Menatap Badai PHK 2026: Saat Industri Lokal dan Raksasa Teknologi Global Sama-Sama Terhimpit
![]() |
| terhimpit |
Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terus membayangi pasar tenaga kerja, baik di tingkat nasional maupun global. Di dalam negeri, Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 63.789 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari hingga September 2026.
Pada September sendiri, terjadi penambahan 713 orang tenaga kerja yang kehilangan mata pencaharian. Jumlah ini sejatinya menurun signifikan dibanding Agustus 2026 yang sempat menembus 5.963 pekerja. Sementara itu, puncak gelombang PHK nasional tahun ini menumpuk di pertengahan tahun, tepatnya pada Juni (10.086 kasus), Mei (9.414 kasus), dan April (8.711 kasus). Kemnaker menyebut data ini masih bersifat dinamis karena pekerja memiliki tenggat waktu hingga enam bulan untuk mengajukan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Tekanan ekonomi global, pelemahan permintaan ekspor, dan lonjakan biaya produksi berimbas langsung pada kawasan industri daerah. Di Jawa Timur, sebanyak 5.400 pekerja kehilangan pekerjaan per 1 September 2026, menempatkan provinsi ini di peringkat ketiga nasional. Kasus PHK tersebar merata di pusat industri seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto, Jombang, hingga Madiun. Kondisi ini membuat Anggota Komisi E DPRD Jatim, Puguh Wiji Pamungkas, mendesak Pemprov Jatim mengambil langkah konkret agar ribuan keluarga terdampak tidak jatuh ke kelompok rentan ekonomi.
Di belahan dunia lain, fenomena rasionalisasi karyawan tidak hanya memukul industri manufaktur konvensional, tetapi juga merambah ke industri hiburan digital skala global. Perusahaan layanan streaming raksasa, Netflix, berencana memangkas sekitar 5 persen atau setara 800 karyawannya pada pekan depan.
Langkah efisiensi ini diambil karena pasar streaming dunia semakin ketat akibat konsolidasi perusahaan media serta dominasi YouTube dalam merebut belanja iklan. Untuk bertahan, Netflix terpaksa mendiversifikasi sumber pendapatan di luar model bisnis berlangganan, seperti berinvestasi pada sektor periklanan, siaran langsung, dan game.
Baik manufaktur di Jawa Timur maupun industri digital sekelas Netflix, keduanya sama-sama berjuang menghadapi satu realitas: ketidakpastian lanskap ekonomi global 2026.
sumber bacaan: bisnis, malang-times, cnn-indonesia
Pada September sendiri, terjadi penambahan 713 orang tenaga kerja yang kehilangan mata pencaharian. Jumlah ini sejatinya menurun signifikan dibanding Agustus 2026 yang sempat menembus 5.963 pekerja. Sementara itu, puncak gelombang PHK nasional tahun ini menumpuk di pertengahan tahun, tepatnya pada Juni (10.086 kasus), Mei (9.414 kasus), dan April (8.711 kasus). Kemnaker menyebut data ini masih bersifat dinamis karena pekerja memiliki tenggat waktu hingga enam bulan untuk mengajukan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Tekanan ekonomi global, pelemahan permintaan ekspor, dan lonjakan biaya produksi berimbas langsung pada kawasan industri daerah. Di Jawa Timur, sebanyak 5.400 pekerja kehilangan pekerjaan per 1 September 2026, menempatkan provinsi ini di peringkat ketiga nasional. Kasus PHK tersebar merata di pusat industri seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto, Jombang, hingga Madiun. Kondisi ini membuat Anggota Komisi E DPRD Jatim, Puguh Wiji Pamungkas, mendesak Pemprov Jatim mengambil langkah konkret agar ribuan keluarga terdampak tidak jatuh ke kelompok rentan ekonomi.
Di belahan dunia lain, fenomena rasionalisasi karyawan tidak hanya memukul industri manufaktur konvensional, tetapi juga merambah ke industri hiburan digital skala global. Perusahaan layanan streaming raksasa, Netflix, berencana memangkas sekitar 5 persen atau setara 800 karyawannya pada pekan depan.
Langkah efisiensi ini diambil karena pasar streaming dunia semakin ketat akibat konsolidasi perusahaan media serta dominasi YouTube dalam merebut belanja iklan. Untuk bertahan, Netflix terpaksa mendiversifikasi sumber pendapatan di luar model bisnis berlangganan, seperti berinvestasi pada sektor periklanan, siaran langsung, dan game.
Baik manufaktur di Jawa Timur maupun industri digital sekelas Netflix, keduanya sama-sama berjuang menghadapi satu realitas: ketidakpastian lanskap ekonomi global 2026.
sumber bacaan: bisnis, malang-times, cnn-indonesia

0 comments :
Post a Comment