October 2026

03 October 2026

Kucing-Kucingan Operator Seluler


 

sis
sisa kuota internet

Putusan Mahkamah Konstitusi yang mulanya digadang-gadang menjadi angin segar bagi jutaan pengguna internet di negeri ini, perlahan mulai terasa hambar. Akhir pekan lalu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merilis potret buram dari meja evaluasi mereka: mayoritas paket internet yang dijajakan operator seluler rupanya masih mengangkangi amanat perlindungan sisa kuota.

Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, buru-buru menggelar konferensi pers di Jakarta Pusat pada Sabtu, 3 Oktober lalu. Nada bicaranya lugas. Dia menegaskan bahwa operator tidak bisa sekadar berlindung di balik pesan singkat peringatan masa aktif. "Notifikasi bukan solusi terhadap sisa kuota yang sudah terlanjur tidak terpakai," kata Denny. Bagi pemerintah, hak konsumen harus dilindungi secara substantif agar nilai ekonomi dari kuota yang telah dibeli tidak menguap begitu saja.

Namun, di balik angka-angka laporan yang disodorkan para operator, tercium aroma kucing-kucingan yang pekat. Ratusan paket internet sengaja dipertahankan dalam skema non-rollover. Modusnya seragam: kuota tetap hangus begitu tenggat waktu lewat, tapi operator merasa sah-sah saja karena sudah mengirimkan notifikasi peringatan beberapa hari sebelumnya. Ini jelas sebuah akal-akalan telanjang demi mengelus celah hukum dan mengabaikan substansi keadilan bagi konsumen.

Di sinilah letak ironinya. Publik patut menggugat: mengapa Komdigi musti repot-repot melayani taktik ulur-ulur waktu seperti ini?

Sebagai dirigen regulasi yang memegang otoritas penuh, Komdigi semestinya bertindak tegas, tanpa kompromi. Membuka posko aduan baru lewat call center 159 justru memperlihatkan pemerintah yang gamang dan melempar beban pengawasan ke pundak konsumen. Pelanggaran di depan mata harusnya dijawab dengan gada sanksi—seperti pembekuan izin paket—bukan dengan rangkaian rapat klarifikasi yang menjemukan.

Sikap jemawa para operator seluler ini kian memperkuat dugaan adanya usaha buying time (mengulur waktu) oleh industri telemartika kita. Dengan memperlambat migrasi total ke sistem akumulasi kuota, korporasi-korporasi ini bisa terus meraup laba instan dari sisa kuota hangus milik pelanggan selama mungkin, sembari perlahan menata bantalan finansial mereka.

Kini bola panas menggelinding ke meja Menteri Komdigi. Jika regulator tetap memilih bersikap lembek dan hanya bisa "meminta penyesuaian", aturan "kuota tak hangus" ini tak lebih dari sekadar macan kertas. Dan konsumen, lagi-lagi, hanya menjadi penonton yang dikuras kantongnya oleh siasat perlambatan industri.


sumber bacaan: metrotv, harian-jogja, media-indonesia

02 October 2026

OTW Juara, Mental Patriotik Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026


 

pat
sang pelatih

Saatnya Cetak Sejarah dan Rebut Trofi di Laga Final!
Saatnya cetak sejarah, bikin negara ini bangga! Sebuah langkah besar telah diambil, namun pertempuran pamungkas demi harga diri bangsa kini telah menanti di depan mata. Timnas Indonesia bersiap menantang rival abadi mereka, Thailand, dalam laga final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (5/10) malam. Partai puncak ini tidak hanya menjadi panggung pembuktian dahaga gelar Garuda selama 35 tahun, tetapi juga menyajikan bentrokan taktis berdarah Inggris pertama dalam sejarah sepak bola Asia Tenggara.

Pelatih kepala Indonesia, John Herdman, akan beradu mekanik dengan kompatriotnya di kubu Thailand, Anthony Hudson. Ini adalah babak baru dari rivalitas panas masa lalu, di mana keduanya pernah saling jegal di kancah Amerika Utara saat Herdman menukangi Kanada dan Hudson memimpin Amerika Serikat. Kini, bumi Nusantara menjadi saksi siapa Englishman terbaik yang layak merajai ASEAN. "Dia tahu bagaimana saya bermain," tegas Herdman penuh percaya diri. "Saya sangat bersemangat. Akan luar biasa melihat dua orang Inggris saling beradu taktik di area teknis demi trofi ini. Target kami hanya satu: bawa pulang piala dan ukir sejarah baru untuk Indonesia!"

Langkah Heroik Penuh Drama di Gelora Bung Karno
Api semangat membara ini membubung tinggi setelah Skuad Garuda melewati malam yang sangat ikonik pada Kamis (1/10). Demi menjaga kehormatan lambang di dada, Timnas Indonesia mengamuk dan menghancurkan Bangladesh dengan skor telak 9-2. Kemenangan fantastis ini membawa Indonesia melaju ke babak final secara dramatis, unggul produktivitas gol setelah di saat yang sama Malaysia menang 6-0 atas Singapura.

Herdman bahkan menyebut laga tersebut sebagai momen paling gila sepanjang kariernya. "Kami tahu situasi di pertandingan lain, dan sungguh tak terbayangkan Malaysia bisa menang sebesar itu atas Singapura berdasarkan sejarah ketat derbi mereka. Namun, jiwa petarung para pemain kita malam ini luar biasa," ujarnya terpukau. Herdman pun langsung mempersembahkan rasa hormatnya kepada para suporter Merah Putih: "Dukungan penonton sangat fenomenal, terutama di 20 menit terakhir ketika para pemain mengerahkan sisa-sisa darah dan keringat mereka di lapangan."

Ketegangan Menit Akhir demi Lambang di Dada
Dinamika di atas lapangan melahirkan ketegangan yang membakar adrenalin. Mengetahui ancaman agresivitas gol Malaysia di tempat lain, Herdman menjelma menjadi jenderal perang di pinggir lapangan yang tak berhenti berteriak memompa semangat: "Ayo satu gol lagi, satu lagi!"

Kefokusan tingkat tinggi di menit-menit krusial itu sempat membuat bek jangkung Indonesia, Elkan Baggott, ragu dan mengira teriakan tersebut hanyalah trik psikologis. "Sampai akhirnya Emil menegaskan dengan jelas kepadanya, 'Elkan, kita benar-benar butuh satu gol lagi!'" kenang Herdman menggambarkan bagaimana kepanikan kecil itu justru bersinergi menjadi energi pembunuh yang mengunci tiket final di masa injury time.

Dedikasi Tinggi dan Kebangkitan Harga Diri Bangsa
Perjuangan tanpa batas ini menjadi jawaban telak atas segala keraguan. Pascabertanding, bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, langsung pasang badan membela sang pelatih dari kritik publik. "Melihat energi luar biasa yang pelatih berikan kepada tim ini, kritik terhadapnya sama sekali tidak adil. Dia seperti bekerja 24 jam seminggu penuh demi lambang di dada kami. Dia adalah pelatih yang luar biasa dan mampu membawa Garuda terbang ke level yang lebih tinggi," cetus Hubner berapi-api.

Dedikasi total ini langsung membuahkan ganjaran nyata pada martabat sepak bola Indonesia di mata internasional. Per Jumat (2/10), peringkat Timnas Indonesia dalam Ranking FIFA resmi melonjak naik ke posisi 117 dunia setelah mengudeta Sudan. Ini menjadi torehan peringkat terbaik Indonesia dalam enam tahun terakhir, melampaui pencapaian era-era kepelatihan sebelumnya sejak 2020. Momentum kebangkitan ini menjadi modal utama Herdman dan pasukannya untuk mengakhiri puasa gelar panjang dan membuktikan bahwa Garuda kini siap merajai Asia Tenggara


sumber bacaan: detik, times-indonesia, cnn-indonesia, bolasport, wartaekonomi, bola, cnn-indonesia