Ketika Algoritma Menggantikan Telinga Manusia: Kisah Gen Z dan Ruang Curhat Digitalnya

22 July 2026

Ketika Algoritma Menggantikan Telinga Manusia: Kisah Gen Z dan Ruang Curhat Digitalnya


 

cur
curhat gen-z

Di sebuah kamar yang sepi di tengah malam. Di dalam ruangan itu, seorang anak muda duduk menatap layar ponselnya bukan untuk menggulir media sosial, melainkan untuk mencurahkan isi hatinya yang sedang gundah gulana kepada sebuah chatbot berbasis AI.

Fenomena ini bukanlah sebuah fiksi, melainkan realitas baru di Indonesia. Riset terbaru dari Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) mengungkapkan bahwa sebanyak 59,4% Gen Z (
lahir antara tahun 1997- 2012) pernah menjadikan AI sebagai tempat bersandar untuk mencurahkan persoalan pribadi mereka. Mulai dari urusan pendidikan, percintaan, hingga kecemasan akan masa depan, semuanya diadukan kepada algoritma komputer.

Sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah curhat kepada AI,” ujar Farabi Ferdiansah, Direktur Eksekutif DiRI.

Mengapa teknologi yang kaku ini justru terasa begitu hangat bagi mereka? Jawabannya sederhana: AI tidak menghakimi. Di tengah masyarakat yang sering kali menuntut kesempurnaan, AI hadir sebagai pendengar setia yang selalu ada kapan saja, tanpa pernah menguap bosan atau memotong pembicaraan. Hubungan ini menjadi sangat paradoksal. AI menawarkan ruang aman instan, tetapi di sisi lain, ia juga menyingkap tabir kesepian yang mendalam di kalangan generasi muda saat ini.

Psikolog sosial Syurawasti Muhiddin mengingatkan bahwa kenyamanan semu ini menyimpan risiko besar. AI tidak dibekali empati sejati, apalagi kemampuan untuk memberikan diagnosis medis atau psikologis yang akurat. Senada dengan itu, Ria Putri Palupijati dari CSIE Sekolah Tumbuh menekankan agar kita tidak kehilangan jati diri dan tetap memposisikan AI murni sebagai alat bantu, bukan pengganti kehadiran manusia yang utuh.

Gen Z sedang mendefinisikan ulang cara mencari pertolongan. Namun, di balik kenyamanan mengobrol lebih dari sepuluh menit dengan mesin, ada alarm halus yang berbunyi: manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk benar-benar dipahami.


sumber bacaan: metrotvsuarajawapos

0 comments :

Post a Comment