Oktober 2026: Antara Awal Hujan dan Kekeringan
![]() |
| hujan di oktober |
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap dinamika cuaca yang kontras di Indonesia selama Dasarian I Oktober 2026. Di satu sisi, sebagian kecil wilayah mulai memasuki musim hujan. Namun di sisi lain, mayoritas wilayah Indonesia justru menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena iklim global.
Awal Musim Hujan yang Belum Merata
Berdasarkan analisis Perkembangan Musim Dasarian I Oktober 2026, baru sekitar 7,6 persen wilayah Indonesia (53 dari 699 Zona Musim/ZOM) yang telah resmi memasuki musim hujan. Wilayah yang sudah mulai diguyur hujan ini meliputi sebagian besar Aceh dan Sumatera Utara, serta sebagian kecil Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Riau.
Secara umum, curah hujan di Indonesia pada awal Oktober ini masih sangat bervariasi dengan dominasi kriteria Rendah sebesar 83,85 persen, diikuti kriteria Menengah 14,42 persen, dan kriteria Tinggi yang hanya mencapai 1,73 persen. Sifat hujan pun mayoritas berada pada kategori Bawah Normal (87,72 persen). Meskipun curah hujan nasional rendah, BMKG tetap mengeluarkan Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi untuk Dasarian II Oktober 2026. Status Siaga dan Waspada diberlakukan untuk beberapa kabupaten/kota di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.
Dampak El Nino Intensitas Sangat Kuat
Lambatnya kedatangan musim hujan ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer global. Hasil monitoring BMKG menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian berada di angka +0,0703. Sementara itu, nilai anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di region Nino3.4 mencapai +3,33 dengan indeks ENSO tiga bulanan (Agustus-September-Oktober) sebesar +3,08. Angka ini mengonfirmasi terjadinya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang menekan pertumbuhan awan hujan.
Peringatan Dini Kekeringan Masif
Akibat El Nino yang kuat, BMKG merilis peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku sepanjang Dasarian II Oktober (11–20 Oktober 2026). Wilayah yang masuk dalam status peringatan terbagi menjadi tiga kategori:
Menghadapi situasi ini, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang masih mengalami kemarau untuk menghemat penggunaan air bersih, menghindari pembakaran lahan atau sampah, serta terus memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala.
sumber bacaan: cnn-indonesia, bmkg, valid-news
Awal Musim Hujan yang Belum Merata
Berdasarkan analisis Perkembangan Musim Dasarian I Oktober 2026, baru sekitar 7,6 persen wilayah Indonesia (53 dari 699 Zona Musim/ZOM) yang telah resmi memasuki musim hujan. Wilayah yang sudah mulai diguyur hujan ini meliputi sebagian besar Aceh dan Sumatera Utara, serta sebagian kecil Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Riau.
Secara umum, curah hujan di Indonesia pada awal Oktober ini masih sangat bervariasi dengan dominasi kriteria Rendah sebesar 83,85 persen, diikuti kriteria Menengah 14,42 persen, dan kriteria Tinggi yang hanya mencapai 1,73 persen. Sifat hujan pun mayoritas berada pada kategori Bawah Normal (87,72 persen). Meskipun curah hujan nasional rendah, BMKG tetap mengeluarkan Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi untuk Dasarian II Oktober 2026. Status Siaga dan Waspada diberlakukan untuk beberapa kabupaten/kota di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.
Dampak El Nino Intensitas Sangat Kuat
Lambatnya kedatangan musim hujan ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer global. Hasil monitoring BMKG menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian berada di angka +0,0703. Sementara itu, nilai anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di region Nino3.4 mencapai +3,33 dengan indeks ENSO tiga bulanan (Agustus-September-Oktober) sebesar +3,08. Angka ini mengonfirmasi terjadinya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang menekan pertumbuhan awan hujan.
Peringatan Dini Kekeringan Masif
Akibat El Nino yang kuat, BMKG merilis peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku sepanjang Dasarian II Oktober (11–20 Oktober 2026). Wilayah yang masuk dalam status peringatan terbagi menjadi tiga kategori:
- Kategori AWAS (Risiko Tertinggi): Mencakup seluruh wilayah Provinsi DI Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Status ini juga berlaku di beberapa wilayah Bali, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Papua Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Selatan.
- Kategori SIAGA: Meliputi beberapa wilayah di Bali, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua Selatan.
- Kategori WASPADA: Menimpa beberapa wilayah di Bali, Jawa Tengah, NTB, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Menghadapi situasi ini, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang masih mengalami kemarau untuk menghemat penggunaan air bersih, menghindari pembakaran lahan atau sampah, serta terus memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala.
sumber bacaan: cnn-indonesia, bmkg, valid-news

0 comments :
Post a Comment