Musim Hujan 2026 yang Terlambat dan Bertahap
![]() |
| hujan telat dan bertahap |
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar kurang sedap: awal musim hujan periode 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia dipastikan molor. Penyebabnya adalah duet maut fenomena iklim: El NiƱo dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif. Kombinasi ini memperpanjang napas musim kemarau ekstrem, melampaui siklus normalnya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopahuluwakan, menyebutkan bahwa hingga September ini Indonesia sebenarnya masih mencengkeram puncak kemarau. Imbasnya, kepungan awan hujan tidak akan turun serentak, melainkan menyusup perlahan secara bertahap dari utara ke selatan.
Lanskap kedatangan hujan dipetakan bergelombang. Aceh, Sumatra Utara, dan Riau menjadi wilayah pembuka yang mencicipi hujan pada September. Memasuki Oktober, giliran Riau bagian selatan, Jambi, serta kawasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah bagian selatan yang mulai basah.
Gelombang besar baru tercipta pada November. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mencatat ada 185 zona musim (ZOM) yang akan serentak memasuki musim hujan pada bulan tersebut—meliputi Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, hingga sebagian besar Sulawesi. Sisanya, sebanyak 266 zona musim baru akan menyusul di bulan Desember.
Meski datang terlambat dan durasinya menjadi lebih pendek, volume air yang tumpah diprediksi tidak berkurang alias tetap normal. Di sinilah letak bahayanya. Artinya, volume air yang melimpah akan tercurah dalam durasi waktu yang jauh lebih singkat dan instan.
BMKG pun membunyikan alarm tanda bahaya untuk periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Perubahan drastis dari tanah yang kering kerontang ke guyuran air intensitas tinggi dalam waktu singkat adalah resep sempurna bagi lahirnya bencana hidrometeorologi. Publik diminta bersiap menghadapi ancaman banjir bandang dan tanah longsor yang mengintai di akhir tahun.
sumber bacaan: video-kompas, metrotv, video-detik
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopahuluwakan, menyebutkan bahwa hingga September ini Indonesia sebenarnya masih mencengkeram puncak kemarau. Imbasnya, kepungan awan hujan tidak akan turun serentak, melainkan menyusup perlahan secara bertahap dari utara ke selatan.
Lanskap kedatangan hujan dipetakan bergelombang. Aceh, Sumatra Utara, dan Riau menjadi wilayah pembuka yang mencicipi hujan pada September. Memasuki Oktober, giliran Riau bagian selatan, Jambi, serta kawasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah bagian selatan yang mulai basah.
Gelombang besar baru tercipta pada November. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mencatat ada 185 zona musim (ZOM) yang akan serentak memasuki musim hujan pada bulan tersebut—meliputi Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, hingga sebagian besar Sulawesi. Sisanya, sebanyak 266 zona musim baru akan menyusul di bulan Desember.
Meski datang terlambat dan durasinya menjadi lebih pendek, volume air yang tumpah diprediksi tidak berkurang alias tetap normal. Di sinilah letak bahayanya. Artinya, volume air yang melimpah akan tercurah dalam durasi waktu yang jauh lebih singkat dan instan.
BMKG pun membunyikan alarm tanda bahaya untuk periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Perubahan drastis dari tanah yang kering kerontang ke guyuran air intensitas tinggi dalam waktu singkat adalah resep sempurna bagi lahirnya bencana hidrometeorologi. Publik diminta bersiap menghadapi ancaman banjir bandang dan tanah longsor yang mengintai di akhir tahun.
sumber bacaan: video-kompas, metrotv, video-detik

0 comments :
Post a Comment