 WNI menetap (residen) dan enam turis domestik yang terdeteksi di wilayah Pokhara. "Seluruhnya dalam keadaan baik," kata Heni.

Namun, situasi di lapangan masih mencekam. Hingga akhir Agustus, badai pencarian masih terus berlangsung dengan angka-angka yang mengerikan:
  • 2.426 orang dilaporkan masih hilang ditelan lumpur dan puing.
  • 4.451 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
  • 101 orang luka-luka masih terbaring di rumah sakit setempat.

Hal mana juga menimpa para pelancong dunia. Ratusan turis asing dari 32 negara dilaporkan hilang kontak di jalur pendakian sekitar perbatasan, sementara baru 184 turis yang berhasil dievakuasi dari jebakan maut Himalaya.

sumber bacaan: cnn-indonesia, detik, okezone