Membaca Rapor Dua Tahun Melalui Hasil Survei

18 October 2026

Membaca Rapor Dua Tahun Melalui Hasil Survei


 

pre
hasil survei

Dua tahun menjelang masa genap pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dihadapkan pada tumpukan catatan kritis. Evaluasi publik dan kalangan ahli yang dirilis sepanjang Oktober 2026 memperlihatkan kecenderungan serupa: ketidakpuasan yang meluas atas kinerja kabinet mulai berimbas langsung pada daya tawar politik sang petahana.
 
Catatan kritis itu salah satunya datang dari riset bersama Kabinet Bayangan dan Center of Economic and Law Studies (Celios). Dalam survei evaluasi dua tahun pemerintahan yang menguji persepsi kelompok ahli dan masyarakat umum tersebut, performa duet Prabowo-Gibran gagal menembus angka psikologis 5 dari skala 10.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, memaparkan potret penilaian yang kontras. Di kalangan ahli, Prabowo hanya mendapatkan skor 2,8, sementara Gibran terpuruk di angka 2,2. Penilaian dari masyarakat umum sedikit lebih longgar, meski tetap berada di zona rendah: skor 4,6 untuk Prabowo dan 4,9 untuk Gibran.

"Jadi keduanya sama-sama skornya sebenarnya di bawah angka 5," kata Bhima dalam pemaparan daring pada Minggu, 11 Oktober lalu. Remuknya angka penilaian ini berbanding lurus dengan persepsi 71 persen dari 129 responden ahli yang menilai kapasitas kepemimpinan mantan Danjen Kopassus itu tidak lagi memadai untuk menakhodai pemerintahan.

Di tengah gempuran persepsi minor terhadap kinerjanya, figur Prabowo sebagai personifikasi kekuasaan rupanya masih membekas kuat di benak pemilih bawah. Parameter Politik Indonesia (PPI) merekam fenomena ini melalui survei tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Dalam simulasi pertanyaan terbuka (top of mind), nama Prabowo paling spontan diucapkan oleh responden.

Ketua Umum Partai Gerindra itu bertengger di posisi puncak dengan elektabilitas 31,6 persen—unggul 20,2 poin dari kompetitor terdekatnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang meraih 11,4 persen. Sementara posisi tiga besar digenapi oleh Anies Baswedan dengan 10,1 persen.

"Ini adalah elektabilitas presiden secara terbuka. Responden diminta untuk menjawab secara spontan," ujar Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, dalam rilis virtual pada Minggu, 18 Oktober 2026. Angka tersebut seolah memberi napas lega bagi kubu istana, bahwa magnet personal sang presiden belum sepenuhnya pudar.

Namun, kenyamanan di atas kertas itu segera buyar begitu lembar pilihan dipersempit. Peta politik bergeser drastis ketika lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menyodorkan simulasi semi-terbuka berisi daftar 24 nama tokoh potensial kepada responden.

Survei nasional yang digelar pada 1–10 Oktober 2026 itu merekam lonjakan elektoral Dedi Mulyadi. Mantan Bupati Purwakarta yang kini menakhodai Jawa Barat itu melesat ke urutan pertama dengan dukungan 35,5 persen. Sebaliknya, posisi Prabowo melorot ke peringkat ketiga dengan raihan ringkih, hanya 9,8 persen—terseret di bawah Anies Baswedan yang mengantongi 10,3 persen.

Direktur Executif SMRC, Deni Irvani, menyebut temuan ini sebagai alarm bagi kekuatan elektoral sang petahana. Dalam simulasi semi-terbuka ini, posisi papan tengah yang dihuni Anies, Prabowo, dan Gibran (8,4 persen) sebenarnya berada dalam jarak yang sangat rapat alias berimbang. Namun, yang menjadi catatan tebal adalah selisih mereka yang terpaut hingga 25 persen di bawah dominasi Dedi Mulyadi.

Dua tahun berjalan, pemerintahan Prabowo-Gibran kini tak hanya bertaruh dengan waktu untuk memulihkan persepsi publik atas kinerja ekonomi dan tata kelola negara. Mereka kini harus berhitung ulang dengan kalkulasi politik baru: ketika pesona petahana mulai jamak diimbangi oleh kejenuhan pasar pemilih.

sumber bacaan: suara, detik, tempo

0 comments :

Post a Comment