Dari Taufik ke Ubed: Estafet Mental Juara Bulutangkis Beregu Putra Indonesia
![]() |
| sang legenda taufik |
Dari bangku penonton Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Aichi, ketegangan itu mengental. Indonesia sempat di ambang karam, tertinggal dua angka lebih dulu dari Tiongkok. Namun, malam itu, Kamis, 24 September, takdir berkata lain. Lewat sebuah comeback yang menguras saraf, tim bulu tangkis beregu putra Indonesia membalikkan ramalan. Di partai penentu, pundak muda Moh Zaki Ubaidillah—yang akrab disapa Ubed—berhasil memikul beban sejarah dengan menundukkan Weng Hongyang. Skor akhir 3-2. Medali emas pertama untuk Merah Putih di Asian Games 2026 akhirnya pecah telur.
Kemenangan dramatis ini langsung mengubah peta di papan klasemen. Seperti roket, posisi Indonesia yang semula terbenam di urutan ke-23 langsung melesat ke peringkat 16 pada penutupan hari Kamis. Kontingen kebanggaan Tanah Air kini mengantongi satu emas, empat perak, dan 15 perunggu—sebuah napas baru setelah lima hari berdarah-darah tanpa satu pun logam mulia di tangan.
Kabar gembira ini menjalar cepat melintasi batas negara, mengetuk pintu Istana. Lewat sambungan telepon video yang diunggah ke jagat maya, Presiden Prabowo Subianto tak mampu menyembunyikan rasa sukacitanya. "Malam ini saya menerima sambungan telepon dan mendapatkan kabar gembira dari para atlet Indonesia," tulis sang Presiden di Instagram.
Di sudut lain, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut kemenangan ini bukan sekadar perkara naik podium. Ini adalah pembuktian harga diri. "Kemenangan ini sangat istimewa karena setelah 28 tahun, Indonesia kembali meraih emas beregu putra bulu tangkis di Asian Games. Terakhir kali kita mendapatkan emas dari nomor ini adalah pada 1998," ujar Erick. Bagi Erick, malam di Aichi adalah bukti sahih bahwa jika dipersiapkan dengan matang, Indonesia tak pernah inferior di hadapan raksasa Asia.
Namun, drama di Ichinomiya malam itu tak hanya milik para jawara muda. Di pinggir lapangan, ada bayang-bayang masa lalu yang ikut bertanding: Taufik Hidayat. Sang legenda, yang kini mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, hadir menyaksikan langsung bagaimana lentera kejayaannya di masa lalu kini resmi diestafetkan kepada Ubed dan kawan-kawan.
Bicara Asian Games adalah membaca kembali riwayat Taufik. Ia adalah anomali—tunggal putra pertama sekaligus terakhir dari Indonesia yang mampu menggenggam emas secara beruntun (back-to-back).
Hikayatnya dimulai pada Asian Games 1998 di Bangkok. Dalam usia yang baru menginjak 17 tahun, Taufik tampil layaknya gladiator senior. Ia menjadi penentu kemenangan telak 4-0 atas Tiongkok setelah menekuk Luo Yigang di partai krusial nomor beregu. Empat tahun berselang, di Busan 2002, keangkuhannya di lapangan menjinakkan wakil tuan rumah Lee Hyun-il lewat permainan dua gim langsung. Puncaknya membekas di Doha 2006, ketika ia membungkus emas perorangan kedua setelah membungkam rival abadi, Lin Dan, 21-15 dan 22-20.
Malam itu di Ichinomiya, Taufik barangkali tidak lagi memegang raket. Namun, dari tatapan matanya, bara api Bangkok itu seperti telah berpindah sepenuhnya, membakar dada Ubed sebagai penerus takhta mental juara yang menolak menyerah di bawah kepungan Tiongkok.
Kemenangan dramatis ini langsung mengubah peta di papan klasemen. Seperti roket, posisi Indonesia yang semula terbenam di urutan ke-23 langsung melesat ke peringkat 16 pada penutupan hari Kamis. Kontingen kebanggaan Tanah Air kini mengantongi satu emas, empat perak, dan 15 perunggu—sebuah napas baru setelah lima hari berdarah-darah tanpa satu pun logam mulia di tangan.
Kabar gembira ini menjalar cepat melintasi batas negara, mengetuk pintu Istana. Lewat sambungan telepon video yang diunggah ke jagat maya, Presiden Prabowo Subianto tak mampu menyembunyikan rasa sukacitanya. "Malam ini saya menerima sambungan telepon dan mendapatkan kabar gembira dari para atlet Indonesia," tulis sang Presiden di Instagram.
Di sudut lain, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut kemenangan ini bukan sekadar perkara naik podium. Ini adalah pembuktian harga diri. "Kemenangan ini sangat istimewa karena setelah 28 tahun, Indonesia kembali meraih emas beregu putra bulu tangkis di Asian Games. Terakhir kali kita mendapatkan emas dari nomor ini adalah pada 1998," ujar Erick. Bagi Erick, malam di Aichi adalah bukti sahih bahwa jika dipersiapkan dengan matang, Indonesia tak pernah inferior di hadapan raksasa Asia.
Namun, drama di Ichinomiya malam itu tak hanya milik para jawara muda. Di pinggir lapangan, ada bayang-bayang masa lalu yang ikut bertanding: Taufik Hidayat. Sang legenda, yang kini mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, hadir menyaksikan langsung bagaimana lentera kejayaannya di masa lalu kini resmi diestafetkan kepada Ubed dan kawan-kawan.
Bicara Asian Games adalah membaca kembali riwayat Taufik. Ia adalah anomali—tunggal putra pertama sekaligus terakhir dari Indonesia yang mampu menggenggam emas secara beruntun (back-to-back).
Hikayatnya dimulai pada Asian Games 1998 di Bangkok. Dalam usia yang baru menginjak 17 tahun, Taufik tampil layaknya gladiator senior. Ia menjadi penentu kemenangan telak 4-0 atas Tiongkok setelah menekuk Luo Yigang di partai krusial nomor beregu. Empat tahun berselang, di Busan 2002, keangkuhannya di lapangan menjinakkan wakil tuan rumah Lee Hyun-il lewat permainan dua gim langsung. Puncaknya membekas di Doha 2006, ketika ia membungkus emas perorangan kedua setelah membungkam rival abadi, Lin Dan, 21-15 dan 22-20.
Malam itu di Ichinomiya, Taufik barangkali tidak lagi memegang raket. Namun, dari tatapan matanya, bara api Bangkok itu seperti telah berpindah sepenuhnya, membakar dada Ubed sebagai penerus takhta mental juara yang menolak menyerah di bawah kepungan Tiongkok.

0 comments :
Post a Comment