Dahaga Juara di Sisa Umur
![]() |
| legenda sepak bola |
Kurniawan Dwi Yulianto tak bisa menyembunyikan gurat kerinduan di wajahnya. Berdiri di tengah riuhnya acara Trophy Tour FIFA ASEAN Cup 2026 di Jakarta, Minggu pekan lalu, penyerang legendaris Tim Nasional Indonesia era 1995–2005 itu melontarkan kalimat yang sarat beban emosional. "Saya berharap di sisa umur saya ini bisa menonton adik-adik kita mengangkat trofi juara," ujarnya.
Bagi Kurniawan, turnamen se-Asia Tenggara adalah cerita tentang rasa penasaran yang belum tuntas. Sedekade berseragam Merah Putih, ia bolak-balik merasakan atmosfer sengit di lapangan hijau, namun podium tertinggi selalu luput dari genggaman. Kini, di usianya yang tak lagi muda, dahaga gelar itu ia titipkan kepada generasi baru.
Harapan Kurniawan bukanlah angan-angan kosong. Rekan seangkatannya, Ponaryo Astaman, melihat ada angin perubahan yang berembus di tubuh Skuad Garuda saat ini. Di bawah asuhan arsitek taktik John Herdman, timnas kini dihuni oleh kombinasi pemain lokal yang matang serta barisan legiun diaspora yang mengecap kerasnya kompetisi Eropa. "Kita semua berharap para pemain memberikan kemampuan terbaiknya," kata Ponaryo, optimistis.
Sinyal tancap gas juga ditiupkan dari kursi federasi. Ketua Umum PSSI Erick Thohir terang-terangan memasang target tertinggi: juara. Tak ada pilihan lain, apalagi Indonesia memegang status sebagai tuan rumah edisi perdana turnamen yang kini berada di bawah naungan FIFA ini.
Di atas lapangan, aura optimistis itu menjalar ke benteng pertahanan terakhir Indonesia. Maarten Paes, kiper andalan Garuda, langsung melempar undangan terbuka kepada para suporter untuk membakar semangat tim. "Mari kita ciptakan atmosfer yang luar biasa bersama. Kami termotivasi menunjukkan level terbaik dan merayakan trofi ini bersama-sama," tutur Paes.
Ujian pertama Rizky Ridho dan kolega akan tersaji dalam hitungan hari. Tergabung di Grup A, Indonesia harus melewati adangan Singapura dalam laga pembuka pada 25 September di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta—yang dipastikan akan berubah menjadi lautan merah. Setelah itu, rivalitas klasik melawan Malaysia sudah menanti pada 28 September, sebelum ditutup dengan duel kontra Bangladesh pada 1 Oktober.
Sementara itu, laga di Grup B akan dihelat di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Turnamen yang akan bergulir hingga 8 Oktober ini bakal menjadi panggung pembuktian: apakah target juara PSSI adalah peta jalan yang realistis, atau sekadar ambisi di atas kertas. Bagi Kurniawan dan jutaan pencinta sepak bola di tanah air, jawabannya harus tersaji di lapangan.
sumber bacaan: antara, cnn-indonesia, detik
Bagi Kurniawan, turnamen se-Asia Tenggara adalah cerita tentang rasa penasaran yang belum tuntas. Sedekade berseragam Merah Putih, ia bolak-balik merasakan atmosfer sengit di lapangan hijau, namun podium tertinggi selalu luput dari genggaman. Kini, di usianya yang tak lagi muda, dahaga gelar itu ia titipkan kepada generasi baru.
Harapan Kurniawan bukanlah angan-angan kosong. Rekan seangkatannya, Ponaryo Astaman, melihat ada angin perubahan yang berembus di tubuh Skuad Garuda saat ini. Di bawah asuhan arsitek taktik John Herdman, timnas kini dihuni oleh kombinasi pemain lokal yang matang serta barisan legiun diaspora yang mengecap kerasnya kompetisi Eropa. "Kita semua berharap para pemain memberikan kemampuan terbaiknya," kata Ponaryo, optimistis.
Sinyal tancap gas juga ditiupkan dari kursi federasi. Ketua Umum PSSI Erick Thohir terang-terangan memasang target tertinggi: juara. Tak ada pilihan lain, apalagi Indonesia memegang status sebagai tuan rumah edisi perdana turnamen yang kini berada di bawah naungan FIFA ini.
Di atas lapangan, aura optimistis itu menjalar ke benteng pertahanan terakhir Indonesia. Maarten Paes, kiper andalan Garuda, langsung melempar undangan terbuka kepada para suporter untuk membakar semangat tim. "Mari kita ciptakan atmosfer yang luar biasa bersama. Kami termotivasi menunjukkan level terbaik dan merayakan trofi ini bersama-sama," tutur Paes.
Ujian pertama Rizky Ridho dan kolega akan tersaji dalam hitungan hari. Tergabung di Grup A, Indonesia harus melewati adangan Singapura dalam laga pembuka pada 25 September di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta—yang dipastikan akan berubah menjadi lautan merah. Setelah itu, rivalitas klasik melawan Malaysia sudah menanti pada 28 September, sebelum ditutup dengan duel kontra Bangladesh pada 1 Oktober.
Sementara itu, laga di Grup B akan dihelat di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Turnamen yang akan bergulir hingga 8 Oktober ini bakal menjadi panggung pembuktian: apakah target juara PSSI adalah peta jalan yang realistis, atau sekadar ambisi di atas kertas. Bagi Kurniawan dan jutaan pencinta sepak bola di tanah air, jawabannya harus tersaji di lapangan.
sumber bacaan: antara, cnn-indonesia, detik

0 comments :
Post a Comment