25 October 2017

Teknologi : Negara Paling Progress


Banyak negara yang berusaha keras mengembangkan industri teknologi mereka. Bukan hanya untuk kebutuhan dalam negeri, mereka juga mengekspor produk inovatif mereka ke seluruh dunia. The Richest menyebutkan 15 negara yang memiliki kemajuan teknologi paling tinggi di dunia. Bisa dilihat beberapa negara di bawah ini : Malaysia, Perancis, Israel, Rusia, Finlandia.

24 October 2017

YLKI : Masalah dalam Penerapan Otomatisasi Tol


tol
Otomatisasi Tol

12 May 2017

Survey YLKI 2017 : Transportasi Online Murah, Cepat dan Aman


onl
Online Cepat Aman

12 Mei 2017
YLKI melakukan Survei dengan melibatkan 4.668 responden untuk merespons dinamika dan eksistensi transportasi berbasis aplikasi di beberapa kota besar di Indonesia. Survei dilakukan pada 5-16 April 2017 secara online. Hasilnya antara lain : Alasan responden memilih atau menggunakan transportasi online, kata YLKI, pada umumnya menyatakan karena murah (84,1 persen), cepat (81,9 persen), nyaman (78,8 persen), dan aman (61,4 persen). Adapun untuk moda transportasi yang dipilih konsumen, 55 persen menggunakan transportasi online jenis mobil dan motor. Sedangkan yang menggunakan motor saja 21 persen dan mobil saja 24 persen. Penggunaan 1-2 kali dalam sehari 27,6 persen, seminggu sekali 13,7 persen, dan 8,7 persen menggunakan transportasi online lebih dari tiga kali dalam sehari. Adapun kasus yang paling sering terjadi adalah 22,3 persen responden pernah dikecewakan karena pengemudi minta dibatalkan. Disusul sulitnya mendapatkan pengemudi 21,19 persen.

09 October 2016

Keadilan Transportasi Umum


 

tra
Transportasi Umum

Transportasi adalah urat nadi kehidupan perkotaan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, transportasi umum menjadi kebutuhan vital bagi jutaan orang untuk bekerja, bersekolah, dan beraktivitas sehari-hari. Namun, pertanyaan penting yang sering muncul adalah, apakah transportasi umum di kota-kota kita sudah memenuhi prinsip keadilan? Apakah semua lapisan masyarakat memiliki akses yang sama terhadap layanan transportasi? Dalam artikel ini, kita akan membahas pentingnya keadilan transportasi umum, tantangan yang dihadapi, dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih adil.  

Apa Itu Keadilan Transportasi?
Keadilan transportasi merujuk pada distribusi layanan transportasi yang merata, terjangkau, dan inklusif untuk semua orang, tanpa memandang status ekonomi, gender, atau lokasi geografis. Dalam konteks perkotaan, keadilan transportasi berarti bahwa setiap orang, baik pekerja kantoran, pedagang kaki lima, hingga pelajar, memiliki akses yang setara terhadap moda transportasi umum.  Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keadilan transportasi masih jauh dari harapan. Sebagai contoh, dalam laporan Antara News, pengamat transportasi menyoroti bagaimana bajaj, yang menjadi salah satu moda transportasi khas Jakarta, tidak diprioritaskan dalam pengembangan angkutan umum. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa jenis transportasi umum, terutama yang digunakan oleh masyarakat kelas bawah, sering kali diabaikan dalam perencanaan transportasi kota.  

Keadilan Transportasi di Kota
Ketimpangan Akses Transportasi: Kota-kota besar sering kali memprioritaskan pembangunan infrastruktur transportasi di pusat kota, sementara daerah pinggiran dan permukiman padat penduduk sering kali terabaikan. Akibatnya, masyarakat yang tinggal di pinggiran kota harus menghabiskan lebih banyak waktu dan biaya untuk mencapai tempat kerja atau sekolah.  Persaingan Antara Angkutan Umum dan Transportasi Online: Sejak kemunculan transportasi online, seperti ojek dan taksi berbasis aplikasi, ketegangan antara moda transportasi konvensional dan modern semakin terasa. Hukum Online mencatat bahwa pentingnya asas keadilan dalam mengatur transportasi online tidak hanya untuk melindungi pengemudi konvensional, tetapi juga untuk memastikan masyarakat memiliki pilihan transportasi yang aman, terjangkau, dan sesuai kebutuhan.  Kurangnya Perhatian pada Transportasi Ramah Lingkungan dan Terjangkau:Dalam banyak kasus, moda transportasi yang ramah lingkungan, seperti bajaj gas atau bus listrik, belum menjadi prioritas. Padahal, moda ini tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan tetapi juga sering kali lebih terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.  Dominasi Kendaraan Pribadi: Seperti yang dilaporkan Okezone, perbedaan antara angkutan umum dan kendaraan pribadi sering kali menjadi sumber masalah utama dalam transportasi kota. Banyak orang lebih memilih kendaraan pribadi karena angkutan umum dianggap tidak nyaman, tidak aman, atau tidak efisien. Akibatnya, kemacetan semakin parah, dan angkutan umum semakin kurang diminati.  

Mewujudkan Keadilan Transportasi  
Untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih adil, beberapa langkah berikut perlu diambil:  Pemerataan Infrastruktur Transportasi.  
Pemerintah perlu memastikan bahwa infrastruktur transportasi, seperti halte bus, stasiun kereta, dan jalur sepeda, tersedia di seluruh wilayah, termasuk daerah pinggiran kota. Dengan demikian, masyarakat di pinggiran kota tidak merasa terisolasi dan memiliki akses yang sama terhadap moda transportasi.  Regulasi yang Adil untuk Semua Moda Transportasi: Pemerintah harus mengatur transportasi online dan konvensional secara adil, seperti yang disoroti dalam laporan Hukum Online. Regulasi ini harus memastikan bahwa semua moda transportasi beroperasi dengan standar yang sama, baik dari segi tarif, keamanan, maupun kenyamanan.  Investasi dalam Transportasi Ramah Lingkungan:  
Pengembangan transportasi umum yang ramah lingkungan, seperti bus listrik atau kereta berbasis energi terbarukan, harus menjadi prioritas. Selain mengurangi polusi, moda ini juga lebih terjangkau bagi masyarakat luas.  Edukasi dan Kampanye Publik: Masyarakat perlu dididik tentang pentingnya menggunakan transportasi umum untuk mengurangi kemacetan dan polusi. Kampanye publik yang mengedepankan manfaat sosial dan lingkungan dari transportasi umum dapat membantu mengubah pola pikir masyarakat.  

Keadilan transportasi bukan hanya soal memberikan layanan transportasi yang merata, tetapi juga soal menciptakan kota yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan pemerataan akses, regulasi yang adil, dan investasi dalam moda transportasi ramah lingkungan, kita bisa mewujudkan sistem transportasi yang tidak hanya efisien tetapi juga adil bagi semua lapisan masyarakat. Kota yang adil dalam transportasi adalah kota yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warganya untuk bergerak, berkembang, dan meraih kehidupan yang lebih baik. 
 
sumber berita:

24 December 2015

Pengemis, Wajah Kemiskinan Kota


 

pen
Kemiskinan Kota

Kemiskinan di kota besar telah menjadi pemandangan yang sulit dihindari, terutama dengan hadirnya para pengemis di jalanan. Para pengemis sering kali dianggap sebagai cerminan nyata dari ketimpangan sosial yang terjadi di kota. Di satu sisi, mereka adalah simbol kemiskinan yang membutuhkan perhatian, namun di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan perkotaan. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa pengemis menjadi wajah kemiskinan kota, tantangan yang ada, serta upaya pengentasan yang layak diperjuangkan.  

Fenomena Pengemis di Kota
Kemiskinan di kota sangat kompleks, di mana pengemis menjadi salah satu wajah yang paling sering terlihat. Sebagai contoh, kasus yang dilaporkan oleh Antara News menunjukkan bahwa seorang kakek pengemis bisa memperoleh penghasilan hingga Rp3 juta per bulan dari aktivitasnya di jalanan. Angka ini menimbulkan kontroversi, karena menunjukkan bahwa tidak semua pengemis benar-benar berasal dari keluarga miskin. Bahkan, ada anggapan bahwa pengemis di kota besar sering kali menjadikan aktivitas mengemis sebagai profesi.  Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa kemiskinan tetap menjadi akar masalahnya. Banyak dari mereka yang terpaksa mengemis karena tidak memiliki akses ke pekerjaan yang layak atau fasilitas sosial yang memadai. Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan Kamil, saat menerima penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial, salah satu cara mengurangi kemiskinan adalah dengan menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan pelatihan keterampilan bagi masyarakat miskin. Sayangnya, hal ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat urban yang terus bertambah.  

Mengatasi Pengemis  
Ada beberapa tantangan besar dalam mengatasi fenomena pengemis di kota:  

1. Ketimpangan Sosial yang Terus Meningkat
Kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya kerap menjadi magnet bagi masyarakat desa yang mencari peluang hidup lebih baik. Namun, tidak semua dari mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, sehingga akhirnya terjebak dalam kemiskinan dan memilih jalan pintas seperti mengemis.  

2. Eksploitasi Pengemis oleh Oknum
Fenomena pengemis tidak selalu murni sebagai akibat kemiskinan. Dalam beberapa kasus, pengemis dikelola oleh oknum tertentu yang memaksa mereka bekerja dan mengambil sebagian besar penghasilannya. Hal ini menjadikan pengemis sebagai korban eksploitasi, bukan hanya masalah sosial.  

3. Kurangnya Akses Pendidikan dan Keterampilan
Kemiskinan di kota sering kali dihubungkan dengan rendahnya tingkat pendidikan. Tanpa pendidikan atau keterampilan khusus, masyarakat miskin sulit bersaing di pasar kerja kota yang menuntut tenaga kerja terampil. Akibatnya, mereka tidak punya pilihan lain selain bekerja di sektor informal, termasuk mengemis.  

Pengemis di Kota  
Beberapa langkah konkret perlu dilakukan untuk mengatasi masalah pengemis sebagai wajah kemiskinan kota:  

1. Pemberdayaan Masyarakat Miskin
Pemerintah harus aktif memberikan pelatihan keterampilan kerja kepada masyarakat miskin agar mereka memiliki kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Program seperti pemberian modal usaha kecil juga dapat membantu mereka memulai usaha mandiri.  

2. Penegakan Hukum terhadap Eksploitasi Pengemis  
Eksploitasi pengemis oleh oknum tertentu harus ditangani dengan tegas. Pemerintah bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk membongkar jaringan eksploitasi ini dan memberikan perlindungan kepada para pengemis yang menjadi korban.  

3. Pembangunan Infrastruktur Sosial  
Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan Kamil, pembangunan infrastruktur sosial seperti rumah susun, fasilitas pendidikan gratis, dan layanan kesehatan masyarakat sangat penting untuk mengurangi beban hidup masyarakat miskin di kota. Dengan akses yang lebih baik, masyarakat miskin memiliki peluang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.  


Pengemis adalah wajah nyata dari kemiskinan kota yang tidak bisa diabaikan. Di balik fenomena ini, terdapat masalah ketimpangan sosial, eksploitasi, hingga kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga sosial. Dengan pemberdayaan, penegakan hukum, dan pembangunan infrastruktur sosial, kita bisa berharap bahwa fenomena pengemis tidak lagi menjadi wajah utama kemiskinan di kota. Sebaliknya, kota besar bisa menjadi tempat di mana setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk hidup lebih baik.
 
sumber berita: detik, bbc, antaranews

14 July 2014

Detik-detik Akhir Pilpres 2014


pil
Persaingan Pilpres










Pemilihan presiden (pilpres) tahun ini memang beda dibandingkan pilpres-pilpres sebelumnya. Sedikitnya jumlah yang bertarung, hanya dua pasang, membuat kompetisi berlangsung sengit. Masyarakat pun langsung terpecah ke dalam dua kubu: pendukung Prabowo-Hatta dan pendukung Jokowi-JK.

30 August 2013

Pusat Kemiskinan di Desa


 

mis
Kemiskinan

Kemiskinan di desa masih menjadi persoalan yang kompleks di Indonesia. Meskipun data menunjukkan adanya penurunan jumlah penduduk miskin secara nasional, seperti yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2013 dengan penurunan sebesar 0,52 juta orang, kenyataannya desa masih menjadi pusat konsentrasi kemiskinan. Banyak desa di Indonesia menghadapi tantangan besar, termasuk keterbatasan akses ke pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lapangan pekerjaan. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang akar masalah kemiskinan di desa dan langkah-langkah pengentasan yang perlu dilakukan.  

Kemiskinan di Desa
Sebagian besar masyarakat desa masih hidup dengan keterbatasan sumber daya. Seperti yang diungkapkan dalam laporan Mongabay, masyarakat sekitar tambang Newmont adalah salah satu contoh nyata bagaimana desa bisa terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Kehilangan hutan akibat aktivitas tambang menyebabkan masyarakat desa kehilangan sumber penghidupan utama mereka. Hutan yang selama ini menjadi tempat mencari kayu bakar, hasil hutan, hingga lahan pertanian, kini berubah menjadi kawasan tambang yang tidak memberikan manfaat langsung kepada warga setempat. Akibatnya, banyak warga yang tidak hanya kehilangan sumber ekonomi, tetapi juga identitas mereka sebagai masyarakat agraris.  Kemiskinan di desa juga tampak nyata di wilayah seperti Banguntapan, Yogyakarta, yang menjadi salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Sebanyak 1.058 Kepala Keluarga (KK) di daerah tersebut masuk dalam prioritas program pengentasan kemiskinan. Ini menunjukkan bahwa meskipun desa memiliki potensi besar, seperti sumber daya alam dan budaya lokal, tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tersebut sering kali tidak mampu mengangkat masyarakat dari kemiskinan.  

Akar Masalah Kemiskinan di Desa
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan desa menjadi pusat kemiskinan:  
1. Keterbatasan Infrastruktur: Banyak desa yang masih terpencil dan sulit dijangkau, sehingga akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi menjadi sangat terbatas.  
2. Ketergantungan pada Sumber Daya Alam: Desa sering kali bergantung pada sektor agraris atau sumber daya alam lainnya. Ketika sektor ini terganggu, seperti akibat tambang atau bencana alam, ekonomi desa langsung terpukul.  
3. Kurangnya Peluang Kerja: Lapangan pekerjaan di desa sangat terbatas, terutama bagi generasi muda. Hal ini sering kali memicu urbanisasi, di mana generasi muda pindah ke kota untuk mencari pekerjaan, meninggalkan desa tanpa tenaga kerja produktif.  

Langkah-Langkah Pengentasan Kemiskinan
Pengentasan kemiskinan di desa membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:  
1. Pengembangan Infrastruktur: Pemerintah perlu memprioritaskan pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik, dan internet di desa untuk membuka akses ke pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi baru.  
2. Diversifikasi Ekonomi Desa: Masyarakat desa perlu didorong untuk tidak hanya bergantung pada sektor agraris, tetapi juga mengembangkan usaha kecil, pariwisata lokal, dan industri kreatif.  
3. Pendampingan dan Pelatihan: Program pelatihan keterampilan, seperti pengolahan hasil tani atau kerajinan tangan, dapat membantu masyarakat desa meningkatkan nilai tambah dari produk mereka.  

Kesimpulan
Kemiskinan di desa adalah tantangan yang perlu diselesaikan dengan pendekatan menyeluruh. Desa memiliki potensi besar untuk berkembang, tetapi tanpa perhatian yang serius dari pemerintah dan masyarakat luas, potensi ini akan terus terpendam. Dengan pembangunan infrastruktur, diversifikasi ekonomi, dan pelatihan keterampilan, desa dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang tidak hanya mengentaskan kemiskinan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Pengentasan kemiskinan di desa bukan hanya soal angka, tetapi soal memberikan harapan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia. 
 
berita: