Ancaman Kemarau Panjang: WMO dan BMKG Peringatkan Fenomena El Niño Kuat Hingga 2027
![]() |
| dampak kemarau panjang |
Fenomena El Niño saat ini masih bertahan dengan intensitas sangat kuat (Super El Niño). Pemantauan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan indeks Nino 3.4 berada di atas angka 2. Sejalan dengan hal tersebut, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkapkan peluang hampir 100 persen bahwa fenomena ini akan terus berlanjut hingga Februari 2027, menjadikannya salah satu yang terkuat sejak tahun 1950. WMO melaporkan suhu permukaan laut Pasifik diperkirakan meningkat mencapai rekor tertinggi mulai Oktober hingga puncaknya pada Desember mendatang.
Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang memicu mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG mengingatkan bahwa periode kekeringan berpotensi berlanjut hingga Oktober, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut prediksi BMKG, El Niño baru akan berakhir pada akhir caturwulan I tahun 2027. Meski demikian, dampak kekeringan ekstrem yang ditimbulkannya diperkirakan mereda secara bertahap seiring dimulainya musim hujan di masing-masing daerah.
Menyikapi situasi ini, BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 sebagai acuan peringatan dini (early warning) guna mengeksekusi aksi dini (early action). Langkah mitigasi yang harus dipersiapkan antara lain:
Guna menekan penyebaran informasi yang belum terverifikasi yang berpotensi memicu keresahan publik, masyarakat diajak untuk selalu memantau perkembangan cuaca, iklim, dan gempa bumi melalui saluran serta aplikasi resmi BMKG.
sumber bacaan: kompastv, bmkg, cnn-indonesia
Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang memicu mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG mengingatkan bahwa periode kekeringan berpotensi berlanjut hingga Oktober, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut prediksi BMKG, El Niño baru akan berakhir pada akhir caturwulan I tahun 2027. Meski demikian, dampak kekeringan ekstrem yang ditimbulkannya diperkirakan mereda secara bertahap seiring dimulainya musim hujan di masing-masing daerah.
Menyikapi situasi ini, BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 sebagai acuan peringatan dini (early warning) guna mengeksekusi aksi dini (early action). Langkah mitigasi yang harus dipersiapkan antara lain:
- Waspada Kemarau Panjang: Menjaga kesiapsiagaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya sepanjang September hingga Oktober.
- Antisipasi Banjir Banda: Mengoptimalkan sistem drainase serta kesiapan jalur evakuasi untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor saat memasuki awal dan puncak musim hujan.
- Konsultasi Kewilayahan: Masyarakat dan instansi terkait disarankan berkonsultasi langsung dengan Kantor BMKG terdekat untuk merencanakan aksi yang lebih rinci dan sesuai dengan karakteristik iklim lokal.
Guna menekan penyebaran informasi yang belum terverifikasi yang berpotensi memicu keresahan publik, masyarakat diajak untuk selalu memantau perkembangan cuaca, iklim, dan gempa bumi melalui saluran serta aplikasi resmi BMKG.
sumber bacaan: kompastv, bmkg, cnn-indonesia

0 comments :
Post a Comment