Asal Bapak Senang di Lahan Kering

27 September 2026

Asal Bapak Senang di Lahan Kering


 

ker
4 pejabat dicopot

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mencopot empat pejabatnya setelah memergoki laporan irigasi bodong. Di lapangan, sawah-sawah retak memendam ancaman bagi target swasembada.

Di atas meja kerja Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, data-data irigasi nasional itu bersolek begitu molek. Sebuah dashboard digital menampilkan peta Indonesia dengan indikator serba hijau—tanpa noktah merah sedikit pun. Di bawahnya, tertera klaim mentereng dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA): pasokan air telah sukses mengalir ke 73.000 hektare lahan, menyelamatkan padi-padi petani dari petaka gagal panen alias puso.

Namun, kabar dari jagat maya dan media massa justru menyalakkan nada sebaliknya: kekeringan mencekik di mana-mana.

Didorong rasa penasaran, Dody memutuskan melompati birokrasi meja kerjanya. Sabtu, 26 September lalu, ia turun langsung ke jantung lumbung pangan Jawa Barat. Benar saja, saat kakinya menginjak tanah kering di Desa Karangharja (Bekasi), Desa Sukatani (Karawang), hingga Desa Kedongdong (Cirebon), ia tak menemukan air. Yang ada hanya hamparan tanah retak-retak yang meranggas sejauh mata memandang.

"Di data dashboard, demi Allah tidak ada yang merah," kata Dody dengan nada getir saat ditemui Tempo di Cirebon, Minggu, 27 September kemarin. Nyatanya, ribuan hektare sawah di sana sekarat tanpa pasokan air. Padahal, solusi teknisnya sepele: air sungai mengalir melimpah hanya berjarak dua kilometer dari sana, tinggal ditarik dengan pompa elektrik dan pipa paralon.

Dody meradang. Ia sadar telah disuapi laporan "Asal Bapak Senang" alias PHP (pemberi harapan palsu) yang diduga telah berlangsung selama hampir dua tahun terakhir. "Mereka pikir coverage dari Sabang sampai Merauke ini terlalu besar, jadi Menteri tidak akan ngecek satu-satu," ujarnya ketus.

Hari itu juga, palu gada sanksi dijatuhkan. Empat pejabat di teras Ditjen SDA langsung digulung dari posisinya. Mulai dari Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan (BOP) SDA, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Pejabat Pembuat Komitmen, hingga Kepala Satuan Kerja. Surat keputusan pencopotan mereka diteken Senin, 28 September 2026, dan resmi berlaku efektif dalam 48 jam ke depan.

Cemas Andalan di Ujung Musim
Di balik drama bersih-bersih birokrasi Kementerian PU, bayang-bayang kelam kini menggelayuti meja makan masyarakat. Krisis manipulasi data irigasi ini membuka tabir rapuhnya fondasi swasembada pangan yang digadang-gadang pemerintah tercapai tahun ini.

Dody Hanggodo boleh saja memasang wajah optimistis. "Insya Allah tetap tercapai," ucapnya berulang kali seolah menepis kecemasan. Namun, angka-angka riil di lapangan berbisik lain.

Badan Pusat Statistik (BPS) merekam lampu kuning pada sisa kuartal tahun ini. Sepanjang Januari hingga September 2026, produksi beras untuk konsumsi nasional diperkirakan mandek di angka 28,71 juta ton—hanya merangkak tipis 0,01 persen dari tahun lalu. Lebih mengkhawatirkan lagi, performa panen pada periode Juli–September justru merosot 0,88 persen menjadi 9,36 juta ton. Cuaca ekstrem, keterlambatan musim tanam, hingga kepungan hama menjadi biang kerok yang terus menggerus proyeksi di atas kertas.

Kementerian Pertanian mencoba menebar angin segar dengan target produksi setahun penuh sebesar 34,77 juta ton. Di atas kalkulator pemerintah, angka itu diyakini bakal menyisakan surplus 3,67 juta ton setelah dikurangi kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton.

Namun, berkaca dari skandal laporan irigasi bodong di Bekasi dan Karawang, publik kini patut bertanya-tanya: sejauh mana angka-angka surplus di atas meja itu benar-benar mewujud jadi tumpukan beras di dalam gudang, dan bukan sekadar hijau di atas kertas?

sumber bacaan: inilah, kompas, voi

0 comments :

Post a Comment