Bukan Kemarau Biasa, Ini Alasan Mengapa El Nino 2026 Disebut 'Super' oleh Pakar BRIN

24 July 2026

Bukan Kemarau Biasa, Ini Alasan Mengapa El Nino 2026 Disebut 'Super' oleh Pakar BRIN


 

bri
super el nino

Pakar Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, memperingatkan potensi fenomena Super El Nino pada tahun 2026. Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya, ia menyebut karakter El Nino kali ini diprediksi akan jauh lebih "mengganas".

Kondisi El Nino 2026 ini diperkirakan berbeda dengan fenomena serupa pada tahun 2023. Nilai intensitas El Nino tahun ini diproyeksikan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan titik puncak yang terjadi pada tahun 2023 lalu. Erma mengungkapkan bahwa lembaga pemantau cuaca ekstrem di Eropa, Severe Weather Europe, juga telah mengonfirmasi indikasi kuat kehadiran Super El Nino tersebut.

Erma dan para ilmuwan dunia menaruh perhatian besar pada perilaku El Nino 2026 yang tumbuh sangat cepat atau masuk kategori rapid developing. Sejak Februari 2026 hingga saat ini, kenaikan suhu permukaan laut ekuator terjadi konsisten dalam skala mingguan sebesar 0,2°C. "Tak ada fluktuasi sama sekali, berbeda dengan tahun 2023 yang sempat turun bahkan stagnan. Pertumbuhan yang agresif ini menunjukkan 'keganasan' El Nino 2026," ujar Erma.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemanasan di permukaan laut saat ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan suhu di bawah permukaan (sub-surface) Samudra Pasifik. Suhu di bawah permukaan laut tersebut terdeteksi 2 hingga 3 kali lipat lebih panas, bahkan suhu tertingginya dilaporkan dapat mencapai 9°C

Dampak Berdasarkan Kluster Wilayah Indonesia:

  • Pulau Kalimantan: Dinilai oleh BRIN sebagai wilayah paling responsif terhadap ancaman kekeringan ekstrem. Area ini menghadapi risiko paparan asap pekat akibat potensi besar Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan gambut.
  • Pulau Jawa: Sebagai lumbung padi nasional, Jawa terancam mengalami gagal panen massal akibat keringnya irigasi pertanian. Kerusakan berupa lahan retak-retak sudah mulai terdeteksi di wilayah satelit penopang pangan seperti Bogor (mencapai 30 hektar).
  • Nusa Tenggara Barat (NTB) & Nusa Tenggara Timur (NTT): Menghadapi ancaman krisis air bersih tingkat ekstrem karena minimnya cadangan air tanah dan curah hujan yang menyusut drastis.
  • Sumatra Bagian Selatan, Bali, Sulawesi, & Papua Bagian Selatan: Mengalami perluasan wilayah zona musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibanding rata-rata klimatologisnya


sumber bacaan: detikEYulihastin-Xtempotempo-bmkg/brinbmkg

0 comments :

Post a Comment