Kasus Foto Oksigen Menkes: Mengapa Kita Begitu Mudah Tersulut Hoaks Bencana?

25 October 2026

Kasus Foto Oksigen Menkes: Mengapa Kita Begitu Mudah Tersulut Hoaks Bencana?


 

pal
tabung oksigen menkes

Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tidak hanya berdampak pada pekatnya kabut asap fisik, tetapi juga rentan memicu lahirnya kabut disinformasi di media sosial. Di tengah situasi krisis, psikologis masyarakat cenderung lebih emosional sehingga menjadi sangat mudah terprovokasi oleh potongan informasi visual yang telah dipelintir demi kepentingan narasi tertentu. Fenomena rentannya ruang digital ini tecermin jelas dari kehebohan yang sempat menyeret nama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat melakukan kunjungan kerja ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Sebuah foto yang memperlihatkan Menkes tengah mengenakan selang tabung oksigen mendadak viral dan memicu kepanikan publik di jagat maya. Narasi yang beredar liar mengeklaim bahwa sang menteri mengalami sesak napas akut akibat buruknya kualitas udara akibat karhutla di daerah tersebut. Melalui akun Instagram resminya (@bgsadikin), Menkes meluruskan bahwa meskipun foto tersebut asli, interpretasi dan narasi yang menyertainya telah diselewengkan dari fakta di lapangan. "Saya sama sekali tidak merasa sesak pada saat itu," tegas Budi dalam unggahannya, sekaligus menjelaskan bahwa fisiknya justru sangat terlindungi berkat disiplin menggunakan masker KN95 selama bertugas di area terbuka.

Fakta sebenarnya menunjukkan bahwa tindakan Menkes mengenakan fasilitas tersebut murni didasari oleh tujuan edukasi dan sosialisasi. Kehadirannya di Palangka Raya adalah untuk menguji langsung keandalan Rumah Oksigen yang dikelola Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) serta armada Bus Oksigen Keliling milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Alih-alih menjadi korban dari polusi asap, Menkes justru sedang mempromosikan infrastruktur mitigasi tersebut agar warga yang mulai merasakan gangguan pernapasan tidak ragu untuk segera mencari bantuan. "Kalau warga mulai sesak, segera ke Rumah Oksigen terdekat. Jangan tunggu sampai parah," pesan Menkes untuk mendorong kesadaran deteksi dini gangguan pernapasan.

Secara sosiologis, disinformasi ini tumbuh subur karena adanya kombinasi antara rasa takut yang nyata di dunia luring (offline) dan manipulasi informasi di dunia daring (online). Di dunia luring, masyarakat Palangka Raya dan sekitarnya menghadapi ancaman eksistensial yang riil: dada yang sesak, mata yang perih, serta ancaman penyakit ISPA akibat kabut asap karhutla yang mengepung keseharian mereka. Ketika rasa takut dan frustrasi fisik ini dibawa ke dunia daring, emosi publik menjadi sangat rapuh. Celah psikologis inilah yang dieksploitasi oleh manipulator informasi. Dengan membingkai foto Menkes seolah-olah "tumbang" oleh asap, manipulator berhasil menyalut kepanikan menjadi kemarahan publik. Pertemuan dua dunia inilah yang menciptakan ekosistem beracun, di mana masyarakat tidak lagi berpikir jernih dan berubah menjadi sangat reaktif terhadap stimulus visual apa pun yang membenarkan ketakutan mereka.

Oleh karena itu, melalui peristiwa ini, Kementerian Kesehatan secara tegas mengimbau masyarakat luas untuk membangun benteng literasi digital yang lebih kuat. Publik diminta untuk tidak menelan mentah-mentah sebuah gambar tanpa memverifikasi kebenaran konteksnya secara menyeluruh. Provokasi dan penyebaran hoaks di tengah bencana karhutla hanya akan menguras energi sosial yang sia-sia. Daripada terjebak dalam pusaran hoaks media sosial, kerja sama kolektif dan fokus terhadap mitigasi dampak kesehatan kabut asap adalah langkah yang jauh lebih mendesak untuk diutamakan bersama.


sumber bacaan: cnn-indonesia, kompas-tv, idn-times

0 comments :

Post a Comment